Ip Man 4 : The Finale Narasi Pamungkas Sang Grandmaster
MEDIUS • Film • Resensi
Ip Man 4 : The Finale Narasi Pamungkas Sang Grandmaster
Ius Artanto • Minggu, 05 Januari 2020 09:40 WIB
Film Ip Man 4: The Finale (2019) menjadi narasi pamungkas dari perjalanan hidup Ip Man. Aktor Donnie Yen masih berperan sebagai Ip Man, yang digambarkan hidup menduda, menua, dan mengidap penyakit kanker leher. Meski usia tak lagi muda dan kondisi fisik tak prima, Ip Man masih tangkas memperlihatkan keampuhan kung fu Wing Chun. Inilah biopic (biography picture) komplit yang menguak kiprah Sang Grandmaster sebagai praktisi bela diri hingga ajal menjemputnya. Menariknya, sejak film seri awal, kisah hayatnya didasarkan dari cerita kedua putranya, Ip Ching dan Ip Chun. Walau hanya sekadar film, setidaknya, ada beberapa kisah yang memang benar-benar terjadi lantaran didasarkan dari sumber primer.  
 
Bagi pemerhati genre film kung fu dipastikan sudah sepakat, bahwa, kisah para pendekar kung fu yang melegenda telah banyak difilmkan. Sejumlah aktor laga pun mencoba memerankan para jagoan kung fu tersebut. Di antaranya, Meng Fei, Fu Sheng, dan Jet Li pernah memerankan sosok Fang Shi Yu (Pahlawan Shaolin). Chen Kuan Tai melakonkan tokoh Hung Shi Kwan (Pahlawan Shaolin). Michelle Yeoh melebur dalam karakter Yim Wing Chun (penggagas Wing Chun), Yuen Siu Tien dan Vincet Zhao memainkan sosok Beggar Su (Sang Pencetus Jurus 8 Dewa Mabok), Jayden Yuan Xiao Chao berakting sebagai Yang Lu Chan (Master Tai Chi), dan Donnie Yen menghidupkan tokoh Ip Man (Grandmaster kung fu Wing Chun). Tak berlebihan - tanpa mengabaikan Jet Li yang telah sukses memerankan tokoh kung fu legendaris Wong Fei Hung - Donnie Yen pun mampu melanggengkan kisah kehidupan Ip Man dalam tetralogi film Ip Man (1-4) dengan gemilang.   
 
Dalam Ip Man seri ke-4, aktor Donnie Yen masih menjadi tokoh sentral untuk menuntaskan babak akhir narasi kehidupan Ip Man, Sang Guru Besar aliran Wing Chun. Beragam kisah tentang Ip Man lainnya pun sudah pernah difilmkan lewat judul Ip Man: The Legend is Born (Dennis To/2010), Ip Man: The Final Fight (Anthony Wong/2013), The Grandmaster (Tony Leung/2013), dan Master Z: Ip Man Legacy (Max Zhang/2018). Sekadar catatan, khusus film Master Z: Ip Man Legacy merupakan spin-off dari karakter Cheung Tin Chi di film Ip Man 3. Namun, menariknya, film Ip Man versi Donnie Yen memunculkan sosok Si Raja Kung Fu, Bruce Lee.  
 
Dikisahkan pada 1964, Ip Man mendapat undangan dari Bruce Lee (Chan Kwok-Kwan) untuk menghadiri ajang kumite dari bela diri karate di San Francisco, Amerika Serikat. Semula Ip Man menolak datang, meski tiket sudah disiapkan Bruce Lee. Namun, seiring dengan keinginan Ip Man untuk menyekolahkan putranya Ip Ching (Ye He) ke Amerika, Ip Man akhirnya hadir juga menyaksikan pertandingan mantan muridnya itu.
 
Ip Man memang sangat kagum dengan usaha dan pencapaian Bruce Lee atas bela diri kung fu. Tapi tidak bagi para master kung fu yang telah lama tinggal di Amerika. Bagi mereka, Bruce Lee sudah melanggar tradisi, bahwa, seni bela diri kung fu pantang diajarkan di luar Cina. Tapi Ip Man berpendapat lain. Ip Man justru mendukung upaya Bruce Lee yang memperkenalkan kung fu kepada warga non-Cina di Amerika. Tentu, cara pandang kontradiktif ini, yang akhirnya memicu ketegangan dan perselisihan antara Ip Man dengan Wan Zong Hua (ketua Chinese Consolidate Benevolent Association/CCBA), semacam perkumpulan Asosiasi masyarakat Tionghoa. Perseteruan ini berbuntut penolakan Wan memberikan surat rekomendasi terhadap putra Ip Man untuk bersekolah. Perkumpulan ini beranggotakan para master dari berbagai aliran kung fu; Tai Chi, Coy Lee Fut, Mantis Fist, Crane Fist, Hung Gar, dan lain-lain.  
 
Kejengkelan Wan terhadap Ip Man masih berlanjut. Di lain kesempatan, Wan menantang bertarung Ip Man di rumahnya. Masing-masing saling menunjukkan jurus ampuh aliran kung funya. Pada scene ini, tentu menjadi adegan yang repetitif dari film-film sebelumnya. Demikian pula, tatkala Ip Man bertarung dengan Colin Frater (Chris Collins) dan Barton Geddes (Scott Adkins), serupa dengan adegan kelahi antara Ip Man dengan Sammo Hung atau Mike Tyson. Superior kung fu melalui media film kerap mempecundangi seni berla diri karate atau tinju. Coba simak film Fist of Fury (1972), Enter the Dragon (1973), Fist of Legend (1994), Fearless (2006), Master Z: Ip Man Legacy (2018), dan lain-lain. Namun, terlepas dari subyektivitas dan superioritas mengenai kung fu terhadap karate, Bruce Lee pernah menyatakan dalam suatu wawancara tentang perbedaan antara karate dengan kung fu, “The karate punch is like an iron bar. A kung fu punch is like an iron chain with an iron ball attached to the end… ” 
 
