It Capter Two (Ends) : Badut Predator Vs Pecundang
MEDIUS • Film • Resensi
It Capter Two (Ends) : Badut Predator Vs Pecundang
Ius Artanto • Rabu, 04 September 2019 10:45 WIB
Film It Capter Two (Ends) merupakan sequel dari It Capter One. Masih berkisah tentang badut multi wujud bernama Pennywise. Pennywise bukanlah badut jenaka. Melainkan sang pembawa petaka. Ia doyan memamah para bocah lugu tanpa ragu. Lewat ritual rutinnya, dalam siklus 27 tahun, badut bergigi sangat runcing ini mencari mangsa di kota Derry. Seolah menjadi takdir, Si Badut harus berlawan dengan musuh lamanya, yakni, Kelompok Pecundang (The Losers Club). Tanpa gentar, akhirnya para pecundang itu datang untuk menghadang. Meski, peristiwa masa silam berkelindan bersama kenangan yang kelam. Itulah konsukuensi bagi mereka untuk “mengikis” Si Badut iblis nan sadis.
 
Film dibuka dengan peristiwa pemukulan terhadap dua anak muda oleh suatu kelompok pemuda berandal di kota Derry. Seorang korban yang wajahnya sudah babak-belur, kemudian dibuang ke kali dekat jembatan. Di tempat itu, Pennywise  (Bill Skarsgard) – kebetulan ia sedang berada di tepi kali - langsung mengunyah jejaka malang itu dengan deretan gigi runcingnya.
 
Atas tragedi berdarah tersebut, Mike Hanlon (Isaiah Mustafa) menghubungi semua kawan lamanya, yang sudah tidak tinggal sekota agar datang kembali ke kota Derry. Mike menjelaskan kepada Bill Denbrough (James McAvoy), Beverly Marsh (Jessica Chastain), Ben Hanscom (Jay Ryan), Richie Tozier (Bill Harder), Eddie Kaspbrak (James Ransone), Stanley Uris (Andy Bean) tentang kembalinya Pennywise yang telah meneror dan membunuh beberapa warga kota Derry. Setelah membunuh korbannya, Pennywise lantas mendekam di  gorong-gorong sembari menunggu mangsa berikutnya.
 
Namun, belum sempat ke Derry, Stanley memilih mengakhiri hidupnya dengan bunuh diri. Sedangkan lima teman lainnya, tetap menuju kota Derry bertemu Mike. Mereka berembuk untuk menyusun rencana dalam menghadapi Pennywise. Maka ditemukan cara tradisional dari warisan suku Indian, yaitu, sebuah tabung kulit bermotif untuk menjebak Pennywise agar masuk ke dalamnya, seperti fungsi lampu wasiat dan jin milik Aladdin.
 
Berkilas balik ke 27 tahun silam di kota Derry, seperti dikisahkan dalam Chapter One, The Losers Club – ketika anggotanya masih berusia bocah – yang terdiri dari Bill (Jaeden Martell), Ben (Jeremy Ray Taylor), Beverly (Sophia Lillis), Mike (Chosen Jacobs), Richie (Finn Wolfhard), Stanley (Wyatt Oleff), Eddie (Jack Dylan Grazer), pernah pula memburu dan membunuh Pennywise yang dijebak dalam sebuah sumur tua. Sejak itu, Si Badut yang identik dengan balon warna merah ini, terkunci di sumur yang amat dalam sambil menunggu  siklus 27 tahun untuk kembali memangsa. Seperti dikisahkan di awal setelah 27 tahun kemudian, Pennywise akhirnya kembali memburu para bocah untuk disantap. Dari berbagai kejadian yang mengerikan dan menggemparkan kota, maka The Losers Club datang lagi ke Derry untuk menghentikan kesadisan Si Badut predator.
 
Baca juga artikel terkait : IT: Badut yang Oxymoron
 
Maka, saat yang dinanti pun tiba. Si Badut diharapkan bakal terjebak dan masuk ke dalam tabung kulit. Tapi pada praktiknya, justru jebakan tersebut mengalami kegagalan. Pennywise sanggup melepaskan diri. Bahkan memiliki multi wujud yang sangat menyeramkan. Meski begitu, pada akhirnya, The Losers Club  dapat menemukan siasat jitu untuk membunuh Si Badut dengan kata-kata repetitif yang sugestif. Hanya dengan kata-kata, ternyata Si Badut yang semula meraksasa dan menyeramkan kemudian berubah wujud menjadi bayi badut dengan ekspresi penuh ketakutan. Dalam kondisi demikian, maka Pennywise dapat dimusnahkan.  
 
Bagi penonton yang belum sempat menyaksikan film It Chapter One, usah khawatir. Penonton tetap dapat mengikuti kronologis ceritanya. Pasalnya, film yang disutradarai Andy Muschietti dan screenplay ditulis Gary Dauberman berdasar novel Stephen King ini, tetap menyajikan pararel scene yang terdahulu dan masa kininnya. Visualisasi dalam scene pada masa lalu dan masa kininya tampil silih berganti pun berbarengan, tanpa harus menggunakan teknik deep to black atau white to black untuk menggambarkan peristiwa masa lalu. Praktisnya, cukup hanya menggunakan lagu Word Up (Cameo/1986), Cover Girl (New Kids On The Block/1988), dan Angel of The Morning (Juice Newton/1981) sebagai latar dekadenya, toh mampu menghanyutkan suasananya.
 
Film berdurasi 2 jam 49 menit ini, dimuati berbagai visual effect dan special effect yang sangat menyeramkan. Multi wujud yang dihadirkan dari sosok Pennywise mampu menggedor rasa takut dan menimbulkan kekagetan yang cukup maksi. Memang begitulah genre horror supranatural.


(Ius Artanto/IM)
MUSTPEAK
Rabu, 09 Oktober 2019 20:52 WIB
MISTERIUS • Cerita
Popie S. Hanjani
Rabu, 02 Oktober 2019 18:28 WIB
MEDIUS • Film • Resensi
Ius Artanto
Selasa, 17 September 2019 17:26 WIB
MEDIUS • Film • Resensi
Ius Artanto