Bumi Manusia: Resistensi Kaum Marginal Terhadap Hegemoni Kolonial
MEDIUS • Film • Resensi
Bumi Manusia: Resistensi Kaum Marginal Terhadap Hegemoni Kolonial
Ius Artanto • Jumat, 16 Agustus 2019 10:46 WIB
Salah satu novel masterpiece berjudul Bumi Manusia karya Pramoedya Ananta Toer dari bagian awal “tetralogi Buru” (Bumi Manusia, Anak Semua Bangsa, Jejak Langkah, Rumah Kaca), telah diadaptasi ke film oleh sutradara Hanung Bramantyo bertitel Bumi Manusia (2019). Sebelumnya, film bertajuk Kartini – juga disutradarai Hanung Bramantyo - yang diangkat dari buku Panggil Aku Kartini Saja karya Pramoedya Ananta Toer, pun telah menghias layar bioskop pada 2017. Serupa dengan Kartini, tokoh RM. Tirto Adhi alias Minke dan Nyai Ontosoroh atau Sanikem (pribumi) lewat Bumi Manusia, juga hidup dalam hegemoni kolonial Belanda. Sebuah resistensi yang maha rumit dari kaum marginal, ketika harus membela dan mempertahankan hak-haknya.    
 
Pergulatan para insan marginal dalam kungkungan hegemoni, feodalisme, dan tirani dari para kaum penguasa dan imperialis telah tercatat dalam beragam lembar historis. Baik yang terdapat dalam buku sejarah maupun melalui pemberitaan di Koran atau majalah. Inilah yang kerap menjadi kekhasan karya Pramoedya Ananta Toer, tatkala ia menulis sejumlah buku atau novelnya dengan dilatari fakta historis bagi bangsanya.
 
Novel Bumi Manusia merupakan karya Pramoedya yang juga berlatar sejarah zaman kolonial Belanda. Melalui penyutradaraan Hanung Bramantyo dan penulis skenario Salman Aristo di bawah perusahaan produksi Falcon Pictures, maka film Bumi Manusia menampilkan sejumlah aktor dan aktris yang siap memerankan tokoh-tokohnya.
 
Dikisahkan, RM. Tirto Adhi alias Minke (Iqbaal Ramadhan) dan Robert Suurhof (Jerome Kurnia) adalah siswa HBS (Hogere Burgerschool) di Surabaya atau setingkat SMA. Prinsipnya, HBS merupakan sekolah dikhususkan untuk orang Belanda dan golongan priyayi. Sekadar catatan, sebetulnya HBS pada praktiknya telah menyimpang dari isi Politik Etis (Etische Politiek)  bidang pendidikan yang digagas Van Deventer (1890), yang juga berlaku pada zaman Kartini sejak awal abad ke-20.
 
Suatu waktu, tetiba Minke diajak Suurhof berkunjung ke rumah temannya, Robert Mellema (Giorgino Abraham). Rumah tersebut berada di tengah wilayah perkebunan Bourderij Buitenzorg (perusahaan pertanian dan produsen susu) yang dikelola Nyai Ontosoroh (Sha Inge Febriyanti) istri gelap Herman Mellema (Peter Sterk), juga sebagai ibu kandung Robert dan Annelies (Mawar Eva de Jongh) yang cantik.
 
Tatkala Suurhof dan Robert asyik berbincang duduk semeja, Minke justru berada di kursi terpisah – sebagai simbol diskriminasi - hanya karena ia seorang pribumi. Tak lama berselang, Annelies, adik perempuan Robert muncul dari dalam rumah dan menyapa Minke, lalu mereka berkenalan. Karakter Annelies berbeda dengan Robert. Annelies lebih bangga menjadi pribumi seperti ibunya. Sedang Robert condong ke western seperti ayahnya. Kelak pada jelang bagian akhir film, menjadi pribumi merupakan kebanggaan bagi Jan Dapperste (Bryan Domani), anak angkat pendeta dan teman karib Minke, yang lebih memilih nama prbumi, Panji Dharma. 
 
Seiring waktu berjalan, hubungan Minke dengan Annelies justru semakin menumbuhkan benih-benih cinta yang tulus dan murni. Meski keduanya harus menghadapi berbagai kendala dan cobaan. Begitupun Nyai Ontosoroh yang bergelut bersama problem dilematis yang terkait dengan suaminya – lantaran statusnya sebagai gundik dari mendiang Herman Mellema – yang tewas terbunuh di rumah bordir akibat sipilis dan kemudian diracun oleh seorang geisha bernama Maiko atas perintah Ah Tjong (Kelly Tandiono), pemilik rumah bordir. Terkait dengan statusnya itu, ternyata ketentuan hukum Belanda mampu melenyapkan segala hak Nyai Ontosoroh, yaitu, hak atas anak (Annelies), tanah perkebunan, rumah tinggal, dan juga perusahaan.
 
Hingga akhirnya, dalam kelelahan, Minke mengucap, “Kita telah kalah.” Tapi bagi Nyai Ontosoroh, ia telah melakukan resistensi dan itu bukan kalah. Seperti katanya, “Kita telah melawan. Melawan sebaik-baiknya, sehormat-hormatnya,” timpal Nyai Ontosoroh menguatkan Minke. Dan utamanya, pada rangkaian scene ini, Ine Febriyanti mampu mencuatkan kualitas aktingnya.
 