Sementara terkait dengan narasi Ip Man 4 yang menyoroti konflik antara etnis oriental dengan kaum bule makin mencuatkan isu rasis. Segala konflik antara etnis Cina dengan kaum kulit putih terus bergulir menjadi problem pelik, yang secara tidak sengaja justru melibatkan Ip Man dalam suatu perkara, yakni, ketika gadis bernama Yonah (Vanda Margraf) - putri semata wayang master Wan - dianiaya oleh para bule di sekolahnya. Mensiasati situasi yang mengacancam dirinya, Yonah mencoba membela diri dan secara tidak sengaja melukai Becky (Grace Englert). Kebetulan Ip Man berada di tempat kejadian. Ia mencoba membantu Yonah yang semakin terdesak dan terluka akibat pukulan bertubi dari beberapa pria. Akibat luka yang diderita Yonah diantar Ip Man pulang ke rumah. Sedangkan Becky yang mengalami luka di bagian pipi, ia kemudian mengadu kepada ibunya sehingga berbuntut panjang dengan melibatkan ayah Becky yang militer.
 
Film yang disutradarai Wilson Yip yang juga dikenal dengan nama Yip Wai-Shun ini, masih melakukan racikan yang sama dengan seri terdahulu; menghadirkan dua jago kung fu yang siap bertarung. Inilah konsukuensi logis dari genre kung fu dalam hukum sebab-akibat, oposisi biner, balas dendam tatkala unsur konflik  harus hadir agar memantik adegan perkelahian yang maha seru.
 
Meski begitu, paparan mengenai pertarungan Ip Man dengan berbagai lawannya – sejak usia belia dan menua, tetap menjadi fakta historis dan kisah yang benar terjadi. Meski Ip Man sudah menua, ia tetap terlihat kuat, tangkas, enerjik, dan mampu menaklukkan lawan menggunakan kung fu Wing Chun yang cenderung defensif namun dituntaskan dengan tinju beruntun dan totok jari ampuhnya. Mozaik perjalanan dan perjuangan hidup Ip Man sebagai ahli martial arts kung fu Wing Chun, nampaknya mampu disenambungkan dan direkonstruksi apik oleh Donnie Yen lewat film Ip Man (2008), Ip Man 2 (2010), Ip Man 3 (2015), dan Ip Man 4 (2019).
 
Sebagai tokoh kung fu legendaris, Ip Man boleh disejajarkan dengan Jee Sim Sin See, Chen Fake, Zheng Sanfeng, Yim Wing Chun, Yang Lu Chan, Wong Fei Hung, Huo Yuanjia, pun Bruce Lee, yang tercatat sebagai pendekar atau master dari aliran kung funya masing-masing. Meski Bruce Lee adalah murid dari Ip Man. Namun, dalam perkembangannya, Bruce Lee sanggup menciptakan aliran baru yang dinamakan Jeet Kune-do, hasil dari modifikasi kung fu Wing Chun. Bahkan, Bruce Lee sangat berjasa dalam mengajarkan seni bela diri kung fu melalui perguruan kung funya bernama Jun Fan Gung Fu kepada publik non-Cina di Amerika. Bukan itu saja. Berkat sejumlah filmnya, Bruce Lee pun mampu memperkenalkan kung fu kepada masyarakat dunia.
 
Terkait dengan Bruce Lee, Ip Man adalah seorang guru kung fu yang mampu mengajarkan Bruce Lee dasar-dasar teknik Wing Chun, yang kemudian dikembangkan Bruce Lee terhadap para muridnya. Bahkan para muridnya itu, ia dilibatkan dalam film-film kung funya. Berkat jasa Ip Man, Bruce Lee dapat menjadi ahli bela diri kung fu. Tak heran jika sejak memasuki akhir tahun 2000-an hingga sekarang, kemudian bermunculan film-film mengenai Ip Man. Namun, film Ip Man versi Donnie Yen yang paling menarik minat para penggemar genre film kung fu.
 
Jika keempat film Ip Man ini sukses, tentu bukan semata perkara daya tarik kisah kehidupan Ip Man. Semua berkat dukungan produser, sutradara, dan penulis skenario. Dan yang terpenting, para selebritis yang terlibat dalam adegan kelahi di tetralogi film Ip Man, mereka bukan cuma aktor laga yang pandai berakting. Tapi mereka juga praktisi bela diri sesunguhnya. Selain Donnie Yen yang juga praktisi kung fu, tercatat nama Sammo Hung, Mark Zhang, Wu Yue, Xing Yu, Siu Wong Fan, Mike Tyson, dan Scott Adkins, yang mampu menjadi magnet untuk semua film Ip Man. Selain itu, peran action director yang ditangani Yuen Woo-ping, Donnie Yen, Sammo Hung, juga memiliki kontribusi yang besar dalam menciptakan adegan-adegan jurus kung fu yang memikat.
 
Film tetralogi Ip Man memang layak menjadi salah satu representasi genre kung fu pada zaman milenial, pasca kejayaan para bintang laga produksi Shaw Brothers, Hong Hwa International Films, Golden Harvest, dan Seasonal Film Corporation pada dekade 1970-an hingga 1980-an. Meski secara rentang waktu (1990-an dan 2000-an) para aktor dan aktris laga yang beraksi di layar lebar tercatat nama Donnie Yen, Jet Li, Vincent Zhao, Max Zhang, Michelle Yeoh, Zhang Zi Yi, Wu Jing, dan lainnya.


(Ius Artanto/IM)
MUSTPEAK