Lenyapnya Arca Majapahit (Cerbung Chapter 3)
MISTERIUS • Cerita
Lenyapnya Arca Majapahit (Cerbung Chapter 3)
Popie S. Hanjani • Sabtu, 16 November 2019 13:54 WIB
Tiga
Di Fhosan, Julang juga belajar Wing Chun. Semula, ia diremehkan kawan-kawannya. Namun sejalan waktu, akhirnya teman-temannya mengakui Julang, bahwa ia juga pendekar yang berbakat. Ia merasa saat di Fhosan, tidak seperti yang dibayangkan dahulu, ketika ia masih berpendidikakan SD di Jakarta. Banyak teman-temannya masih rasis, mengolok-olok  beberapa temannya yang etnis minoritas.
 
Namun, dunia memang terus berubah. Banyak orang yang mulai menyadari, bahwa perbedaan adalah hal lumrah, tak perlu diperuncing dan diperdebatkan. Di Fhosan ia diperlakukan tidak seperti etnis minoritas, meski dirinya adalah gen planet bumi dari suku Jawa campuran Tionghoa. Ayahnya Jawa, ibunya Tionghoa. Tak mudah untuk belajar Wing Chun di perguruan Naga Merah. Sebab, perguruan tersebut hanya menerima murid kalangan lokal atau keturunan tulen. Tapi berkat relasi baik ibunya dengan suhu Zhang Tien Liang, akhirnya Julang dapat diterima sebagai murid Perguruan Naga Merah. Bahkan, selain dirinya, ternyata banyak kawan senegaranya yang juga belajar ilmu Whing Chun. Ada Batak, Palembang, Padang, Menado, juga Maluku. Semua teman-temannya adalah anak-anak yang memiliki ayah yang bekerja di Departemen Luar Negeri. Kawannya yang Batak bernama Lohdik Simanjuntak, Vijaya Warman (Palembang), Santang Persada (Padang), Ave Kumontoy (Menado), Patiroyan Latumarissa (Maluku).    
 
Ketika di Fhosan pada 1978, usianya baru 14 tahun. Di Fhosan selama dua tahun. Ia kerap menonton film-film produksi Shaw Brothers dan Golden Harvest saat ia ke Hong Kong dan Taiwan, yang menyuguhkan genre kungfu. Ayahnya seorang wartawan desk Asia, memungkinkan Julang dan ibunya kerap ke kota-kota di Asia. Mulai dari Singapura, Malaysia, Thailand, Philipina, Vietnam, Taiwan,  Peking, Hong Kong, Laos, Jepang, dan lain-lain.
 
Saat ia menginjak usia 16, ia kembali ke Jakarta bersekolah di kawasan Bukit Duri, Jakarta Selatan. Di SMA, Julang bersahabat dengan Gagas Perkasa. Meski berbeda jurusan, Julang memilih jurusan IPA dan Gagas lebih sreg dengan IPS. Mereka berdua tetap bersahabat.  Setelah lulus SMA, Julang melanjutkan ke jurusan Kriminologi. Usai S1, Julang melanjutkan ke S2, ia ambil bidang khusus  tentang forensik di Amerika. Karena kepandaiannya itu, ia direkrut pihak Kepolisian di bagian unit reserse. Sejalan waktu bergulir, ia diperbantukan untuk menangani kasus-kasus yang tak lazim, yang menuntut keahlian penyelidikan, penyidikan, dan penguasaan ilmu bela diri, mengingat para penjahat yang melakukan pencurian dan pembunuhan adalah orang-orang yang sangat menguasai ilmu bela diri yang tinggi. Maka itu, Julang Meru adalah orang yang tepat untuk melakukan pekerjaan tersebut. Dalam penyelidikkannya dan mengungkap kasus kejahatan, ia selalu mengenakan stelan pakaian bebas. Baju lengan panjang yang digulung hingga sebatas sikut dan dikombinasi dengan celana jeans biru atau hitam. Suatu penampilan yang identik dengan gaya anak Jakarta dekade 1980-an. Gaya berpakaiannya itu terus melekat hingga usianya sudah mencapai setengah abad lebih. Bersambung...


(Popie S. Hanjani/IM)
MUSTPEAK