Child’s Play: Teror Boneka Berpisau
MEDIUS • Film • Resensi
Child’s Play: Teror Boneka Berpisau
Ius Artanto • Rabu, 10 Juli 2019 23:54 WIB
Film berkisah tentang “boneka pembunuh” sebagai genre horor, memang bukan sesuatu yang baru. Sebut saja, Dead of Night (1945), Devil Doll (1964), Asylum (1972), The Pit (1981), Magic (1978), Pin (1988), dan masih banyak lagi yang lainnya. Namun dari sekian banyak judul film yang telah dituliskan, patut diakui, film Child’s Play (1988) merupakan yang paling fenomenal. Betapa tidak. Film tersebut telah banyak memiliki sequel-nya. Apalagi setelah 30 tahun kemudian, film Child’s Play kembali digarap dan seolah siap menggedor rasa ketakutan penonton.  
 
Mencoba mencermati film genre horor yang belakangan masif, khususnya kisah boneka pembunuh, seolah industri film horor sedang mengalami stagnasi kreativitas. Setidaknya tercermin dalam film Child’s Play versi 2019. Child’s Play memang remake dari Child’s Play versi awal yang dirilis 1988. Bagi yang telah terbiasa menonton sederet sequel tentang sosok boneka bernama Chucky, yang membunuh dengan sebilah pisau lewat judul Child’s Play (1988), Child’s Play 2 (1990), Child’s Play 3 (1991), Bride of Chucky (1998), Seed of Chucky (2004), Curse of Chucky (2013). Cult of Chucky (2017), dipastikan film Child’s Play (2019) bukan sebagai film horor istimewa. Sebab, adegan pembunuhannya masih terkesan repetitif seperti pada seri-seri sebelumnya.
 
Dikisahkan, suatu waktu di Vietnam, seorang karyawan pabrik boneka produksi Kaslan yang memproduksi boneka Buddy, merasa sangat tersinggung dengan teguran bosnya yang dianggap keterlaluan. Akibat tegurannya itu, karyawan tersebut melampiaskan  kemarahannya dengan mengubah system komputer koneksitas chip-nya yang ada di tubuh boneka Buddy. Maka, secara otomatis boneka kegemaran anak-anak itu tidak berfungsi sebagaimana mestinya.
 
Setelah maksud dan niat sabotase-nya dianggapnya behasil, lalu sang pekerja pabrik itu memasukkan bonekanya ke dalam kardus. Kemudian selang tak berapa lama, ia pun bunuh diri dengan cara menerjunkan dirinya dari ketinggian gedung pabrik. Pada akhirnya, tanpa bisa dibendung dan sulit dikontrol, boneka Buddy yang ”cacat” itu bercampur dengan boneka-boneka normal Buddy lainnya, yang sudah terlanjur didistribusikan ke toko-toko jaringan milik Kaslan.
 
Sementara di suatu toko, ada seorang pembeli telah mengembalikan boneka Buddy yang telah dibelinya. Si pembeli merasa, boneka Buddy tersebut mengalami gangguan dan tidak berfungsi dengan baik. Untuk itu, boneka tersebut harus dikembalikan ke Kaslan. Namun, bagi Karen Barclay (Aubrey Plaza), seorang janda dan seorang pelayan toko, boneka tersebut akan menjadi mubazir jika dikembalikan ke pabrik pembuatnya. Maka itu, Karen  meminta kepada Wes (Amro Majzoub) - seorang karyawan toko di bagian barang - agar boneka itu diberikan saja untuk dihadiahkan kepada anaknya yang akan berulang tahun. Sebab, anaknya, sangat menyukai boneka Buddy.
 
