Lenyapnya Arca Majapahit (Cerita Bersambung - Bagian 4)
MISTERIUS • Cerita
Lenyapnya Arca Majapahit (Cerita Bersambung - Bagian 4)
Popie S. Hanjani • Kamis, 02 Januari 2020 16:28 WIB
Sore itu, Cafe Dingklik yang interiornya didominasi etnik Jawa, nampak mulai ramai. Banyak yang hang-out, selepas kerja mampir sejenak lantaran enggan melanjutkan perjalanan melihat jalan MT. Haryono sudah padat merayap.
 
Di sisi kiri pintu masuk, Julang dan Gagas memilih posisi duduknya. Sesekali mereka memperhatikan para pengunjung yang lewat. Meski cafe tersebut bercorak Jawa, namun lagu yang terdengar di sela-sela riuhnya obrolan para tamu, tak menyulitkan telinga untuk menebak lagu yang diputar operator. Lagu berjudul Woman yang dilantunkan John Lennon petikan album Double Fantasy yang dirilis 1980, masih kuat menghujam kenangan. Setidaknya bagi Julang dan Gagas.
            “Jadi inget teman kita yang cewe-cewe di SMA dulu, Jur?!”
            “Pastinya. Kalo lagu seperti ini gua ingat Mimi dan Nani.”
            “Betul banget. Mereka berdua kalo di kelas suka banget nyanyi lagu Woman, walau suaranya fales. Tapi kita asyik aja dengarnya, karena tampang mereka memang cakep sih,” sambar Gagas sembari tertawa. Julang pun ikut tertawa.
 
            Tak berapa lama, pelayan menghampiri mereka menyodorkan daftar menu. Lalu Julang memesan minum dan makanan ringan. Lalu memperhatikan Gagas, yang mulai tengak-tengok.
 
“Gas, masih aja clingak-clinguk lihat cewe kece?”
            “Naluri Lelaki, Jur,” balas Gagas seolah butuh pemakluman.
            “Emang yang di rumah ngga cukup?”
            “Yaelah, Jur. Ini kan sekadar hiburan sesaat. Ngga ada hubungannya dengan kesetiaan,” jelas Gagas rada serius.
            “Canda lagi, Gas. Gue tau lu tipe lelaki setia.”
            “Makanya cari lagi yang baru, Jur. Sudah saatnya lo musti move on. Istri lo meninggal sudah lima tahun lalu.”
            “Gue bukan ngga mau cari lagi, Gas. Gua masih belum bisa tenang, sebelum gua bisa menangkap dan mengungkap siapa pembunuh istri gua.”
 
            Julang mulai mengenang. Lima tahun lalu, kala Julang sedang bertugas, malam itu istrinya sedang sendiri di rumah. Dua asisten rumah tangga yang bekerja di rumah Julang, minta izin pamit pulang kampung lantaran orangtuanya sakit keras. Tanpa dinyana, perampok yang terdiri tiga orang berhasil masuk ke dalam rumah. Belum sempat menggasak harta berharga, istri Julang bernama Rasti memergoki perampok tersebut.
 
Dalam kondisi tak terduga, akhirnya perampok berhasil membekap mulut Rasti, dan perampok yang lain lalu  menusukkan pisau ke lambung bagian atas Rasti. Beberapa saat kemudian Rasti roboh bersimbah darah. Peristiwa tragis tersebut diperkirakan terjadi sekitar pukul 3 dini hari. Pukul 7 pagi, polisi segera datang ke TKP, setelah sebelumnya Julang pada pukul 6.00 pagi menghubungi telpon rumah dan hp istrinya, tapi tak ada jawaban. Curiga akan keadaan dan keamanan istrinya, ia menghubungi kantor. Dari hasil olah TKP, tak ada satu petunjuk yang berhasil mengungkap siapa pembunuhnya. Sejalan waktu bergulir, kasus itu akhirnya dilupakan.  (bersambung)


(Popie S. Hanjani/IM)
MUSTPEAK