Pesona Negeri Para Dewa
KOLEKSIUS • Destinasi
Pesona Negeri Para Dewa
Ius Artanto • Kamis, 28 November 2019 13:07 WIB
Kau mainkan untukku...
Sebuah lagu tentang negeri di awan...
Di mana kedamaian menjadi istananya
Dan kini, telah kau bawa aku menuju ke sana...
 
Penggalan lirik lagu di atas yang diciptakan Andre Manika dan Katon Bagaskara berjudul Negeri Di Awan petikan album bertitel Katon Bagaskara (1993), seolah melekatkan akan ingatan kita tentang keindahan awan yang mengawang di antara gunung-gunung di wilayah dataran tinggi Dieng, Wonosobo-Banjanegara, Jawa Tengah. Secara etimologi, kata Dieng berasal dari bahasa Kawi (Jawa Kuno) melalui penggabungan dua kata; Di yang memiliki arti gunung dan Hyang yang bermakna Dewa. Simpul kata, Dieng berarti gunung tempat para Dewa. 
 
Sekilas Segala Pesona
 
Secara geografis, wilayah Dieng Plateau merupakan dataran tertinggi kedua di dunia setelah negara Nepal di pegunungan Himalaya. Dataran Tinggi Dieng memang merupakan daerah yang di kelilingi bukit atau gunung-gunung menjulang, antara lain, gunung Prau, Sikunir, Sindoro, Sumbing, Merbabu, dan Merapi. Di sisi lain, Dieng juga dikitari wilayah Kabupaten Banjarnegara dan Wonosobo. Dataran tinggi Dieng memiliki rerata setinggi 2000 meter di atas permukaan laut. Suhu di Dieng pada siang hari mencapai 12 – 20 derajat Celcius. Sedangkan malam suhunya sekitar 6 hingga 10 derajat Celcius.
 
Sedangkan secara geologis, dataran tinggi Dieng merupakan daerah vulkanik aktif yang banyak memiliki pesona destinasi yang beragam. Ada gunung atau bukit (Prau dan Sikunir), sejumlah kawah (Candradimuka, Sikidang, Sileri), komplek percandian (candi Arjuna, Semar, Srikandi, Puntadewa, Sembadra),  beberapa telaga (telaga Merdada, telaga Warna, telaga Cebong, telaga Pengilon), sumur Jalatunda, Museum Kailasa, serta hamparan botani yang cukup meletupkan  decak kagum karena keunikannya.
 
Salah satu keunikan yang bisa dicermati adalah tentang pohon sejenis papaya bernama carica yang berbuah mini. Anehnya, jika  pohon tersebut ditanam di luar Dieng, maka buah carica itu  tak lagi berwujud mungil, melainkan menjadi besar seperti papaya pada lazimnya. Di Dieng buah carica dapat dibuat minuman yang menyegarkan. Selain carica ada kentang bulat berukuran kecil, setelah dimasak kemudian dihidangkan di warun-warung di tempat turunnya para pendaki dari bukit Sikunir.
 
Pohon dan buah Carica
Pohon dan buah Carica
 
Adapun keunikan lainnya yang cenderung bernuansa gaib dan mistis sebagai bagian dari daya tarik budaya dan historisnya, yakni, kehadiran Anak Bajang – bocah berambut gimbal – yang konon merupakan anak kesayangan para roh penunggu dataran tinggi Dieng.
 
Berdasar catatan sejarah sejak abad ke-7 Masehi, Dataran Tinggi Dieng sudah dihuni oleh masyarakat beragama Hindu. Indikasinya bisa dilihat dari sejumlah peninggalan candi-candi yang identik dengan kekhasan gaya arsitektur Hindu yang dibangun sekitar tahun 800-an Masehi, seperti wangsa Sanjaya atau kerajaan Mataram Kuno yang bermukim di sekitar daerah candi Prambanan Kabupaten Klaten.
 
Candi-candi tersebut juga berada di dataran bukit dengan suhu yang sangat dingin sekitar 8 hingga 12 derajat. Meski, misalnya,  tak harus mendaki ke puncak gunung Prau, Sikunir, dan lainnya,  tubuh kita tetap merasa kedinginan. Walau begitu, kita pun bisa menyaksikan  awan dan kabut pada pagi hari serta jelang siang dan sore yang mengambang menyelimuti lereng gunung atau bukit. Apalagi jika kita berada di puncak ketinggian gunung atau bukit (Prau atau Sikunir), maka kawasan Dieng memang seperti Negeri di Atas Awan. Panoramanya begitu indah menakjubkan, ketika sunrise atau sunset  berlangsung.  Awan-awan terlihat bergulung dan menggumpal yang semula putih, dan kemudian menyemburatkan warna jingga dan kemerahan yang magnetik.
 
Pesona Komplek Candi
 
Komplek bangunan candi yang berada di desa Dieng Kulon, Kecamatan Batur, Kabupaten Banjanegara menjadi salah satu daya pikat wisatawan. Di dalam komplek terdapat lima candi; Arjuna, Semar, Srikandi, Puntadewa, Sembadra, seperti komplek bangunan candi yang berlokasi di gunung Ungaran, Semarang.
 
