Gundala: Pergulatan Seorang Jagoan
MEDIUS • Film • Resensi
Gundala: Pergulatan Seorang Jagoan
Ius Artanto • Kamis, 29 Agustus 2019 17:40 WIB
Film Gundala versi 2019 didominasi narasi problem sosial, ekonomi, dan politik yang aktual; penindasaan, ketidakadilan, penyuapan, pengkhianatan, dan premanisme. Beragam karakter tokohnya dimunculkan dengan segala masalahnya. Lalu Gundala hadir untuk menumpas kejahatan. Lantas, bukankah ini suatu narasi yang klise? Oh, bukan. Inilah  narasi mengenai realitas kehidupan manusia yang tidak akan berhenti. Sejak dahulu hingga kini, selalu ada kejahatan pun ada pula kebaikan, yang kerap dimetaforakan sebagai hitam-putih. Bahkan, bisa saja muncul berkelindan sebagai sesuatu yang abu-abu. 
 
Secara filmografi, film Gundala (2019) bukan sebagai sang pemula yang beraksi di layar lebar. Sebelumnya, pada 1981, sutradara  Lilik Sudjio memfilmkan manusia petir ini dengan judul Gundala Putra Petir berdasarkan komik bertajuk sama karya Hasmi (Harya Suraminata), yang terbit  pertama kali tahun 1969.
 
Terkait itu, Gundala versi 2019 bisa saja disebut sebagai film sequel dari film yang dirilis pada 1981. Meski kedua film tersebut, tidak memiliki benang merah dan kesamaan narasinya. Maka itu pula, Gundala 2019 bukanlah film remake. Namun demikian, tercatat, Gundala merupakan fenomena yang menarik untuk dicermati sebagai hasil karya Anak Bangsa dalam komik Indonesia, seperti tokoh jagoan komik Indonesia lainnya.
 
Gundala versi 2019 yang disutradarai dan skenario ditulis oleh Joko Anwar ini, narasinya cukup banyak dimuati easter egg atau pesan tersembunyi (hidden message) yang mengandung humor  atau satire sebagai bentuk kritik sosial. Mulai dari persoalan suap di lingkup anggota DPR, eksploitasi anak yatim piatu, preman yang menguasai pasar tradisonal, matinya suatu proses demokrasi, hingga pembunuhan terhadap pihak yang berlawanan. Semua tersaji dalam kepingan mozaik hitam-putih, pun abu-abu.
Dan sebagai upaya menghidupkan kembali para jagoan dari komik Indonesia, Gundala merupakan superhero atau jagon penampil awal. Sebab, kelak melalui Jagad Sinema Bumi Langit dan Screenplay Film, rencananya akan memfilmkan tokoh atau jagoan dari komik superhero Indonesia; Godam, Aquanus, Sri Asih, Si Buta Dari Gua Hantu, Mandala, dan lain-lain, seperti yang telah dilakukan DC Extended Universe dan Marvel Cinematic Universe saat merilis film para superheronya.
 
Sebagai komik yang fenomenal dan digemari pada masanya, sosok Gundala – seperti diakui Hasmi dalam suatu wawancara di media - terinspirasi dari kisah Kyai Ageng Sela yang terdapat dalam kitab Babad Tanah Jawi, yang tersohor karena mampu menangkap petir. Sedang uniknya, Gundala justru memiliki kekuatan supernya setelah ia lebih dahulu tersambar petir. Asumsinya, ada hujan dan petir, pasti ada Gundala.  Setidaknya, itulah sosok Gundala versi Joko Anwar, yang berkubang dalam hitam-putihnya kehidupan.
 
Kisah film diawali tentang bentrokan massal antara pendemo (para buruh) dengan para petugas keamanan pabrik. Para buruh mencoba menuntut haknya. Namun, pekelahian kolosal tersebut tak berlangsung lama. Melalui pengeras suara, bos pabrik memerintahkan untuk bernegosiasi dan meminta para buruh agar mengirimkan wakilnya.
 
Selang sehari, rekan perwakilan mereka justru dikabarkan tidak pulang ke rumah, dan malah diduga mati terbunuh. Mendengar kabar tersebut, akhirnya seorang pimpinan buruh (Rio Dewanto) dan rekan sekerjanya datang ke pabrik menuntut keadilan atas kematian rekannya. Tapi istri dari sang pemimpin demo (Marissa Anita) – yang kebetulan berkunjung ke rumah salah satu rekan perwakilan – secara tak sengaja telah melihat rekan kerja suaminya itu, ternyata tidak mati. Melainkan ia bersembunyi di dalam rumah akibat mendapat bayaran dari pihak pabrik.
 
Setelah mengetahui apa yang sesungguhnya terjadi, sang istri menyuruh anaknya Sancaka (Muzakki Ramdhan) menuju pabrik menyusul ayahnya untuk memberi kabar, sekaligus mencegah ayahnya agar tidak melakukan penyerangan ke pabrik. Namun terlambat. Ayah Sancaka justru tewas dibunuh oleh rekannya sendiri. Ia telah dikhianati. Demo dan perjuangan buruh telah dikotori suatu kepentingan.
Setelah peristiwa berdarah tersebut berlalu, Sancaka kemudian memilih hidup sendirian di jalanan. Keputusan ini ditempuh, ketika ia mulai menyadari bahwa ibunya ternyata tidak lagi kembali ke rumah, sejak pamit kepada Sancaka untuk mencari kerja demi menyambung hidup. Kini, bocah Sancaka hidup sebatang kara. Ia menjadi gelandangan, dan bertemu dengan Awang (Fariz Fajar) yang telah menolong dirinya, lalu mengajarkan ilmu beladiri sebagai bekal kepada Sancaka.
 
