Aquaman: Kisah Sang Raja Anomalus
MEDIUS • Film • Resensi
Aquaman: Kisah Sang Raja Anomalus
Ius Artanto • Jumat, 14 Desember 2018 08:25 WIB
Salah satu tokoh superhero (Justice League) koleksi DC Comics difilmkan, Aquaman. Kali ini berkisah tentang perebutan tahta kerajaan antara sang kakak dan adik yang terjadi di dasar laut Atlantis.  Timbul pertanyaan. Lantas siapakah  di antara keduanya yang paling berhak menjadi raja? Apakah Arthur (sang kakak) yang bukan berdarah murni atau Orm (sang adik) yang berdarah tulen keturunan raja? Akhirnya, demi mendapatkan kedudukan tahta raja, akhirnya keduanya melakukan pertarungan dan pertempuran sengit yang tak bisa terhindarkan…
 
Dikisahkan, pada 1985, seorang lelaki penjaga mercu suar bernama Tom Curry (Temuera Morrison) mendapati seorang perempuan  tergeletak di sebuah pantai di antara batu karang. Perempuan itu pingsan dan mengalami luka cukup parah. Tanpa buang waktu, Tom  menolongnya kemudian mengobatinya. Tak terduga, ternyata perempuan itu bukan manusia biasa. Dia berasal dari dunia bawah laut (Atlantis) bernama Atlanta (Nicole Kidman)
 
Sejalan waktu bergulir, Tom dan Atlanta akhirnya saling jatuh cinta kemudian berkawin, dan akhirnya melahirkan seorang bayi lelaki diberi nama Arthur. Secara kodratnya, Arthur merupakan manusia berdarah campuran, yakni, terlahir dari hasil perkawinan antara manusia penghuni daratan dengan manusia yang hidup di dasar laut. Dari perkawinan campuran ini, yang memungkinkan Arthur bisa hidup di antara dua dunia; di daratan dan di lautan. Dan akibat kenyataan tersebut, maka Arthur menjadi manusia yang  anomalus – meminjam konsep Antropolog dan Etnologi Prancis Claude Levi-Strauss – seorang yang mampu mengangkangi kategori oposisi biner: lautan dan daratan. Dan juga Arthur meniadakan segala kategori, yang berarti Arthur bukanlah mahkluk homo sapiens, tapi juga bukan murni manusia dasar laut sehingga mengaburkan batasan kategorinya.
 
Sekadar mengenang kisah masa lalu tentang manusia daratan dan juga sekaligus manusia lautan,  tak bisa ditepis, maka ingatan langsung melayang ke dekade 1970-an dan 1980-an. Pada dekade tersebut, teringat akan film serial televisi yang ditayankan TVRI berjudul Man From Atlantis (1977 – 1978), yang dibintangi Patrick Duffy sebagai Mark Hrris, pun cerita komik  Deni Manusia Ikan -  pernah dimuat secara berseri dalam majalah Bobo – yang juga berkisah mengenai manusia daratan dan lautan.
 
Memang jika mencermati dua kisah tersebut di atas, seolah serupa tapi tak sama dengan Arthur atau Aquaman. Detailnya, Mark Harris (Man from Atlantis)  sosoknya terlihat sebagai manusia daratan yang memiliki kepekaan pada mata dan telinganya.  Namun, tempat tinggal Mark Harris selalu berada di lautan. Lalu untuk Deni  (Deni Manusia Ikan) wujud fisiknya memiliki selaput di celah-celah jemari tangan dan kaki, serta mempunyai telinga seperti insang. Selain itu, Deni bisa berbicara dengn bahasa ikan.
 
Sedangkan Arthur atau Aquaman digambarkan sebagai  manusia yang kuat dan pandai bertarung dengan tubuh  kekar yang memilki sisik menyerupai tato.  Meski saat Arthur masih masa kecil, sisik itu belum muncul di tubuhnya. Namun, setelah beranjak dewasa, Arthur (Jason Momoa) menjadi lelaki yang kekar, kuat, kebal, mahir bertarung, dan selalu siap menjadi penolong bagi siapa saja yang membutuhkan. Baik  yang berada di lautan maupun di daratan. Selain memilki beragam kekuatan, seperti juga Deni, sejak kecil Arthur pun sanggup berkomunikasi bersama ikan-ikan  besar dan juga pandai  berenang  di kedalaman laut dengan kemampuan super kilat.
 
