Coldplay – A Head Full of Dreams: Band Anak Kuliahan Menggengam Sukses
MEDIUS • Film • Resensi
Coldplay – A Head Full of Dreams: Band Anak Kuliahan Menggengam Sukses
Ius Artanto • Kamis, 15 November 2018 01:52 WIB
Coldplay – A Head Full of Dreams merupakan judul film dokumenter potret/biografi tentang perjalanan karir bermusik grup musik asal Inggris, Coldplay.  Tanpa bermaksud mengimbangi film biopic grup Queen berjudul Bohemian Rhapsody  – yang notabene masih tayang dan boomingfilm  Coldplay – A Head Full of Dreams mencoba mendokumentasikan awal terbentuknya Coldplay hingga mencapai sukses melalui album ke-7 mereka bertitel, A Head Full of Dreams (2015). Uniknya, film dokumenter ini, hanya beredar 1 hari di bioskop pada Rabu, 14 November 2018, di seluruh dunia untuk merayakan 20 tahun perjalanan karir bermusik Coldplay. 
 
Sejak era British pop  menjadi trend  yang melanda dunia pada awal 1990-an lewat grup Radiohead, Oasis, Pulp, Supergrass, Elastica, dan lain-lain, kehadiran Coldplay seolah melanggengkan trend tersebut pada penghujung tahun 1990-an. Grup yang digawangi anak kuliahan ini terdiri dari Chris Martin (vokal, piano), Jonny Buckland (gitar), Guy Berryman (bass), dan Will Champion (drum), yang dibentuk pada tahun 1996 di London, Inggris. Mereka adalah kawan sekampus di University College London (UCL).
Pada bagian awal, film Coldplay – A Head Full of Dreams dibuka dengan footage, saat Chris Martin pada tahun 1998 di depan kamera menyatakan, “Kami akan menjadi band yang luar biasa besar. Kami akan disiarkan televisi nasional dalam waktu empat tahun.”
 
Ternyata ucapan Chris Martin bukan sesumbar apalagi isapan jempol belaka. Empat tahun kemudian, faktanya, Coldplay berhasil pentas di Glastonbury Festival sebagai band utama. Dan Coldplay memang telah menjadi band yang besar yang mampu menggebrak dengan sejumlah single-nya.
 
Dengan debut single bertajuk Yellow yang akhirnya mengantar Coldplay semakin gemilang menggapai sukses  hingga pada  tahun 2016. Selain Yellow (Parachutes/2000), beberapa single yang patut dicatat  merepresentasikan kualitas bermusik  Coldplay, antara lain, Dont’t Panic (Parachutes/2000), The Scientist dan In My Place (A Rush of Blood to the Head/2002), Speed of Sound dan Fix You (X & Y/2005), Violet Hill dan Viva la Vida (Viva la Vida/2008), Every Teardrop is a Waterfall dan Paradise (Mylo Xyloto/2011), Magic dan Midnight (Ghost Stories/2014),Hymn for The Weekend dan Everglow (A Head Full of Dreams/2015).
 
Berbeda dengan film Bohemian Rhapsody (2018), Coal Miner’s Daughter (1980), La Bamba (1987), The Doors (1991), Ray (2004), Beyond the Sea (2004), Walk the Line (2005),  Runways (2010), dan lainnya, yang berformat drama musik biopic, film Coldplay A Head of Dreams  (2018) tulen bergenre dokumenter, persis seperti film dokumenter grup Oasis berjudul Supersonic (2016) . Maka tak heran jika sepanjang  film dimuati durasi footage atau adegan “apa adaya” yang mengabaikan head-room, shot size, movement, dan angle kamera. Artinya,  visualisasi yang disodorkan  selama film bergulir menggunakan teknik kamera pengambilan full hand-held, sehingga gambar bergerak tanpa henti yang berisi wawancara, aktivitas di studio, serta berbagai konser melalui editing yang ketat. Sebab, utamanya, genre dokumenter memang merekam segala kejadian  apa adanya dan peristiwa yang telah lalu.
 
Film Coldplay – A Head Full of Dreams  yang disutradarai Mat Whitecross - hanya diputar 1 hari (14 November 2018) yang diputar di 2000 layar bioskop seluruh dunia dalam merayakan perjalanan musik Coldplay selama 20 tahun - memang dikhususkan bagi para fans Coldplay. Pasalnya, tanpa paham segala diskografi dan single Coldplay yang telah menggasak chart radio, tak akan mungkin bisa menikmati film berdurasi 115 menit ini. Sejumlah single yang terdengar sepanjang film, tak bisa diabaikan sangat menghibur para penggemarnya yang memang tahu lagu-lagu hits plus repertoar Coldplay, ketika mereka melakukan rekaman studio dan konser di berbagai negara.
 
Menyinggung titik awal kesuksesan Coldplay  ada pada single Yellow yang telah memukau dan sekaligus yang meroketkan Coldplay sebagai band papan atas dunia. Timbul pertanyaan, mengapa konser Coldplay diberbagai belahan dunia mampu meghipnotis bejibun penonton? Jawabnya, pada lirik lagu, melodi, aransemen, dan sosok Chris Martin yang magnetik ketika di atas panggung. Apalagi energi spirit yang disuarakan Coldplay adalah tentang cinta, kemanusiaan, dan mendobrak segala perbedaan  yang melekat sebagai identitas yang terkadang menimbulkan sekat-sekat.  


(Ius Artanto/IM)
MUSTPEAK
Rabu, 09 Oktober 2019 20:52 WIB
MISTERIUS • Cerita
Popie S. Hanjani
Rabu, 02 Oktober 2019 18:28 WIB
MEDIUS • Film • Resensi
Ius Artanto
Selasa, 17 September 2019 17:26 WIB
MEDIUS • Film • Resensi
Ius Artanto