Lenyapnya Arca Majapahit (Cerbung Chapter 1)
MISTERIUS • Cerita
Lenyapnya Arca Majapahit (Cerbung Chapter 1)
Popie S. Hanjani • Rabu, 09 Oktober 2019 20:52 WIB
Sebuah arca berasal dari abad ke-14 M zaman Kerajaan Majapahit, lenyap tanpa bekas pada suatu pameran benda-benda purbakala di Jakarta. Seorang reserse bernama Julang Meru - spesial penyelidikan dan penyidikan pencurian dan pembunuhan - mencoba mengungkap siapa dalang dari peristiwa yang menghebohkan tersebut. Dalam penyelidikkannya, ia dibantu oleh  Gagas Perkasa, jurnalis senior media on-line, yang biasa menulis artikel atau laporan tentang Sejarah dan Budaya. Di luar profesinya, Julang dan Gagas adalah praktisi ilmu bela diri  yang menguasai beragam aliran.
 
Tanpa diduga, arca tersebut ternyata menyimpan kode semiotik yang diselipkan di bagian bawah arca, yang menyimpan sejumlah kode rahasia. Pelacakkan terus dilakukan. Tapi hasilnya nihil. Arca tersebut tetap tidak berhasil ditemukan. Seorang Master gaek berilmu kung fu  tinggi yang  tinggal di suatu Padepokan di Lereng Gunung Lawu, memberi  identifikasi kepada Julang Meru dan Gagas Perkasa tentang ciri-ciri pelaku. Maka itu, keduanya mempelajari ilmu Toya Besi Pembunuh Naga, satu-satunya cara untuk menghadapi Si Dalang yang sangat menguasai ilmu Golok Berantai. Selain itu, ia pun  menguasai Tapak Maut Beracun. Jika keadaan memaksa, Julang dan Gagas, harus melakukan pertarungan tangan kosong dengan mengandalkan kung fu Wing Chun kombinasi Tendangan Angin Langkisau.
 
Berhasilkah Julang Meru dan Gagas Perkasa mengungkap tentang kasus lenyapnya arca tersebut? Lalu apakah keduanya harus bertarung mati-matian menghadapi Si Dalang yang ternyata juga memiliki ilmu bela diri kombinasi yang tinggi (Martial Arts Mix).  Apalagi kasus ini sangat terkait dengan sindikat internasional.
 
 
Satu
Lenyapnya sebuah arca Majapahit berasal dari tarikh tahun 1374 yang dipamerkan di Heritage Gallery, Menteng, Jakarta Pusat, menggegerkan warga ibukota. Mengingat di bagian bawah arca tersimpan  chip kode rahasia, yang hanya dapat dipecahkan dengan menggunakan metode semiotik. Akankah Julang Meru dapat menemukan keberadaan arca tersebut? Apalagi, identifikasi pelaku adalah seorang yang dianggap memiliki ilmu kung fu tinggi sekelas Grandmaster. Maka. untuk menyelidiki kasus lenyapnya arca tersebut,  Julang dan Gagas Perkasa,  juga harus berguru ke Lereng Lawu, Karang Anyar, di suatu padepokan tua yang berdiri sejak tahun 1400. Di padepokan tersebut, Julang dan Gagas harus bertemu seorang Master asal Tiongkok bernama Chen Yuan atau biasa dipanggil sebagai Eyang Gledek. Eyang Gledek merupakan generasi ke-18, yang memiliki ilmu Gledek Berantai  dari para leluhurnya yang berasal dari Gunung Song, Henan, China.    
 
Jakarta, 2019.
Siang itu, hujan mengguyur Jakarta berlangsung sesaat. Suasana kembali menghangat, tatkala mentari memendarkan cahaya, walau tanpa panas menyengat. Nampaknya, awan yang menggumpal berarak menghalangi  tembus sinarnya ke permukaan bumi Jakarta. Terutama rumah yang berlokasi di cluster Monet di kawasan Pasar Minggu, justru makin terlihat sejuk. Rumah bercat gading tanpa pagar itu, terlihat tertata rapi, indah, dan asri, lantaran dikelilingi beragam tanaman aglonema, aneka mawar, anthurium, dan pucuk merah yang rimbun. Melalui pintu jati berwarna coklat pekat yang dihiasi kaca patri, nampak Julang Meru duduk santai di ruang tengah yang merangkap sebagai ruang kerjanya.
 
Secangkir kopi hangat  yang diseruput  Julang Meru beberapa teguk, nampak terasa nikmat.  Julang Meru, lelaki dengan sorot mata tajam dengan raga berotot padat, masih saja membolak-balik halaman koran yang belum sempat dibacanya. Itulah rangkaian rutinitas yang  kerap dilakukan Julang, kala pagi atau siang menjelang. Di ruang kerja pribadinya berukuran 2 x 3 meter persegi  terdapat sofa, kursi, dan meja cukup lebar yang dilengkapi laptop dan seperangkat sound system. Ada tape deck cassette produk dekade 1980-an bermerek Teac, dan turntable merek Sansui keluaran 1970-an, lalu di bagian belakang kursinya terdapat rak yang dipenuhi buku-buku berbagai judul dan jenis, di antaranya, buku Resep Masak, Wisata dan Jalan-Jalan, Cara Bercocok Tanam, Arkeologi, Sejarah Dunia dan Indonesia, Proses Penanganan Perkara Pidana, hingga buku tentang ilmu bela diri dari berbagai aliran. Ada mengenai  Karate, Tae Kwon Do, Wu Shu, Wing Chun, hingga Capoeira. Bersambung...


(Popie S. Hanjani/IM)
MUSTPEAK