Film berdurasi 2 jam ini, pada beberapa bagian scene-nya menyodorkan beberapa adegan laga ala martial arts, seperti yang kerap dijumpai dalam genre film kung fu Mandarin. Sancaka atau Gundala yang sudah beranjak dewasa (Abimana Aryasatya) bekerja sebagai petugas keamanan di percetakan surat kabar. Dalam kehariannya, ia acap kali dihadapkan serangkaian peristiwa kejahatan. Namun, ia tidak peduli. Sebab, saat dahulu ia bocah dan masih hidup luntang-lantung tidak keruan, ia dinasehati oleh Awang, “Tidak usah mencampuri urusan orang lain, supaya tidak jadi masalah nantinya. Urus saja urusan sendiri.”
 
Nasehat itu terus diingatnya hingga dewasa. Maka itu, Sancaka selalu tidak peduli terhadap kejahatan dan urusan orang lain. Namun, lambat-laun, ada pergulatan dalam batinnya, ketika Sancaka menyaksikan realitan kehidupan yang dipenuhi ketidakadilan dan penindasan. Dan akhirnya, ia memang harus menumpas kejahatan. Kepeduliannya diawali ketika, ia harus menolong seorang wanita bernama Wulan atau Merpati (Tara Barso) yang selalu didatangi oleh preman dengan tindakkan yang semena-mena. Dari titik inilah, masalah baru semakin bermunculan menghadang diri Sancaka. Ia semakin terlibat dalam berbagai perkara yang semakin rumit. Namun, berkat kekuatan sengatan petir, tubuh Sancaka menjadi super kuat dan siap menjadi Gundala dengan kostum khas serta penutup wajah.
 
Meski secuil kisah di atas mengingatkan akan film Master Z: Ip Man Legacy (2018), namun Gundala sebagai film superhero Indonesia, tak seharusnya dibandingkan dengan sejumlah film superhero produksi DC dan Marvel. Dan juga tidak perlu berharap berlebihan tentang karakter jahat seperti yang ada dalam film Spider-man, Batman, pun Iron Man. Sebab, villain yang dihadapi Gundala ternyata bukanlah sosok karakter antagonis yang anomalus. Melainkan hanya manusia biasa yang kebetulan kaya raya, memiliki masa lalu yang buruk, berkarakter jahat, pendedandam, juga licik, yang dikenal dengan panggilan Pengkor (Bront Palarae). Namun, jika sudah membaca komik aslinya, tentu akan muncul permakluman. Sebab, kekhasan superhero atau jagon komik Indonesia, pada dasarnya memiliki narasi mistis yang bernuansa lokal. Begitupun yang tersaji dalam film Gundala.
 
Dan pada prinsipnya, usah juga menyandingkan film Gundala dengan gaya martial arts ala Donnie Yen atau Max Zhang yang tersaji dalam IP Man series atau Escape Plan: The Extractors (2019). Sebab, kekhasan ilmu bela diri gaya Gundala yang ditampilkan dalam film, semaksimalnya disesuaikan dengan yang termuat di komiknya.
 
Lalu visualisasi dengan warna sephia justru mencuatkan elemen estetik  dan artistik yang memikat. Sedang koreografi perkelahian dalam suasana hujan, seolah terbesit di benak kepala akan ingatan kehebatan kung fu Wing Chun dalam film The Grandmaster (2013) yang dibintangi Tony Leung Chiu Wai. Dan juga ide mengenai setting di suatu pabrik dan stasiun kereta tua, toh juga sudah cukup menyulut decak kagum penonton. Pun kesungguhan Joko Anwar dalam menghadirkan sosok Gundala sebagai sang penumpas segala bentuk kejahatan dengan ilmu bela dirinya dan kekuatan petirnya melalui visual effect, patut diacungkan jempol.  Walaupun, kostum Gundala tak sesuai dengan komik aslinya. Toh itu wajar saja. Bijaknya, anggap saja sebagai upaya proses kreatif dan modifikasi dalam memenuhi tuntutan zamannya.
 
Lantas, ini hanya sekadar iseng kok. Bukan maksud apa-apa. Sutradara Joko Anwar yang sekarang terlihat ditumbuhi dengan brewok atau jenggot, jika dicermati ternyata juga menulari film Gundala. Artinya, sebagian besar aktornya yang berperan dalam Gundala, juga berbrewok atau berjenggot. Mulai dari aktor Bront Palarae, Lukman Sardi, Zidni Hakim, Aqi Singgih, hingga Cecep Arif Rahman. Entah sengaja atau tidak. Mungkin, ini bisa saja merupakan ciri khas dari film Joko Anwar. Toh ini pun lazim, ketika kita sempat menyaksikan film-film produksi Hollywood yang menampilkan tokoh berbrewok. Misalnya saja film Gangs of New York karya sutradara Martin Scorsese, yang juga menyajikan perkelahian kolosal.


(Ius Artanto/IM)
MUSTPEAK