Joker : Narasi Kegetiran Sang Supervillain
MEDIUS • Film • Resensi
Joker : Narasi Kegetiran Sang Supervillain
Ius Artanto • Rabu, 02 Oktober 2019 18:28 WIB
Hakekatnya manusia itu terlahir baik. Gegara stimulus dunia sekitar yang mencampakkannya, akhirnya menyulutnya menjadi manusia jahat. Setidaknya, itulah narasi yang dibangun dalam film Joker (2019) - salah satu karakter tokoh supervillain dari koleksi komik DC Comics – yang telah diputar serentak di sejumlah bioskop pada 2 Oktober 2019.
 
Kerap setiap film berdasar buku komik, realitanya, penonton akan berdecak kagum dan bersorak-sorai terhadap kehebatan superhero yang mampu membasmi kejahatan. Itu memang hal biasa Protagonis selalu mengalahkan antagonis. Namun, film Joker merupakan film pertama dan masih satu-satunya kisah tentang Joker sang supervillain yang dibuatkan khusus film solonya sehingga berbenturan dengan logika kelaziman, tatkala si jahat justru mampu menjadi hero bagi masyarakatnya. Bahkan Joker cenderung bisa merebut simpati dan empati penonton lantaran kisah hidupnya dipenuhi kegetiran. Indikatornya, dalam pemutaran perdana dan hari kedua film Joker, kursi bioskop terisi penuh oleh penonton.
 
Semula lewat media bioskop, sosok Joker dikenal dalam live-action film Batman (Caser Romero/1966), Batman (Jack Nicholson/1989) dan The Dark Night (Heath Ledger/2008), dan Suicide Squad (Jared Leto/2016). Singkatnya, Joker adalah penjahat sekaligus musuh bebuyutan Batman. Mungkin, banyak orang akan bertanya-tanya, mengapa Joker yang identik dengan kelucuan justru bisa sejahat itu? Inilah dominasi narasi yang hendak disodorkan film Joker.
 
Film Joker yang disutradarai oleh Todd Phillips, secara sinopsis maupun screenplay di luar konteks cerita asli komik hasil  kreasi Bill Finger, Bob Kane, dan Jerry Robinson pada tahun 1940. Screenplay film Joker semata sepenuhnya merupakan karya Phillips. “Kami tidak mengikuti apapun dari buku komik, yang akan membuat banyak orang marah,” jelas Phillips seperti dikutip dari indiewire.com dari Empire magazine.
Lebih lanjut, Phillips menambahkan, “Kami menulis versi kami sendiri, sebagaimana Joker berasal. Itu menarik buat saya. Bahkan kami tidak melakukan terhadap Joker, tapi kisahnya mengenai Joker.”  
 
Meski tak berdasar komik, setidaknya, pemicu tindak kejahatan yang dilakukan Joker cukup bisa dipahami. Penggalian sketsa hidup Joker yang getir dan kelam mampu divisualkan komunikatif Todd Phillips. Kota Gotham yang kelam, kumuh, penuh hama tikus, dan sampah yang menimbulkan bedrbagai penyakit merupakan cerminan kegagalan pemerintah menata kota.
 
Sebelum menggunakan nama panggilan Joker, nama aslinya adalah Arthur Fleck (Joaquin Phoenix). Ia merupakan seorang yang baik, tak pernah menyakiti siapapun. Bahkan, ia sangat peduli dan merawat ibunya yang sedang sakit dengan telaten. Dan ia pun berusaha keras untuk menjadi komedian yang sukses. Nama Happy yang disematkan ibunya kepadanya – sejak usia bayi, Arthur selalu suka tersenyum tak pernah menangis – bertujuan memotivasi Arthur agar hidupnya selalu diliputi kebahagiaan. Ironisnya, dalam perjalanan hidupnya, justru Arthur merasa dalam semenit pun tak pernah mengalami kebahagiaan.
 
Pernah pada suatu ketika di dalam bus, Arthur mencoba menghibur seorang bocah. Bocah itu tertawa melihat mimik lucunya. Namun, ibu dari si bocah justru menegur Arthur agar tidak mengganggu anaknya. Arthur pun pasrah, lalu tertawa terbahak. Suatu tawa yang sedari kecil,  memang sulit untuk dikendalikannya. Meski tentang gangguan ini, ia kerap berkonsultasi kepada petugas kesehatan. Namun, setiap pertemuan konsultasi, ia tidak mendapatkan solusi apapun dari gangguan psikisnya.   
 
Lain waktu, ia pun dianiaya oleh sekelompok anak muda lantaran ia mencoba mengejar dan berusaha merebut papan iklannya yang telah dirampas oleh para remaja tersebut. Bukan cuma itu kegetiran hidupnya. Ia pun pernah ditendang dan diinjak tubuhnya oleh sejumlah orang kaya di sebuah kereta bawah tanah. Tak tahan diperlakukan demikian, Arthur pun mengeluarkan pistolnya lalu menembak orang-orang itu hingga tewas. Itulah awal kejahatannya dimulai.
 
Puncaknya, ketika ia diundang untuk tampil di acara televisi yang diasuh oleh Murray Franklin (Robert De Niro). Dalam acara itu, nama yang digunakan bukan lagi Arthur Fleck, melainkan Joker. Maka itu – karena sudah memendam rasa kecewa yang mendalam terhadap Murray -  tanpa segan Joker lalu menembak Murray tepat di dahi. Murray langsung tewas di tempat. Motif Joker jelas, karena Murray selalu melecehkan dirinya melalui siaran nasional, ketika Murray sering menampilkan rekaman video Arthur yang sedang melakukan stand up comedy sebagai bahan olok-oloknya yang diulang-ulang. 
 
Rentang kegetiran hidup yang bertubi pada diri Arthur, pada akhirnya meletupkan niat jahat dalam sosok Joker. Tanpa segan, siapapun yang telah mengusik hidupnya, ia akan membunuh dengan pistolnya. Baginya, tragedi adalah komedi. Usai membunuh, Joker pun terbahak lepas. Sejak itu, Joker justru menjadi simbol resistensi bagi kaum marginal terhadap kekuasaan yang sewenang-wenang dari para borjuis, dan Joker pun menjadi biang keonaran dan anarkisme di Gotham City.


(Ius Artanto/IM)
MUSTPEAK