Mengejar Matahari Ke Bukit Sikunir
KOLEKSIUS • Destinasi
Mengejar Matahari Ke Bukit Sikunir
Ius Yudo • Selasa, 26 November 2019 03:07 WIB
Setelah puas keliling kota Solo dan Klaten untuk menikmati kuliner khasnya, sekitar pukul 16.30, kami (saya, Iwan, Iskandar atau Nday, Nita, dan Teti) memutuskan bertolak menuju Dieng Plateau atau Dataran Tinggi Dieng. Sejak dari Jakarta, kami meluncur menggunakan sedan dengan memanfaatkan jalur tol. Demikian pula ketika kami berangkat dari Klaten menuju Dataran Tinggi Dieng. Tak dimungkiri, jarak tempuh via tol memang lebih cepat dan lancar.
 
Namun, ketika kami exit tol Bawen menuju jalur Ambarawa, kami mulai menghadapi jalan berliku yang dipadati iringan truk dan bis dari arah sebaliknya, plus udara dingin yang merasuk raga. Maka itu untuk menghangatkan tubuh, sejenak kami mampir di sebuah caffe pinggir jalan sembari istirahat dan ngobrol-ngobrol santai.
 
 
Boleh dibilang, caffe itu terbilang unik. Dibangun di atas area berbukit, dan di bawah bangunan caffe, pengunjung dapat melihat jalur rel kereta api kuno yang dahulu biasa mengangkut tebu melintas dari Ambarawa. Selain itu, caffe tersebut menyajikan aneka makanan dan minuman yang khas Jawa.
Selang beberapa menit kemudian, usai menikmati beberapa teguk kopi, wedang jahe, teh dan menyantap singkong dan pisang goreng, juga mie instan, kami kembali melanjutkan perjalanan. Tak lama kemudian, sedan pun terus melesat melewati sejumlah  kabupaten dan wilayah kota. Setiba di Temanggung - kota yang dijuliki sebagai Kota Tembakau - ternyata jam telah menunjukkan pukul 19.30. Setelah melewati kota Temanggung, suasana sunyi, langit yang pekat, suhu semakin dingin makin dirasakan oleh kami, tatkala mobil terus berpacu dengan berbagai tanjakan.
 
Meski meluncur dalam kegelapan malam tanpa penerangan lampu-lampu jalanan, mobil yang kami tumpangi terus bergulir walau hanya mengandalkan dua lampu menyorot sejauh jarak pandangan. Nday yang pegang stir kemudi, terus berkonsentrasi dan berhati-hati mensiasati medan lantaran jalan yang dihadapi mulai dipenuhi  tanjakan berliku dan curam untuk menuju Dataran Tinggi Dieng.  
Setelah menempuh berbagai rintangan jalan-jalan berbukit, akhirnya sekitar pukul 21.15 kami tiba di Home Stay di jalan Dieng KM 27, Krajan, Dieng Kulon, Batur, Banjarnegara, Jawa Tengah,. Lalu kami kemasi barang-barang untuk ditaruh di dalam kamar istirahat kami masing-masing. Saya dan Iwan sekamar. Nita dan Teti pun sama seruangan. Sedang Nday memilih sendiri di kamar terpisah lantaran ia ingin tidur yang puas setelah berjam-jam mengemudi dari Klaten. Sebetulnya, Iwan dan Nita ingin bergantian menyetir. Sementara, SIM saya sudah lama tidak berlaku. Namun, Nday tidak keberatan untuk tetap mengemudi. Dan nyatanya selama perjalanan, Nday mampu menyetir secara tangkas dan cekatan dengan stamina yang stabil, walau medan jalan yang dihadapinya selalu  menantang dan memicu adrenalin.
 
Suhu dingin berkisar 11 derajat, ternyata sangat mampu menembus kokohnya tembok  penginapan, dan otomatis menimbulkan perut lapar sehingga minta diisi nasi dan lauk. Berbekal soto seger plus tahu dan tempe yang sempat kami bungkus dari Klaten, akhirnya menjadi santapan malam kami yang penuh gayeng dan guyup. Dan rasa kenyang cukup menghangatkan badan kami. 
 
Kekira pukul 22.00 lebih, kami memutuskan istirahat dan tidur demi persiapan esok hari untuk mendaki gunung Sikunir. Tepat pukul 02.00 dini hari, kami bangun dan bersiap menuju Sikunir. Namun Teti merasa tidurnya belum cukup. Maka ia pun dengan jenaka, melalui WAG menuliskan, Saya sih sebetulnya sudah bangun. Tapi ini lho, selimut saya ini begitu posesifnya. Dan kami pun tertawa membaca pesan singkatnya itu.
 
