The Fast and the Furious Presents: Hobbs & Shaw Adu Jotos Di Tengah Virus Mematikan
MEDIUS • Film • Resensi
The Fast and the Furious Presents: Hobbs & Shaw Adu Jotos Di Tengah Virus Mematikan
Ius Artanto • Kamis, 01 Agustus 2019 15:10 WIB
Film The Fast and Furious  (TFF/2001 – 2015) memang identik dengan ajang adu balap mobil yang dibintangi Vin Diesel sebagai Dominic Toretto dan Paul Walker selaku Brian O’Conner. Bahkan faktanya, duo atau duet Diesel dan Walker telah melekat kuat sebagai jogoan balap mobil bermesin superturbo, sehingga melanggengkan suksesnya melahirkan sequel, pun film spin-off-nya. Dan The Fast and the Furious Presents: Hobbs & Shaw (HS/2019) merupakan franchise atau spin-off dari TFF. Tak disangkal, tentu film HS menyodorkan sesuatu yang berbeda dari induk film-film terdahulunya. Apa itu?
 
Meski dalam The Fast and the Furious 8 (F8/2017) Paul Walker tak lagi muncul – karena ia tewas akibat kecelakaan mobil pada 30 November 2013 di Valencia, Santa Clarita, California, USA - namun sequel TFF memang harus tetap berlanjut. Maka akhirnya, pada April 2017 seri ke-8 dari TFF pun beredar dengan judul Fate and Furious (F8/2017).
 
Dan yang mengejutkan, dalam Furious 7 (2015) dan F8,  produser film sengaja menampilkan aktor Dwayne Johnson dan John Statham untuk memerankan Luke Hobbs dan Deckard Shaw. Hasilnya, dua film tersebut pun menggegam sukses yang gemilang. Konsukuensinya, TFF memiliki spin-off-nya dengan judul  The Fast and the Furious Present: Hobbs & Shaw yang tentunya menampilkan Johnson dan Statham. Suatu hal yang sangat lumrah di ranah industri dalam meraih laba melalui konsep franchise.
 
Lazimnya, kisah mengenai “si baik dan si jahat” dalam sejumlah film memang tak pernah usang.  Khususnya kisah tentang duet tokoh polisi, detektif, atau agen rahasia dalam menumpas kejahatan lewat film,  tentunya sudah banyak digarap melalui layar lebar. Sebut saja film Beverly Hills Cop (Eddie Murphy dan Judge Reinhold/1984), Lethal Weapon (Mel Gibson dan Danny Glover/1987), Tango and Cash (Sylvester Stallone dan Kurt Russell/1989), 48 Hours (Nick Nolte dan Eddie Murphy/1990), Rush Our (Jackie Chan dan Chris Tucker/1998), Miami Vice (Colin Farrell dan Jamie Foxx/2006), 2 Guns (Danzel Washington dan Mark Wahlberg/2013), Cop Out (Bruce Willis dan Tracy Morgan/2010), dan lain-lain.
 
Biasanya, duet tokoh yang cenderung berbeda karakter, budaya, usia, dan identitas ini, dipastikan menyulut perspektif saling kontra dan saling ejek, sehingga acap kali memicu kelucuan. Demikian pula film Hobbs & Shaw ini. Meski HS menggunakan label The Fast and the Furious, namun justru banyak menampilkan adegan adu jotos plus adu balap mobil dan motor, pun perkelahian kolosal.
 
Dikisahkan seorang agen rahasia M16, Hattie Shaw (Vanessa Kirby), mencoba merebut sebuah kapsul berisi virus dari tangan Brixton (Idris Elba) - seorang supervillain yang raganya dimuati mesin mekanis otomatis menyerupai manusia cyborg (cybernetic organism) – yang berambisi menguasai jagad bumi untuk memusnahkan para manusia lemah.
 
Melalui berbagai rintangan dan perjuangan yang maha berat, Hattie akhirnya berhasil merebut kapsul virus tersebut, kemudian menyimpannya dengan cara menyuntikannya ke dalam tubuh. Sementara Hobbs dan Shaw ditugasi untuk mencegah dan melindungi agen Hattie dari kejaran dan serangan Brixton dan anteknya.
 
Namun, sebelum Hobbs dan Shaw menjalankan misinya, keduanya kerap terjadi perselisihan dan saling tidak mau mengalah. Ini yang justru menimbulkan kelucuan. Bahkan, dalam beberapa dialognya, menariknya film ini kadang menyelipkan quotes dari Friedrich Nietzsche (Filsuf asal Jerman), dan juga quotes dari Bruce Lee (Sang Raja Kung Fu), yang terkenal dengan pernyataan metafora dan filosofisnya.
 
Jika pernah menonton Furious 7 dan F8, tentu kisah Hobbs dan Shaw akan mudah dipahami. Mengingat dalam kedua film tersebut, mereka sudah saling kenal dan bertemu. Duet ini memang sudah diplot untuk dibuatkan film khususnya (spin-off) sebagai franchise dari film The Fast and the Furious.
 
Film berdurasi 137 menit yang disutradarai David Leitch dan screenplay ditulis oleh Chris Morgan ini, ternyata sejak awal telah dipenuhi adegan adu jatos, balap mobil dan motor, plus baku tembak dari senjata canggih model milenial.
 
Detailnya, mencermati film HS secara kemasan dan kontennya memang cenderung bernuansa milenial atau hi-tech. Baik itu dari sisi sang manusia cyborg sebagai supervillain, sepeda motor super canggih, senjata otomatis, wardrobe, maupun kapsul virus yang sangat mematikan manusia.
 
Mungkin, kita bisa sepakat. Film HS seolah menjadi sebuah film yang memilki entitas futuristik dan science fiction, yang ternyata sangat berbeda dengan film induknya yang telah melahirkan sequel. Namun, usah khawatir, nyatanya entitas tersebut mampu bersinergi dengan beragam adegan kelahi menakjubkan bergaya martial art-nya, action spektakulernya, pun perkelahian kolosalnya. Sungguh puas. 


(Ius Artanto/IM)
MUSTPEAK