Setiba di apartemen sederhananya, Karen lalu membungkus kardus bonekanya dengan kertas kado dan siap untuk dihadiahkan kepada anaknya, Andy Barclay (Gabriel Bateman), yang menderita tuna rungu. Tetapi reaksi Andy ternyata biasa saja, ketika menerimanya lantaran Si Buddy sudah dianggapnya ketinggalan zaman dan terlihat sangat aneh. Namun, sesaat kemudian, akhirnya Andy menerima boneka itu. Sebab, ia tidak ingin mengecewakan ibunya yang telah bersusah payah menghadiahkan boneka impiannya. Dan tentunya, maksud ibunya baik, agar Andy bisa merasa bahagia dan memiliki teman baru, walau itu hanya sebuah boneka. Sebab, Andy adalah seorang bocah 13 tahun yang kesepian dan terkucil dari lingkungan pergaulannya.
Setelah boneka itu dikeluarkan dari kardusnya, Andy mulai mencoba mengoperasikan boneka itu dengan mengkoneksikannya ke handphone. Ajaibnya, boneka itu seolah hidup layaknya manusia karena bisa bergerak, berjalan, bahkan berkomunikasi.
 
Sejak itu, Andy memiliki teman baru. Dan boneka itu lebih suka memperkenalkan dirinya sebagai Chucky (suara: Mark Hamill), bukan Buddy. Bersama Andy, Chucky menyerap semua informasi dan belajar sesuatu dari yang berada di sekitarnya. Mulai dari umpatan atau kekesalan Andy terhadap Shane (David Lewis) teman kencan ibunya, adegan sadis dalam film yang ditontonnya, hingga siapapun yang dianggap merebut Andy sebagai temannya. Inilah yang memicu Chucky sehingga memiliki naluri untuk membunuh. Dan Chucky sangat gemar membunuh korbannya dengan sebilah pisau, seperti Michael Meyers dalam film Halloween (1978/2007/2018) atau para pembunuh copycat lewat sequel film Scream (1996/1997/2000) sebagai film American Slasher.
 
Dalam konteks psikologis berdasar teori Neil Miller dan John Dolland, serta Albert Bandura, Chucky mencoba melakukan imitasi, mempelajari, serta mengamati dari fenomena yang ada di sekelilingnya. Seperti balita yang melakukan peniruan akibat terstimuli dari luar dirinya yang telah mempengaruhi benak pikiran, hati, dan nalurinya. Demikian pula Chucky. Ia berubah menjadi boneka peneror dan pembunuh yang haus darah.
 
Film berdurasi 90 menit ini, tanpa dipungkiri, dalam sisi suspense thriller-nya ternyata mampu menciptakan tensi ketegangan yang cukup maksi. Meski terkesan sadistis. Walau begitu, ada beberapa scene yang menyelipkan unsur jenaka, sehingga agak melunturkan kengeriannya.
 
Lepas dari itu, upaya sutradara Lars Klevberg dan screenplay oleh Tyler Burton Smith  berdasar kreasi karakter Don Mancini dalam rangka untuk melanggengkan sukses dari seri-seri terdahulunya melalui remake, nampaknya memang berhasil mereka lakukan. Sebab, pada pemutaran perdana, bioskop cukup dipadati penonton.
 
Sekadar catatan, walau karakter boneka Chucky telah digarap berkali-kali dalam kisah beragam, nyatanya tetap memiliki magnet yang kuat bagi para penggemar film horor untuk datang ke bioskop. Tak heran pula, jika produser film The Conjuring kemudian membuat versi spin-off melalui boneka Annabelle dengan judul Annabelle (2014). Bahkan, kesuksesan Child’s Play (1988) menulari para produser film untuk membuat film sejenis, macam,  Pinocchio’s Revenge (1996), Dolly Dearest (1991), Puppet Master (1989), The Doll Master (2004), The Boy (2016), Dead Silence (2007), dan lain-lain. Dan tentunya itu perlu dimaklumi. Sebab, begitulah mekanisme logika kapitalistik dalam suatu industri perfilman.


(Ius Artanto/IM)
MUSTPEAK