Hotel Mumbai: Aksi Teror Di Hotel
MEDIUS • Film • Resensi
Hotel Mumbai: Aksi Teror Di Hotel
Ius Artanto • Sabtu, 06 April 2019 16:18 WIB
Sekelompok anak muda bersenjata laras panjang menembaki sejumlah orang di tempat keramaian, lalu  mengepung sebuah hotel terdekat. Mereka melakukan aksi teror berdarah dan meledakkan beberapa ruang hotel. Api berkobar menjilati sebagian dindingya. Puluhan tamu hotel tewas tertembak, serta beberapa lainnya terjebak di dalam hotel.  Itulah tragedi kemanusian paling berdarah yang terjadi di Mumbai, India,  pada 26 November 2008. Lewat karya sutradara asal Australia, Anthony  Maras, peristiwa nyata tersebut (based on true events) kembali dikisahkan melalui skenario  yang ditulis John Collee dan Anthony Maras dengan judul Hotel Mumbai (2019).
 
Sejak pukul 17.30 calon penonton mulai memadati lobi bioskop pada Kamis, 4 April 2019, dalam rangka pemutaran preview film Hotel Mumbai yang diperuntukan kalangan media dan  para tamu undangan. Tak lama berselang, suasana khas India cukup terasa di sekitar lobi bioskop XXI, Plaza Senayan, Jakarta, ketika beberapa wanita nan rupawan melintas mengenakan pakaian ala India. Nampaknya, antusiasme penonton tehadap preview film Hotel Mumbai cukup tinggi.
 
Lalu ketika jam telah menunjukkan pukul 18.40, dua pintu teater  dibuka. Penonton langsung berhamburan masuk mencari posisi tempat duduk yang nyaman. Setelah teater sudah dipadati penonton maka  film yang ditunggu-tunggu pun diputar.  Tanpa komando, penonton mulai tenang dan menyimak sajian visual yang terpantul di layar.
 
Film bergulir kronologis dengan caption sebagai penunjuk waktu real time dalam setiap peristiwanya. Editing yang rapi dengan transisi yang runut, memicu penonton untuk terus hanyut dalam menyimak rangkaian kisahnya.
 
Film diawali 10 anak muda  sedang menyebrangi sebuah perairan  dengn menggunakan perahu menuju kota Mumbai. Setiba di sana, mereka lalu berkendara taksi. Tanpa diduga, seturun dari taksi, mereka tetiba memberondongkan peluru ke arah kerumuman orang di stasiun kereta dan pasar. Banyak korban berjatuhan.  Ada yang terluka parah, pun ada yang tewas. Apakah itu orang tua, orang muda, pria, wanita, atau anak kecil. Pokoknya tembak.  Mereka tak peduli. Begitulah faktanya.
 
Menghadapi situasi yang chaos dan mencekam, tentu masing-masing orang mencoba menyelamatkan diri untuk menghindar dari bahaya dan berusaha mencari tempat teraman. Tanpa piker panjang lagi, akhirnya orang-orang yang penuh ketakutan itu menuju sebuah hotel mewah terdekat bernama Taj. Tanpa bisa dibendung semua orang itu ingin masuk ke hotel tersebut. Pada akhirnya berkat kebaikan manajer hotel, mereka pun diperkenankan memasuki hotel dan langsung berhamburan menuju lokasi yang aman. Namun, tanpa disadari, 9 anak muda bersenjata – yang mirip kelomok teroris itu – pun  berhasil lolos memasuki hotel. Dan tentunya, semua oran g yang masih berada di lobi hotel, tanpa ampun dihujani peluru. Para korban tersungkur tewas mengenaskan. Darah pun  membanjiri lantai.
 
Sedangkan, sebagian besar  tamu hotel yang berada di ruang resto memilih untuk bersembunyi, ketika mengetahui terjadi insiden berdarah. Dan ruang resto itu masih dianggap pilihan sebagai tempat teraman. Setidaknya menurut salah satu karyawan bernama Anjur (Dev Patel) - seorang pelayan pengantar minuman dan makanan hotel – yang kemudian mempimpin misi penyelamatan para tamu hotel agar selamat dari ancaman teroris. Meski pada akhirnya, banyak tamu hotel yang justru mati tertembak, saat ingin menyelamatkan diri.
 
Aksi teror yang dilakukan para anak muda tersebut dipimpin oleh Abdullah (Suhail Nayyar) dan Imran (Amandeep Singh), yang dari waktu ke waktu kerap mendapat  arahan secara jarak jauh melalui HT (Handy Talky) dari sang mentor, yang tidak pernah diketahui sosok dan keberadaannya. Sungguh kasihan sebenarnya nasib para anak muda tersebut. Mereka telah diperalat dan didoktrin sedemikian rupa oleh sang mentor, sehingga bisa tega untuk membunuh siapa saja, tanpa kecuali.  Perbuatan mereka sangat melampui batas kemanusiaan.
 
Film berdurasi  123 menit ini, sarat dengan adegan menegangkan sekaligus mencekam, tatkala para teroris itu dengan mudahnya memberondongkan peluru senjatanya terhadap semua penghuni hotel yang dijumpainya.  Meski demikian, film telah mendapat banyak pujian dan sukses di beberapa negara. Tak heran, jika IMDb dan Rotten Tomatoes memberinya rating 4 bintang. Dan film ini memang patut untuk mendapatkannya.


(Ius Artanto/IM)
MUSTPEAK