Maleficent: Mistress of Evil; Armagedon di Negeri Dongeng
MEDIUS • Film • Resensi
Maleficent: Mistress of Evil; Armagedon di Negeri Dongeng
Ius Artanto • Rabu, 16 Oktober 2019 10:12 WIB
Setelah sukses lewat Maleficent pada 2014, kini Walt Disney Pictures merilis sequel-nya berjudul Maleficent: Mistress of Evil yang diputar serentak di bioskop pada 16 Oktober 2019. Pada dasarnya, film ini menyambung kisah terdahulu yang dirajut untuk berlanjut menjadi kekinian mengejutkan. Ada kisah perseteruan antara Maleficent (Angelina Jolie) dengan anak angkatnya, Aurora (Elle Fanning), dan intrik politik. Pun, yang tak kalah seru, pecahnya armagedon antara rombongan kaum peri bertanduk dengan bangsa manusia.
 
Mencoba mencermati,  alih-alih Walt Disney tetap konsisten berkutat pada narasi-narasi klasik dalam menyuguhkan karya filmnya. Baik format animasi maupun live-action. Demikian pula, kisah Maleficent yang diangkat dari fairy-tale atau dongeng klasik Sleeping Beauty berdasarkan karya Charles Perrault. Walt Disney pernah memfilmkan Sleeping Beauty (animasi) untuk pertama kalinya pada 1959, dan Maleficent merupakan produksi spin-off. Tak dimungkiri, dalam 10 tahun belakangan, produksi film spin-off  kian masif menghias bioskop, antara lain,  X-Men Origins: Wolverine (2009), The Hobbit: An Unexpected Jorney (2012),  Annabelle (2014), Deadpool (2016), Solo: A Star Wars Story (2018), Bumblebee (2018), The Nun (2018), Venom (2018), Fast & Furious Presents: Hobbs & Shaw (2019) Men in Black: International (2019), Joker (2019), dan lain-lain.
 
Pada 2014, dalam memproduksi filmnya, Disney tak lagi terfokus pada sosok Si Putri Tidur (Aurora/Sleeping Beauty). Namun berupaya menyoroti sosok sentral Maleficent,  Sang Ratu Kegelapan, yang berperangai jahat sekaligus juga bisa menjadi baik dan lembut dengan judul Maleficent disutradarai Robert Stromberg. Suatu upaya yang magnetik sebagai tontonan melalui karakter antagonis, yang memiliki sepasang tanduk melengkung menjulang, sayap yang besar, serta sihir kutukan yang dahsyat. Maleficent menjadi layaknya tokoh superhero dan supervillain dalam cerita komik.
 
Sukses Maleficent (2014) yang meraih box office sekitar 335 juta dollar, Disney mencoba menyambung suksesnya lewat Malficent: Mistress of Evil (2019). Dalam sequel ini, Stromberg tak lagi terlibat sebagai sutradara. Ia digantikan Joachim Rooning yang pernah sukses menyutradarai film Pirates of the Carribean: Dead Men Tell No Tales (2017). Untuk   screenplay ditulis Micah Fitzerman-Blue. Sedangkan deretan aktor dan aktrisnya tercatat antara lain, Angelina Jolie (Maleficent), Elle Fanning (Putri Aurora), Harris Dickinson (Pangeran Philip), Michelle Pfeiffer (Permaisuri Ingrith), Sam Riley (Diaval), Chiwetel Ejiofor (Conall), Ed Skrein (Borra), Robert Lindsay (Raja John), Jenn Murray (Gerda), Juno Temple (Thistlewit), Lesley Manville (Flittle), Imelda Staunton (Knotgrass), dan lain-lain. Sekadar catatan, untuk tokoh Pangeran Philip dalam film perdananya diperankan Brenton Thwaites. Menariknya, lama tak muncul di layar bioskop, aktris senior Michelle Pfeiffer hadir dalam peran antagonis. 
 
Tanpa bermaksud muluk, sequel ini mampu menjadi “jembatan” bagi penonton yang tak sempat menyaksikan film perdananya. Narasi Maleficent: Mistress of Evil mampu memberi kesinambungan cerita yang tak putus. Kepingan cerita sanggup menjadi mozaik utuh yang mudah dipahami. Nampaknya, sang sutradara mencoba mengupayakan sequel film ini menjadi tontonan komplit; cerita yang detail, tata artistik dan wardrobe yang apik, special dan visual effect yang rapi, karakter tokoh yang representatif, dan konflik yang menyulut emosi dan perang. Tentunya visualisasi yang tersaji indah tersebut, juga didukung oleh tim produksi yang kompeten, telaten, dan kreatif.
 
Untuk menghindar dari spoiler berlebihan, akan disinggung di sini secuil ceritanya. Dikisahkan, Maleficent berseteru dengan anak angkatnya, Aurora. Maleficent tidak setuju atas rencana pernikahan Auro dengan Philip. Inilah yang memicu konflik berkelanjutan. Sedangkan, di sisi lain, pihak raja dan permaisuri sangat menyetujui rencana perkawinan tersebut.
 
Sementara, tanpa diketahui oleh raja dan putranya, di lingkar istana telah muncul adanya kesepakatan jahat. Arahnya, bakal ada perang besar atau armagedon yang tak bisa dihindarkan, antara kaum peri bertanduk dengan bangsa manusia. Inilah sesungguhnya salah satu klimaks dari film Maleficent: Mistress of Evil. Pada dasarnya, secara historis, terkadang perang besar yang berkobar mampu menjadi jalan menuju perdamaian. Meski armagedon itu terjadi di negeri antah barantah. Namun, setidaknya, ajang perang kerap memunculkan beragam karakter dan melahirkan sejumlah pahlawan.
 
Film berdurasi 118 menit ini, intinya serupa dengan kisah anti hero Joker versi Joaquin Phoenix. Galibnya, antagonis mampu menjadi daya pikat film seperti halnya tokoh Jack Sparrow (Johnny Deep) dalam film Pirates of Carribean. Artinya, karakter baik atau jahat tak harus melekat abadi dalam diri seseorang. Sebab, suatu kebaikan pun akan bisa berubah menjadi amuk dan dendam, apabila dirinya telah tersakiti dan teraniaya. Demikian pula dengan Maleficent.


(Ius Artanto/IM)
MUSTPEAK