Rambo Last Blood: Dendam Tak Pernah Padam
MEDIUS • Film • Resensi
Rambo Last Blood: Dendam Tak Pernah Padam
Ius Artanto • Selasa, 17 September 2019 17:26 WIB
Hanya seorang diri, Rambo menyikat sekelompok penjahat. Dendam yang tak padam, membuat amarahnya sulit direndam. Kesadisan memang tak membutuhkan rasa belas kasihan. Meski usia sudah menua, Rambo tetap kuat, gesit, dan tangkas. Setidaknya, begitulah narasi film Rambo: Last Blood, yang premeire-nya diputar pada 18 September 2019.
 
Bagi penonton yang konsisten sedari awal mengikuti sequel Rambo berjudul First Blood (1982), bisa jadi Rambo Last Blood (2019) merupakan kisah komplit dari rangkaian sepak-terjang John Rambo (Sylvester Stallone) dalam memburu para penjahat. Baik itu merupakan situasi perang yang terjadi di hutan rimba, perkampungan penduduk, maupun praktik kriminal yang terjadi di pemukiman tempat bersarangnya para penjahat.  Semua itu tak membuat nyalinya ciut dan gentar.
 
Film kategori franchise  yang disutradarai Adrian Grunberg ini, diawali pencarian gadis yang hilang di suatu bukit terjal. Rambo turut mencarinya dengan menunggang kuda. Akhirnya gadis tersebut ditemukan, tapi jasadnya sudah jadi mayat. Belum sempat mayat itu diamankan, tetiba banjir besar menghadang dari arah atas bukit. Rambo mencoba menyelamatkan diri dan menolong seorang wanita, yang juga terjebak di medan perbukitan tersebut. Itulah scene pembuka dari Rambo: Last Blood,  yang mencoba memberi secuil gambaran bahwa Rambo tetap seorang pahlawan dan peduli terhadap kemanusiaan.
 
Lantas film bergulir menggambarkan kehidupan Rambo yang sudah mulai menua bersama istri tercinta, Maria Beltran (Adriana Barazza),serta ponakannya yang masih belia bernama Grabrille (Yvette Monreal). Mereka hidup di sebuah rumah sederhana dengan tanah lapang  luas (ranch) yang dilengkapi beberapa istal. Dan yang mengejutkan, di area tanah lapangnya terdapat gorong-gorong bawah tanah persis film Angel Has Fallen (Gerard Butler/2019). Fungsi gorong-gorong tersebut ternyata untuk menyimpan segala perlengkapan perang. Mulai dari senjata laras pendek dan panjang, panah, dan sejumlah bom yang memiliki daya ledak yang dahsyat.
 
Suatu ketika, Gabriella ingin bertemu ayahnya yang tinggal di Meksiko. Ia sudah tahu keberadaan ayahnya berkat info temannya, Jezel (Fenessa Fineda), yang tinggal di Mesksiko. Namun, Rambo dan Maria sangat tidak setuju, jika Gabriella mencoba menemui ayahnya. Sebab, mereka khawatir akan keselamatan Gabrille.
 
Lalu tanpa sepengetahuan Paman dan bibinya, pada esok harinya, Gabriella justru nekad ke Meksiko. Setiba di Meksiko, ia justru sengaja dijebak oleh Jezel lalu diserahkan kepada sindikat perdagangan manusia untuk dijadikan PSK. Gabriella kemudian dipaksa untuk mengkomsumsi narkoba. Hidup Gabriella menjadi tidak keruan. Tentu kekhawatiran Rambo terhadap nasib ponakannya cukup beralasan. Gabriella dalam bahaya besar. Tanpa pikir panjang, Rambo tanpa ditemani siapapun langsung ke Meksiko menjemput Grabriella. Padahal tempat keberadaan Gabriella sangat dijaga ketat oleh gerombolan penjahat yang sadis dipimpin Victor Martinez (Oscar Jaenada) dan adiknya Hugo Martinez (Sergio Peris-Mencetha). Tapi nyali Rambo tidak ciut. Malah ia hampir tewas dianiaya oleh anak buah Victor. Untung nyawanya dapat diselamatkan oleh Carmen Delgado (Paz Vega), wanita yang bersimpatik dan empati dengan Rambo.
 
Setelah  kondisi tubuhnya mulai pulih dan membaik, Rambo lalu menyusun rencana dan strategi. Ia harus memancing para penjahat itu untuk mengejarnya dan datang ke tempat kediamannya. Ternyata perangkapnya cukup berhasil. Tanpa bisa dibendung, maka terjadilah pertempuran yang hebat plus sadis. Dan inilah ciri kekhasan film Stallone belakangan ini, sejak sequel film Expendables (2010 -2014) dan Escape Plan (2013 – 2019).
 
Film berdurasi 90 menit dan screenplay ditulis Matthe Cirulnick dan Sylvester Stallone ini, kemungkinan merupakan sequel akhir dari film Rambo berdasarkan karakter dari novel First Blood  karya David Morrel, yang ditulisnya pada 1972. Lewat aktor Sylvester Stallone tokoh Rambo seolah menjadi legenda yang hidup melalui film franchise-nya First Blood (1982), Rambo: Frst Blood Part II (1985), Rambo III (1988), Rambo (2008), dan Rambo: Last Blood (2019).
 
Jika dicermati, tokoh Rambo yang telah identik dengan Stallone dalam sejumlah franchise film Rambo, Stallone sebagai John J. Rambo semenjak usia muda hingga usia tua, memang terlihat natural sehingga tak perlu adanya make-up karakter yang berlebihan. Ini pun mengingatkan aktor Al Pacino, saat memerankan Michael Corleone dalam The Godfather (1972), The Godfather Part II (1974), dan Godfather Part III (1990), serta  Harrison Ford dalam sequel film Star Wars.         




(Ius Artanto/IM)
MUSTPEAK