Sementara, tanpa bisa dihalau, udara dingin dini hari yang kian menusuk dan menembus pori membuat tubuh ini sedikit menggigil. Maka itu, sebelum melakukan pendakian,  kami mempersiapkan dan mengenakan kaos dalam atau baju, jaket tebal, switer, sarung tangan, kaos kaki, serta penutup kepala atau topi tentunya. 
 
Pukul 02.30, kami bergegas menggunakan sedan menuju akses terdekat ke gunung Si Kunir. Sedan mulai meluncur menerobos gelapnya dini hari dengan melewati jalan sempit agak berbukit. Nampak dikejauhan ada yang menarik perhatian, yaitu, kepulan asap bak menyerupai awan menggumpal, yang dihiasi cahaya terang dari dalam celahnya sehingga menambah keindahan panoramanya. Ya, itulah kawah Sikidang, yang juga merupakan salah satu obyek wisata di kawasan Dieng.
 
Setelah melewati perjalanan selama 15 menit, akhirnya kami tiba di area perpakiran cukup luas yang berlokasi di dekat telaga Cebong. Lalu dengan segera, Nday memarkir sedannya di tempat tersedia dikenakan biaya 10 ribu rupiah. Tepat pukul 03.00 kami bersiap melangkah dan mendaki ke gunung Sikunir dengan ketinggian kekira 2.263 mdpl, yang berada di Desa Sembungan, Kecamatan Kejajar, Kabupaten Wonosobo. Untuk memasuki kawasan wisata gunung Sikunir, para pendaki harus membayar biaya sebesar Rp. 10.000 per orang.
 
Dengan jalan beriringan Saya, Nday, Teti, Iwan, dan Nita mencoba menapaki jalan berundak-undak yang kadang menanjak tajam, yang terdiri dari dua jalur. Meski begitu, kami tetap berhati-hari untuk menjejakkannya karena kondisi tanah yang agak lembab. Jujur saja di usia setengah abad lebih ini, untuk terus melangkah menanjak naik, nafas kami mulai ngos-ngosan, serta tulang lutut dan tumit juga terasa ngilu…hehehe. Tapi, dalam situasi dan kondisi demikian, kami harus bisa saling bantu dan peduli. Sebab kami tetap brotherhood….hihihihi.
 
Setelah kami terus naik dan berupaya mendaki, akhirnya sekitar pukul 03.45 lebih sedikit, syukur Alhamdulillah dan Puji Tuhan, kami akhirnya sampai di puncak Sikunir untuk mengejar matahari yang siap muncul dari arah Timur. Jelang beberapa saat kemudian, sunrise yang ditunggu pun mulai nampak dengan warna kemerahan dan kekuningan, yang tepat berada di sisi kiri gunung Sindoro dari arah pandangan kami. Tanpa bisa dimungkiri, kami pun sadar lalu mengucap, “Oh, betapa indahnya karya agungMu, Tuhan.”
 
Tanpa membuang waktu dari moment yang langka ini, di posisi puncaknya kami pun memuaskan diri untuk berswata foto atau selfi, serta saling berfoto. Tak disangkal, puncak Sikunir merupakan view paling pas melihat golden sunrise. Dan juga spot terindah untuk mengambil foto atau gambar dengan latar sunrise dan awan yang mengambang di bawah seperti Negeri Di Atas Awan. Bahkan, jika langit membiru tanpa terhalang awan, maka kemegahan gunung Sindoro, Sumbing, Slamet, Merbabu, dan Merapi akan terlihat pemandangan yang indah dari ketinggian puncak Sikunir. Selain itu, pun terlihat keindahan gunung Prau yang juga merupakan masih bagian dari wilayah Dataran Tinggi Dieng. Sebab, secara geografis, Dieng Prateau memang merupakan kawasan vulkanik aktif yang  nemiliki banyak kawah dan dikelilingi oleh gunung-gunung, antara lain, gunung Sindoro, Patak Banteng, Pakuwaja, Nagasari, Bisma, Sipandu, Gajah Mungkur, Igir Matamanuk, dan beberapa lainnya.
 
Setelah puas berfoto dan dirasa matahari mulai tinggi, kami pun turun dari bukit untuk menuju tempat kami start tadi. Namun, sebelum kami tiba di area perpakiran, ada sejumlah pedagang yang siap menyambut kami dengan hidangan khas Dieng. Ada kentang mungil utuh goreng, carica, aneka gorengan, serta beberapa minuman penghangat tubuh. Tanpa segan, kami pun mampir untuk menikmati kentang mungil goreng bersama kulitnya dan minuman hangat (teh dan jahe) yang menyegarkan. Dan kami pun merasa puas dan berkesan dengan pengalaman pendakian yang cukup menghebohkan ini.


(Ius Yudo/IM)
MUSTPEAK