Konser Karunia Semesta 30 Tahun KLa Project : Reuni Kecil KLa Project
MELODIUS • The Hits Maker
Konser Karunia Semesta 30 Tahun KLa Project : Reuni Kecil KLa Project
Ius Artanto • Jumat, 07 Desember 2018 20:36 WIB
Meski konser kerap diselingi dagelan ala Lilo, toh hal itu justru menjadi daya tarik tersendiri - selain untuk mengisi waktu jeda dalam mempersiapkan dendang lagu berikutnya. – bagi penonton.  Suasana kemudian hening, tatkala suara mute horn terdengar menyuarakan intro lagu Terpurukku Di Sini. Tuntas  Terpurukku Di Sini, hampir tanpa jeda, meluncurlah lagu Romansa (V/1995), Lagu Baru (Kedua/1990) yang diselingi pula musik etnik, Meski T’lah Jauh (V/1995) yang dinyanyikan Lilo, dan lagu Rentang Asmara (KLa/1989) yang dinyanyikan Katon dan Fransisca Rahesti (Sisca) dengan diiringi Adi Adrian menggunakan Moog Liberation (keyboard gendong).
 
Dan yang mengejutkan lagi, hadirnya personal lama dari KLa Project, Ari Burhani –  terlibat dalam penggarapan album KLa (1989), Kedua (1990),  dan Pasir Putih (1992) sebagai drummer – seperti sebuah “reuni kecil” ikut mengiringi lagu Rentang Asmara melalui tabuhan drumnya. Selebihnya, KLa Project pun menyambung repertoarnya dengan lagu Oo..Radio ..Oo (Pasir Putih/1992), Sudi Turun ke Bumi (Sintesa/1998), Dekadensi (Sintesa/1998),  Lantai Dansa (Kedua/1990), Lepaskanlah (Ungu/1994), dan menariknya hadirnya tarian Jawa wira pertiwi sebagai pengantar lagu Pasir Putih (Pasir Putih/1992). Lalu lagu ini pun dikombinasi dengan musik etnik Bali yang rancak dan dinamis.
 
Mencoba mencermati sound  keyboard dan synthesizer yang menghias hampir semua lagu, memang tak bisa diabaikan begitu kental. Pasalnya,  peran Adi Adrian selaku arranger mau tidak mau harus patuh terhadap konsep musik KLa Project sejak semula. Detailnya, jika pagelaran konser Karunia Semesta ada pula terdengar dominasi musik sampling, ambience, lengkingan synthesizer  (modulation - bender), pun tak bisa ditepis lantaran referensi musik Adi Adrian yang juga dipengaruhi aliran musik new wave yang sempat nge-trend pada awal 1980-an.
 
Dan hingga jelang pukul 23.00,  energi KLa Project sepertinya belum habis. Penonton makin terpuaskan ketika lagu Semoga (Kedua/1990) dan Hey (Pasir Putih/1992) dihadirkan dengan suguhan musik yang apik. Dan kejutan muncul kembali, tatkala Mohammad Istiqamah Djamad atau biasa disapa Is - mantan vokalis Payung Teduh  dan sekarang memilih solo karier - menyanyikan lagunya sendiri Akad, dan kemudian mendendangkan  Belahan Jiwa karya KLa Project dengan menggunakan gitar.
 
Lagu Pamungkas KLa Project
KLa Project yang didirikan pada 1988, memulai debutnya melalui single  bertitel Tentang Kita yang terdapat dalam album kompilasi 10 Bintang Nusantara terbitan Team Record. Dalam single ini, Katon berduet dengan Fransica Rahesti (Sisca) sebagai bintang tamu. Berbekal tembang Tentang Kita (1988) - yang ternyata mampu merajai chart radio hampir di seluruh kota -  Jan Djuhana, selaku produser dari Team Record, memberi peluang  kepada KLa Project untuk menggarap album perdana. Sebagai album perdana  bertajuk KLa (1989), yang akhirnya mencuatkan lagu Rentang Asmara, Jumpa Kamu, Waktu Tersisa, Lantai Dansa, Anak Dara, dan Laguku.
 
Sejalan bergulir waktu, KLa Project kemudian menganyam sukses dengan album berjudul Kedua, yang semakin memantapkan eksistensi KLa Project sebagai grup musik lewat salah satu karyanya, Yogyakarta. Tak sekadar itu. Dari album Kedua melejit pula lagu Semoga, Bantu Aku, Lagu Baru, Baiknya, dan Lara Melanda. Berkat  album ini, KLa Project meraih prestasi yang gemilang dalam ajang BASF Award pada 1991. Pada kesempatan ini, KLa Project memperoleh penghargaan untuk kategori Lagu Terbaik (Yogyakarta), Aransemen Terbaik (Yogyakarta), dan Pop Techno Terbaik (Yogyakarta). Bukan cuma itu. Lewat album Ungu yang dirilis pada 1994 meraih penghargaan di BASF Award 1994 untuk kategori Lagu Terbaik (Terpurukku Di Sini), Aransemen Terbaik (Terpurukku Di Sini), dan Pop Kontemporer Terbaik (Terpurukku Di Sini).
 
Sajian pagelaran Karunia Semesta nampaknya tak ingin monoton. Barisan drum band yang muncul dari sisi kanan panggung mencoba memadukan bagian tengah lagu Kidung  Mesra (Klasik/1999), saat Katon telah menyelesaikan barisan liriknya. Sesuatu yang cukup memukau. Setelah itu, seorang sinden bersimpuh di atas panggung siap melantunkan tembang Jawa sebagai pengantar lagu Yogyakarta. Dan nampaknya, bagian ini merupakan rangkaian lagu pamungkas pagelaran konser Karunia Semesta. Maka tak heran, jika KLa Project akhirnya menutup konsernya dengan Tak Bisa  ke Lain Hati dan Tentang Kita.
 
Foto oleh: Fitria Agustin/KLa Management
 
Lihat juga:


(Ius Artanto/IM)
MUSTPEAK