Gemini Man: Duplikasi Pembunuh Profesional
MEDIUS • Film • Resensi
Gemini Man: Duplikasi Pembunuh Profesional
Ius Artanto • Jumat, 11 Oktober 2019 09:10 WIB
Teknologi cloning kerap menyusup dalam tema film. Begitupun  film Gemini Man (2019), yang mulai beredar di bioskop pada 11 Oktober 2019. Secara garis besar, film ini berkisah tentang pembunuh profesional yang ingin pensiun. Namun, tanpa diduga,  ternyata ia harus berhadapan dengan pembunuh lainnya yang mirip dengan dirinya. Bahkan, yang mengejutkan, si pembunuh tersebut sangat menginginkan kematiannya.
 
Film genre science-fiction yang bertema teknologi kloning (cloning) sudah sejak lama dan juga telah banyak dibuat oleh para sineas, antara lain, The Island of Dr. Moreau (1977), The Boys from Brazil (1978), The Cabbage Soup (1981), Jurassic Park (1993), Multiplicity (1996), Alien Resurrection (1997), The Avengers (1998), The 6th Day (2000), Star Wars: Episode II – Attack of the Clones (2002), Aeon Flux (2005), Avatar (2009), Splice (2009), Never Let Me Go (2010), Oblivion (2013), Replicas (2018), Resident Evil: Retribution (2012), dan lain-lain.
 
Merinci beragam film bertema cloning di atas, tentunya ada keterkaitan dengan Gemini Man. Gemini Man pun film tentang cloning. Meski porsi dominannya cenderung pada aksi laga. Bukan pada aspek ilmiahnya. Namun, bagi penggemar genre action, tentu hal itu tak jadi soal.
 
Sedikit cerita tentang film Gemini Man. Dikisahkan Henry Brogan (Will Smith) adalah pembunuh profesional yang ingin pensiun. Sebelumnya, Brogan telah membunuh seseorang yang diduga teroris atas perintah Clay Verris (Clive Owen). Namun, nyatanya Brogan telah dibohongi Clay. Pasalnya, seorang yang dibunuhnya itu ternyata bukanlah teroris, melainkan ahli biologi Amerika yang merupakan rival Clay. Atas kasus ini, Brogan merasa berdosa dan berusaha untuk menyelidikinya. Sejalan waktu, dalam penyelidikkannya, ia dibantu oleh Dina (Mary Elizabeth Winstead) dan Baron (Benedict Wong).
 
Maka itu, agar niat jahat Clay tak terbongkar lebih jauh, ia mengutus seorang pembunuh bernama Junior untuk menghabisi nyawa Brogan. Tanpa bisa terhindarkan dan tak terduga,  Brogan harus berhadapan dengan Junior yang sangat tangguh dan tangkas, bahkan sosoknya menyerupai dirinya. Junior merupakan hasil cloning dari Brogan. Meski proses cloning dalam Gemini Man cenderung diabaikan, sehingga genre science-fiction-nya menjadi tenggelam karena didominasi baku tembak, aksi kelahinya, serta sedikit drama. Jelasnya, film ini fokusnya pada sepak-terjang dari  Brogan dengan seorang pembunuh profesional yang telah diduplikasi. Oposisi biner ini yang terus bergulir hampir sepanjang film.
 
Film berdurasi 117 menit yang disutradarai Ang Lee, sejak awal memang mudah diduga bakal dimuati adegan kelahi dan aksi kebut-kebutan. Meski begitu, sutradara asal Taiwan ini, memang bukan John Woo yang  menggarap filmnya cenderung penuh jotos dan baku tembak (A Better Tomorrow, Broken Arrow, Face/Off, The Replacement Killer, Mission Impossible 2). Detailnya, Ang Lee – yang juga piawai mengarahkan adegan laga - dalam menyutradarai film lebih memilih cerita yang juga didominasi unsur-unsur dramatik; The Wedding Banquete (1993), Crouching Tiger Hidden Dragon (2000), Brokeback Mountain (2005), Lust,Caution (2007), Life of Pi (2012), dan lain-lain.
 
Jika dalam Gemini Man, unsur special dan visual effect-nya cukup tergarap rapi dan canggih, lantaran Ang Lee pernah membuktikan lewat film Hulk  (2003) dan Life of Pi. Sedangkan untuk adegan kelahi yang bernuansa martial arts, lazimnya sutradara asal Hong Kong atau Taiwan memang masih unggul dalam perkara aksi laga, seperti halnya Bruce Lee, Jackie Chan, John Woo, Corey Yuen, Yuen Woo-Ping, Donnie Yen, Tsui Hark, dan lain-lain.         


(Ius Artanto/IM)
MUSTPEAK