Mencoba mencermati problem yang dialami Nyai Ontosoroh dan Annelies memang sangat kental dengan hegemoni kolonial dan budaya patriarki. Betapa tidak. Sejak masih usia muda, Sanikem sudah dijual oleh ayahnya ke pejabat Belanda, dan kemudian diserahkan kepada Herman Melleman untuk dijadikan gundik atau nyai. Begitupun saat ia sudah menjadi pendamping hidup Tuan Herman Mellena, hidupnya masih saja di kelilingi kesewenang-wenangan. Sedangkan Annelies pada usia 14 tahun, ia telah mengalami traumatis berkepanjangn akibat perkosaan yang dilakukan kakaknya di kandang sapi.
 
Lain dengan Minke. Kasih sayang ibunya (Ayu Laksmi) lebih tercurah pada Minke dibanding kakaknya. Berbeda  dengan ayahnya (Donny Damara), yang acap kali memarahi dan menekan Minke karena telah membuat aib keluarga. Meski pada akhirnya, justru Minke memberi rasa bangga dan kehormatan bagi ayah dan keluarganya, ketika isi pidato Minke justru dipuji oleh para tuan Belanda.   
 
Film terus bergulir. Tanpa rasa takut, Minke dan Nyai Ontosoroh mencoba melakukan resistensi atau perlawanan terhadap penindasan yang dilakukan para tuan Belanda. Minke melawan dengan tulisan di surat kabar. Sedang Nyai Ontosoroh melalui tutur kata tak gentar untuk mendobrak ketidakadilan. Walau Nyai Ontosoroh hanya gundik dan orang desa, namun berkat pembelajaran yang diberikan suaminya, ia pun mampu menunjukkan cara berpikir yang maju dan modern.
 
Film berdurasi 180 menit ini, seolah terasa sempit untuk memuat keseluruhan detail isi novelnya. Sejak awal, Hanung Bramantyo memang lebih mengeksploitasi hubungan cinta Minke dengan Annelies, agar mampu menjangkau penonton usia muda. Apalagi dengan memajang Iqbaal Ramadhan, yang kadung identik dengan perannya sebagai Dilan. Bahkan, yang sempat terabaikan adalah beberapa ucapan Igbaal yang tidak konteks dengan zaman dan budaya tutur, salah satu contohnya, “masak sih?!” Resikonya, Iqbaal seolah belum mampu larut dalam karakter Minke.
 
Bagi yang sudah membaca novel Bumi Manusia tentu hal tersebut langsung bisa dikentarai, perbedaan antara novel dengan film. Apalagi realita dan faktanya, RM. Tirto Adhi atau RM Tirto Adhi Soerjo merupakan jurnalis pertama Indonesia yang lahir di Blora pada 1880, yang bisa disimak dalam buku karya Pramoedya Ananta Toer, Sang Pemula.
 
Sedang dalam bidang tata artistik, film Bumi Manusia – pun film-film Indonesia lainnya berlatar sejarah – bakal ditemukan sejumlah visualisasi bangunan terlihat baru,  dan juga plang-plang tulisannya sangat terasa sehabis dicat, sehingga menghilangkan unsur kekunoannya atau kesan antik pada masa silamnya. Meski begitu, pada aspek properti; andong, kereta api, lampu-lampu, wardrobe, senapan, serta beberapa jenis makanan dan cemilannya,  perlu juga diacungi jempol.
 
Walaupun, film Bumi Manusia – juga tentang sejarah Indonesia seperti film Cau-bau-kan (2002), kerap terlihat kereta api yang ditampilkan hanya sebatas melintas tanpa jarak terjauh lengkap dengan latar belakangnya. Artinya, kehadiran kereta api sekadar memberikan kesan kuno saja, tapi kurang menyatu antara subyek dengan situasi zaman atau lingkungannya lantaran visual yang disajikan hanya pada shot pendek seperti puzzle tanpa susunan yang komplit. Simpul kata, visualisasinya kurang sanggup menyajikan secara long shot.
 
Inilah problema industri film Indonesia, ketika sineas ingin menyajikan film berlatar masa silam antara tahun 1500-an hingga 1900-an. Pasalnya, industri film Indonesia tidak memiliki lahan luas yang berisi replika masa lalu, seperti studio Hollywood. Jika perfilman Mandarin bisa menyajikan realitas pada zaman dinasti hingga republik, karena di Cina mampu merawat segala bangunan kunonya dengan baik dan apik, pun film-film Barat berlatar Eropa. Padahal, Indonesia sangat kaya dengan kisah sejarah yang menarik dan unik untuk diangkat ke layar lebar. Misalnya, tentang eksistensi wangsa Syailendra, Sanjaya, Mataram, Sriwijaya, Singasari, Majapahit, tokoh Raden Wijaya, Tribhuana Tungga Dewi, Hayam Wuruk, Gajah Mada, Diponegoro, Sisingamangaraja XII, Pertempuran laut Aru, dan lain-lain. Bahkan tercatat, sinema Indonesia dengan gemilang sebagai kadar kualitasnya pernah menyajikan film Cut Nyak Dien (1988) dari hasil karya sutradara Eros Djarot.
 
Tapi apapun itu, paling tidak, Bumi Manusia telah menyodorkan sekelumit problem sosial politik yang rumit pada masa kolonial Belanda. Meski porsinya tidak sebesar apa yang ada di dalam novel asli. Setidaknya, bagi penonton yang belum membaca Bumi Manusia secara utuh, dapat menikmatinya dalam durasi 3 jam di dalam bioskop dengan sejuknya hembusan AC.  Itu juga sudah cukup.


(Ius Artanto/IM)
MUSTPEAK