Komplek Candi Dieng
Komplek Candi Dieng
 
Berdasarkan data arkeologis, candi Arjuna berlokasi paling utara - yang berhadapan dengan candi Semar –  merupakan sebagai candi utama. Sedang candi semar menjadi candi perwara atau pelengkap dari candi Arjuna.  Candi Arjuna bisa dibilang, salah satu candi  yang berposisi paling tinggi dan tertua di Jawa. Meski, ada pula beberapa candi berada di tempat tertinggi dan cukup tua, antara lain, candi Cetho (gunung Lawu, Karang Anyar, Jawa Tengah), candi Liyangan (lereng timur gunung Sindoro, Temanggung, Jawa Tengah), candi Gedhung Songo (lereng gunung Ungaran, Semarang, Jawa Tengah), candi Gunung Wukir (bukit Wukir di lereng barat Merapi, Magelang, Jawa Tengah), candi Gunungsari (puncak bukit Sari, Magelang), candi Penataran (lereng barat daya gunung Kelud, Blitar, Jawa Timur), serta beberapa arca, candi, dan pertirtaan di gunung Penaggungan, Mojokerto, Jawa Timur. 
 
Komplek candi peninggalan agama Hindu atau Kerajaan Mataram Kuno di Dieng ini, berdasarkan prasastinya dibangun kekira pada awal abad ke-7 atau sekitar tahun 731 Caka (tahun 809 Masehi) lebih tua dari candi Prambanan atau candi Roro Jonggrang yang dibangun sejak tahun 850 Masehi.
 
Komplek candi Dieng ini, kali pertama ditemukan pada 1814 oleh Theodorf van Elf, seorang serdadu Belanda, dalam kondisi terendam air telaga. Upaya ekskavasi baru dilakukan 40 tahun kemudian oleh H.C. Cornelius (Inggris), dan dilanjutkan oleh J. Van Kinsbergens (Belanda). Maka, dari ekskavasi yang dilakukan mereka, destinasi Dieng semakin mempesona, seperti berbagai upaya ekskavasi yang dilakukan Inggris dan Belanda terhadap semua candi yang ada di Indonesia, macam Borobudur, Prambanan, Mendut, Candi Tikus, dan lain-lain.
 
Pesona Sejumlah Kawah
 
Dieng juga sudah sejak lama dikenal dengan wilayah banyak kawah. Kawah Sileri merupakan kawah terluas dan paling aktif. Bahkan pernah erupsi pada 1944, 1964, 1984, 2003, dan 2009. Posisi kawah Sileri terletak di Desa Pekasiran, Kecamatan Batur, Kabupaten Banjarnegara, yang dikelilingi sejumlah bukit, yaitu bukit Bima Sakti, Semancar, Gajah Mungkur, dan Penglimuran. Menurut telusur historis dan etimologi, nama Sileri terkait dengan legenda yang sohor di masyarakat Dieng. Sileri berasal dari kata bahasa Jawa leri yang berarti air beka mencuci beras. Artinya, bila dilihat dari arah atas, kawah Sileri berair keruh seperti air bekas mencuci beras.
 
Kawah Sileri
Kawah Sileri
 
Selanjutnya, kawah Candradimuka terletak di daerah yang sama dengan kawah Sileri. Kawah Candradimuka terbentuk melalui proses alamiah akibat aktivitas vulkanik yang dahsyat. Kawah ini juga dikenal dengan letupan yang diiringi suara gemuruh. Dan hingga kini, kawah Candradimuka masih dalam kondisi aktif. Meski begitu, wisatawan dapat melihat aktivitas kawah dari berbagai sudut pandang.
 
Kawah Candradimuka
 
Sedangkan kawah Sikidang merupakan kawah yang paling banyak dikunjungi wisatawan. Berlokasi di Desa Dieng Kulon, Kecamatan Batur, Banjarnegara. Nama Sikidang diberikan karena gejolak magma di kawah tersebut selalu berpindah seperti kijang. Uniknya, sekadar info, di kawah ini wisatawan bisa merebus telur karena airnya memang panas.
 
Kawah Sikidang
Kawah Sikidang
 
Usai membahas destinasi gunung atau bukit, pohon carica, komplek percandian, serta kawah berasap, ada yang menarik pun unik di sekitar Dieng, yaitu, mengenai kehidupan anak berambut gimbal atau juga dikenal sebagai Anak Bajang.
 
Pesona Anak Bajang
 
Anak Bajang yang hidup di Dataran Tinggi Dieng, kisahnya memang  berbeda dengan novel sastra karya Sindhunata berjudul Anak Bajang Menggiring Angin. Anak Bajang versi Dieng lebih merupakan perkara rambut gimbal, yang kemudian jadi legenda atau mitos yang dikisahkan dan terjadi secara terun-temurun. Meski begitu, rambut gimbal yang tumbuh di kepala Anak Bajang bukanlah buatan. Rambut gimbal muncul begitu saja, yang mirip dengan rambut milik penyanyi reggae Bob Marley - dengan rambut model rasta look-nya – asal Jamaica itu.
 
