Konser Karunia Semesta 30 Tahun KLa Project : Mengoyak Perbedaan Lewat Cinta
MELODIUS • The Hits Maker
Konser Karunia Semesta 30 Tahun KLa Project : Mengoyak Perbedaan Lewat Cinta
Ius Artanto • Jumat, 07 Desember 2018 20:05 WIB
Dalam rentang tiga dekade, KLa Paroject telah berkarier di peta musik pop Indonesia. Setidaknya, mereka telah memberi inspirasi dan menaburkan benih-benih nilai sosial, budaya, religi, dan cinta yang tumbuh dalam karya lagu  yang tematis, melodius, pun harmonis. Sejumlah lagu yang dikemas dalam konsep etnik, elektronik, tekno, dan pop yang digelar dalam konser berjudul Karunia Semesta pada Rabu, 5 Desember 2018, di Plenary Hall JCC (Jakarta Convention Center), seolah membawa ingatan kenangan masa lalu sekaligus reuni. Dan konser ini merupakan pembuktian eksistensi KLa Project dalam merayakan 30 tahun perjalanan karir musiknya. Grup musik yang didirikan pada 1988 ini,  selama 3 jam menyuguhkan  30 lagu dihadapan para penggemarnya atau lazim disebut Klanese (baca: klanis), plus bejibun penonton lainnya. Dan ternyata, KLa Project mampu menampilkan tontonan yang variatif dan magnetik.
 
KLa Project Menjemput Impian
Konser dibuka pada pukul 20.20 yang ditandai musik ambience. Musik pembuka ini bertujuan untuk menegaskan konsistensi KLa Project terhadap musik tekno dan elektronik, serta sekaligus  guna “memanggil” penonton agar memasuki ruang gedung untuk menempati tempat duduk tersedia. Setelah penonton dianggap siap menyaksikan konser, tetiba suasana panggung yang semula gelap menjadi terang lantaran lampu-lampu menyoroti panggung. Sesaat itu pula, para “jendral” KLa Project yang terdiri dari Katon Bagaskara (vokal), Romulo Radjadin/Lilo (gitar dan vocal), dan Adi Adrian (keyboard dan synthesizer) serta barisan musisi additional langsung menggebrak lewat tempo medium beat dengan lagu pembuka Satu Kayuh Berdua petikan album Ungu (1994). Lantas di tengah lagu yang masih terdengar, Katon membawa beberapa tangkai mawar lalu melemparkannya ke arah penonton. Penonton pun bersorak girang.
 
Tentu, sejumlah repertoar telah disiapkan dari hasil urun rembuk mereka, yang diawali serangkaian latihan - diselingi kesibukkan mereka masing-masing - yang intens selama 3 bulan. Mencoba mencermati berlangsungnya konser, hampir tanpa jeda, dalam pagelaran tersebut meluncurlah lagu-lagu hit KLa Project yang dipetik dari sejumlah albumnya; KLa (1989), Kedua (1990),Pasir Putih (1992), Ungu (1994), V (Kelima/1995), KLakustik (1996), Sintesa (1998), Klasik (1999)dan Exellentia (2010). Dan mudah diduga, konser ini menjadi wadah nostalgia bagi para penggemarnya.
 
Usai lagu Satu Kayuh Berdua, suasana gempita menukik mellow, ketika Katon menyambung melantunkan lagu Prahara petikan album Klasik (1999). Tapi itu temporal. Sebab, tensi gempita dipompa kembali. Melalui bungkus aransemen berbeda dibanding versi orisinal albumnya, Klakustik (1996), lagu Gerimis menghentak dan mampu menyihir penonton sehingga mereka pun ikut melantunkan tembang tersebut.
 
Tuntas Gerimis, Katon memberi kata sambutan singkat lantas menyapa penonton, “Selamat malam sahabat dekat. Selamat datang klanis yang hadir ini, spesial untuk kalian,” ungkap Katon, sembari menunjuk para Klanese yang berada di barisan terdepan dekat tepi panggung. Lalu lanjutnya lagi, “Saya bersyukur walau konser diadakan di hari kerja, tapi tetap ramai. Ini hari rabu, tapi kalian penuhi tempat ini. Respek dari kami untuk menjemput harapan 30 tahun usia spesial untuk kalian. Menjemput impian.”
 
Langsung intro lagu Menjemput Impian (Klasik/1999) menyuara dari keyboard Adi Adrian, yang tentu telah sangat dikenal para Klanese, sehingga otomatis mendapat tepuk tangan meriah. Usai intro, vokal Katon menyambung mengisi celah pada porsinya. Timbre Katon yang khas melekat menjadi salah satu bagian dari image musik KLa Project. Lalu tanpa diperintah, penonton di bagian depan dan bagian tengah pun, ikut berdendang meramaikan suasana.
 
Foto oleh: Fitria Agustin/KLa Management
 
Lihat juga :


(Ius Artanto/IM)
MUSTPEAK