Detialnya, kemahiran Arthur dalam bertarung serta kemampuannya menggunakan tombak trisula (warisan ibunya)  berkat ajaran Vulko (Willem Dafoe), yang telah ikut mengasuhnya dan melatihnya sejak kecil. Hal ini yang kelak menjadi bekal dirinya dalam menghadapi segala ancaman dan munculnya  mara bahaya. Maka tak heran, jika Arthur tak segan untuk membasmi segala bentuk kejahatan, termasuk pasukan bajak laut dipimpin Manta (Yahya Abdul-Mateen II), yang sangat mendendam kepada Arthur karena  membiarkan ayahnya meninggal dunia akibat tertindih torpedo kapal selam. Dalam kisah ini, Manta berkolaborasi dengan Orm untuk membunuh Arthur.
 
Sementara itu, di dunia bawah laut memang sedang terjadi suksesi kekuasan untuk menentukan seorang raja selanjutnya. Dari fakta yang beredar di kalangan wilayah Atlantis bahwa, calon kuat yang bakal menjadi raja adalah Orm (Patrick Wilson). Ia sangat memenuhi kriteria untuk menjadi raja. Selain cerdas dan memiliki darah murni keturunan raja, ia pun mahir bertarung dan memiliki pengaruh yang kuat dari masyarakat penghuni bawah laut. Namun, di sisi lain, warga Atlantis lupa, bahwa ada seorang yang juga pantas menjadi raja, yaitu, Arthur, memiliki silsilah yang terlahir dari satu ibu  tapi lain ayah dengan Orm. Meski Arthur berdarah  campuran,  tapi ia anak sulung dari ibu keturunan raja.
 
Maka, tanpa bisa terhindarkan, pertarungan antara Arthur dan Orm pun terjadi. Pada konteks ini, Arthur akhirnya dapat dikalahkan oleh Orm. Sebab, pertarungan terjadi di wilayah elemen yang dikuasai Orm, yakni, di dasar laut. Dari kemenangan yang diraih Orm, maka ia dinobatkan sebagai raja. Sedangkan Arthur -  sejak kalah bertarung akibat tombak trisulanya patah -  menghilang lalu meninggalkan Atlantis bersama Mera (Amber Heard) – tunangan Orm sekaligus putri raja Nereus (Dolph Lundgren) – yang berjasa menyelamatkan Arthur menggunakan kapal selam canggihnya.
 
Petualangan antara Arthur dan Mera pun dimulai. Mera mengetahui, bahwa Arthur layak menjadi raja. Hanya saja waktunya  belum tepat. Arthur butuh proses dan harus menemukan senjata ampuh berupa trisula emas milik raja Atlantis perdana. Ada kepercayaan yang muncul di kalangan warga Atlntis, siapapun  yang bisa mencabut trisula milik raja Atlantis, maka dialah yang berhak menjadi raja selanjutnya.
 
Setelah melalui perjuangan yang berliku, akhirnya Arthur berhasil mencabut tombak trisula dari genggaman raja Atlantis. Dan tentunya, adegan ini mengingatkan kita akan legenda raja Arhur dari Inggris tentang pedang bernama Excalibur. Asumsinya, siapapun  yang sanggup mencabut pedang Excalibur yang tertancap di batu besar, dialah yang berhak menjadi seorang raja.
 
Sekadar catatan saja. Menyinggung Atlantis otomatis terkait dengan Plato – filsuf Yunani yang hidup pada masa 428 SM - 348 SM – yang tertuang dalam karyanya Timaeus dan Kritias. Diceritakan dalam buku tersebut, pada awalnya Atlantis merupakan sebuah negara atau kerajaan  yang terdiri dari pulau-pulu besar yang berada di samudra Atlantik. Tapi karena akibat gempa bumi dan banjir yang melanda, maka Atlantis tenggelam di dasar laut dalam sehari saja. Dari kisah Plato ini, akhirnya memunculkan inspirasi yang memicu beragam cerita dan kemudian difilmkan, antara lain, Beyond Atlantis (1973), Man from Atlantis (1977),  Atlantis – The Lost Empire (2001/animasi), Stargate Atlantis (2004), dan Aquaman (2018). Namun dari semua kisah tersebut, Aquaman yang paling menonjol.  Hal ini dimungkin, bisa jadi karena Aquaman  merupakan manusia superhero,  seperti halnya Superman, Batman, Spiderman, Hulk, Thor, dan lain-lain. 
 
Film berdurasi 120 menit ini, disutradarai James Wan dan screenplay ditulis oleh David Leslie, Johnson-McGoldrick, dan Will Beall  berdasarkan cerita Geoff Johns, James Wan, Will Beall dan karakter tokoh ciptaan Mort Weisinger dan Paul Norris, telah sanggup menyuguhkan visualisasi yang spektakuler dan estetik penuh warna-warni tentang dunia bawah laut dengan menggunakan teknik visual effect dan special effect dari ILM (Industrial Light and Magic). Tanpa maksud berlebihan, Aquaman memiliki peluang yang besar sebagai film box office penutup akhir tahun 2018.


(Ius Artanto/IM)
MUSTPEAK