Perempuan Tanah Jahanam : Kutuk Yang Membebaskan
MEDIUS • Film • Resensi
Perempuan Tanah Jahanam : Kutuk Yang Membebaskan
Ius Artanto • Kamis, 24 Oktober 2019 21:58 WIB
Film Perempuan Tanah Jahaman (2019) berkisah mengenai pencarian seorang perempuan yang terputus dengan masa silamnya. Film ini penuh darah, kuasa kutukan, dan juga tentang perjuangan hidup. Lepas dari logika ceritanya, Perempuan Tanah Jahanam menjadi  salah satu genre horor suspense-thriller yang tak lazim. Berlatar budaya dan tradisi Jawa yang terkadang cenderung patriarki dan mistik. Detailnya, film ini memang bukan berkisah tentang Calon Arang pada zaman raja Airlangga yang menguasai ilmu sihir, melainkan juga bercerita bayi terlahir tanpa kulit yang harus menerima takdir tragisnya. 
 
Pada 10 tahun belakangan, produksi film genre horor makin masif bergulir menghias layar bioskop. Dan penonton pun maklum, selera memang harus terus berulang tanpa stop. Pada rentang  dekade 1970-an, 1980-an, dan 1990-an film-film horor selalu memiliki kekhasan untuk menakuti penonton. Beragam mahkluk horor disodorkan; setan, hantu, pocong, kuntilanak, gendruwo, tuyul, dan lainnya yang dikemas dalam bungkus dongeng, legenda, mitos, hingga mistis.
 
Realitanya, horor tetap menjadi magnet kuat bagi penonton untuk mengisi berderet bangku kosong. Tak terkecuali film Perempuan Tanah Jahaman (2019) garapan sutradara Joko Anwar, yang pernah sukses lewat film Pengabdi Setan (2017). Meski tidak seratus persen horor, Perempuan Tanah Jahanam memiliki tema cerita yang memikat. Inilah salah satu kepiawaian Joko Anwar dalam menulis skenario. Ada dalang yang mendalami ilmu hitam, bayi terlahir tanpa kulit, perjuangan hidup perempuan kota hingga perempuan desa yang ahli mengutuk dan guna-guna.
 
Tanpa maksud berlebihan, opening scene film Perempuan Tanah Jahanam berpotensi menyulut rasa penasaran untuk mengikuti kisah selanjutnya. Pilihan suasana pada malam yang sepi di suatu lokasi pintu tol plus kasir penjaganya,  nyatanya memang mampu memicu tensi ketegangan. 
 
Dikisahkan, seorang perempuan penjaga pintu tol bernama Maya (Tara Basro) mendadak ketakutan, ketika dihampiri lelaki misterius (Teuku Rifnu) yang menggedor pintu kaca tempatnya berada. Lalu lelaki itu – yang belakangan kemudian diketahui bernama Bimo - tanpa diminta, lagsung menyebutkan jatidiri Maya yang sebenarnya. Maya kaget. Tanpa buang waktu, ia pun minta bantuan kepada Dini (Marissa Anita), sahabatnya, melalui telepon selular, yang juga sedang bertugas  di lokasi lain. Menyadari Maya dalam ancaman bahaya, dengan sigap Dini lalu minta pertolongan kepada petugas untuk segera datang ke lokasi kejadian. Tak lama berselang, pria itu pergi meninggalkan Maya dan menuju ke mobilnya.
Sementara petugas belum juga muncul, ternyata lelaki itu kembali lagi menghampiri  Maya. Kali ini, ia membawa sebilah golok yang diambil dari bagasi mobil. Maya panik, kemudian lari keluar penuh ketakutan untuk menyelamatkan diri dari kejaran lelaki itu. Tapi malang. Maya terjatuh dan lelaki itu siap membunuhnya. Namun, belum sempat menghujamkan goloknya ke tubuh Maya, lelaki itu tewas di dor oleh polisi.
 
Sejak kejadian itu, Maya dan Dini alih profesi. Mereka memilih berdagang pakaian di sebuah kios dalam area pasar. Namun, sejalan waktu, berdagang pakaian ternyata tak membawa hasil yang memuaskan. Tiba akhirnya, Maya memperlihakan sebuah foto masa kecilnya sedang berpose bersama kedua orangtuanya di depan sebuah rumah besar. Maya ingin mencari tahu jejak masa silamnya dan keberadaan rumah besar itu. Dari informasi yang didapat dari lelaki misterius itu, bahwa rumah besar tersebut berada di Desa Harjosari. Tanpa pikir panjang, mereka berdua akhirnya menuju ke desa itu.
Setiba di Desa Harjosari, banyak kejanggalan yang dialami Maya dan Dini. Ada beberapa bayi yang meninggal, rumah besar tanpa penghuni, serta sosok dalang dan perempuan tua yang misterius. Berdasarkan dari keanehan tersebut, akhirnya Maya dan Dini mencoba mencari tahu. Namun, tanpa diduga, nyawa mereka dalam bahaya. Apalagi, sebelumnya, Maya telah melihat seorang bayi yang baru lahir dibunuh oleh Ki Saptadi (Ario Bayu) karena terlahir tanpa  kulit dan tidak sehat. 
 
Sejak awal, ketika dalam perjalanan menuju Desa Harjosari, Maya kerap dinampakan oleh hantu tiga perempuan cilik yang misterius. Tiga gadis ini yang akhirnya menuntun Maya untuk memahami kepingan puzzle menjadi rangkaian utuh dari segala kejadian yang aneh dan misteri di Desa Harjosari. Roh gadis cilik itu merasuk dalam benak Maya sehingga Maya dapat melihat apa yang dialami tiga gadis cilik tersebut pada masa lalunya. Ternyata mereka pernah diculik, dan kemudian kulitnya diambil, lalu dijemur untuk dijadikan wayang kulit oleh Ki Donowongso (Zidni Hakim). Selanjutnya, berkat bantuan Ratih (Asmara Abigail) Maya akhirnya dapat mengtasi masalah yang menghimpitnya.
 
Film bedurasi sekitar 120 menit ini, memiliki kisah yang misterius yang tak lazim sekaligus memikat lantaran didukung oleh setting dan latar yang natural, serta para pemain dengan kualitas akting yang prima. Apalagi acting dari Christine Hakim yang berperan sebagai Nyi Misni. Dalam film ini, peran antagonisnya mampu memberi daya pikat yang kuat.
 
Mencermati narasi film Perempuan Tanah Jahanam, adegan menguliti tubuh manusia dengan mengambil kulitnya lalu dijemur dan digerus, pernah dikisahkan film The Silence of the Lambs (1991) yang dibintangi Jodie Foster dan Anthony Hopkins yang berperan sebagai manusia sadis bernama Hannibal Lector. Selain itu, menariknya, alunan lagu Pujaan Hati karya The Spouse yang terdengar  sangat mencekam di awal dan di akhir film dengan aransemen dan gaya bernyanyi 1970-an, seolah mengingatkan akan lagu hits berjudul Kau Selalu di Hatiku  yang pernah dinyanyikan Ernie Djohan pada awal 1970-an. Sementara instrumental suara lonceng yang bergema secara melodius pada jelang akhir film, tentu tanpa bisa ditepis memang identik dengan  lagu Natal berjudul Ode to Joy karya Ludwig Van Beethoven.


(Ius Artanto/IM)
MUSTPEAK