Ada beberapa versi kisah yang melatari fenomena Para bocah bajang atau anak berambut gimbal. Lazimnya mitos, kerap muncul beragam cerita yang menjadi cikal-bakal mengenai ceritanya. Versi pertama, menurut legenda, anak berambut gimbal adalah keturunan Putri Sinta Dewi yang dikutuk oleh Pangeran Kidang Garungan – sosok yang menjadi awal dari legenda kawah Sikidang. Pangeran Kidang Garungan yang dipendam atau dikubur hidup-hidup oleh Putri Sinta Dewi sebelum menemui ajalnya sempat mengutuk seluruh keturuan Sang Putri akan berambut gimbal atau gembel. 
 
 
Anak Bajang di Dieng
Anak Bajang di Dieng (Foto oleh Sicyl)
 
Sementara kisah lainnya sebagai versi kedua, Anak Bajang selalu diistimewakan. Sebab, anak-anak itu adalah kesayangan roh-roh gaib penunggu dataran Tinggi Dieng, yang dititipkan penguasa Laut Selatan, Nyi Roro Kidul. Dan pada waktunya nanti, anak-anak itu akan diminta kembali oleh Sang Ratu.
 
Sedangkan versi ketiga, yakni, yang dianggap beredar kuat di masyarakat bahwa, Anak Bajang sejak awal bukan anak biasa. Dia merupakan keturunan seorang yang pertama kali menginjakkan kaki di Dieng dan melakukan “babat alas” atau buka lahan di wilayah dataran tinggi Dieng. Dia adalah Kiai Kaladete yang bersumpah tak akan memotong rambutnya dan tak akan mandi sebelum desa yang dibukanya makmur. Kelak keturunannya akan memiliki ciri seperti dirinya. Dari ketiga versi tersebut, terserah mau percaya kisah yang mana. Toh sah saja.
 
Utamanya, faktanya, Anak Bajang benar ada dan benar terjadi. Kronologinya, awalnya ketika lahir, Anak Bajang lahir normal. Setelah setahun, akan muncul tanda unik di kepalanya, ketika rambutnya mulai tumbuh gimbal. Biasanya, sebelum tumbuh rambut gimbal, anak tersebut didahului sakit demam tinggi. Namun, anehnya, saat dibawa ke dokter, si anak tidak menderita sakit apapun. Berselang lima hingga tujuh hari demamnya akan menurun dan kemudian ada cikal rambut gimbal yang tumbuh di kepala sang Anak.
 
Tatkala rambut gimbal sudah terlihat di kepala, si anak akan ceria kembali dan bermain layaknya anak-anak lainnya. Hanya saja yang menarik perhatian, adanya rambut gimbal yang bersarang di rambutnya.
 
Rambut gimbal yang tumbuh di kepala anak-anak tersebut, tidak bisa dipangkas sembarangan. Harus ada ritual tertentu. Bahkan, jika ingin memotong harus minta izin dengan si anak. Jika tidak, anak tersebut akan menderita sakit berulang. Pun rambut gimbalnya akan tumbuh kembali.
 
Pemotongan rambut akan dilakukan, ketika si anak mulai mengajukan permintaan. Permintaan bisa bermacam. Ada yang minta tempe bacem dari tetangga atau hal lainnya yang kadang aneh. Biasanya orangtua si anak harus berpikir, bagaimana caranya memenuhi permintaan yang tak lazim itu. Biasanya si orangtua menggunakan simbol tertentu untuk memenuhi permintaan si anak, sejauh sesuai atas persetujuan si anak. Bila permintaan si anak dituruti, niscaya setelah dipotong rambut gimbalnya tak akan tumbuh lagi.
 
Proses pemotongan harus ada ritual atau ruwatan. Misalnya, pada pagelaran seni dan budaya Dieng Culture Festival.  Para bocah rambut gimbal atau anak bajang dicukur di komplek Candi Arjuna. Prosesinya sarat dengan kesakralan dalam tatanan budaya Jawa. Bagi anak bajang lelaki merupakan titisan Kiai Kaladete. Sedang yang perempuan titisan Nyai Dewi Roro Ronce, abdi Penguasa Pantai SDelatan Nyai roro Kidul.
 
Ritual biasanya dipandu oleh pemangku adat. Diawali dengan memotong rambut gimbal secara bergiliran. Biasanya, para bocah mengajukan permintaan yang beragam, yang terkadang agak aneh. Setelah pencukuran dan permintan dipenuhi, dipastikan rambut gembel tak akan tumbuh lagi.
 
Begitulah keunikan Dieng yang memiliki bermacam destinasi alam, budaya, serta mitos atau legenda. Maka itu pula, Dieng selalu menarik untuk dikunjungi oleh wisatawan dari berbagai penjuru.


(Ius Artanto/IM)
MUSTPEAK