Overlord: Kekejaman Nazi Melalui Rekayasa Genetika
MEDIUS • Film • Resensi
Overlord: Kekejaman Nazi Melalui Rekayasa Genetika
Ius Artanto • Kamis, 08 November 2018 10:05 WIB
Genre film perang yang berlatar Perang Dunia II telah banyak digarap. Namun, film yang mengkombinasikan antara genre perang dan fiksi ilmiah (Sci-Fi), mungkin baru dilakukan dalam film Overlord. Memang, tak perlu tercengang ketika menyaksikan film ini. Perpaduan antara perang dan kekejaman menjadi hal lazim. Meski begitu, film Overlord memang tidak biasa. Artinya di dalamnya termuat pula kekejaman, sadistis, serta rekayasa genetika yang melebihi batas kemanusiaan.
 
Film sepanjang 109 menit ini, pada bagian awal mengisahkan ketegangan  yang wajar dan mencekam dalam suatu perang. Ada pesawat jatuh terbakar dan tertembak, para penerjun payung menyelamatkan diri, tentara tewas tertembak, dan bunyi ledakan yang menggelegar. Namun, ketika film mulai memasuki bagian pertengahan, kejutan mulai hadir saat dimunculkan sesosok wajah perempuan yang mengerikan dari balik pintu kamar sebuah rumah.
 
Dan wajah mengerikan tersebut yang akhirnya mengantar pemahaman penonton akan adanya rekayasa genetika yang dilakukan tentara Nazi bersama para dokternya. Dan tentunya, film ini dapat dikategorikan menjadi multi genre; war, thriller, mistery, science-fiction, dan horror.
 
Bisa jadi, penonton yang terbiasa dengan genre perang (war) dengan kisah yang lazim akan mendadak tak nyaman, tatkala disodorkan sesuatu yang menyeramkan. Namun, bagi penonton yang gemar film horor dengan munculnya mahkluk zombie, hal ini menjadi hiburan yang memuaskan seleranya. Namun, terlepas dari itu, setidaknya Overlord memberi peringatan bahwa perang selalu memunculkan kerugian dan kesengsaraan bagi manusia. Apapun alasannya.
 
Film yang disutradarai  Julius Avery dan screenplay ditulis Billy Ray serta Mark L. Smith ini, sejak awal memang telah menawarkan tensi ketegangan. Produser J.J Abrams yang sebelumnya dikenal sebagai sutradara Mission Imposible III (2006), Star Trek Into Darkness (2013), Star Wars: The Force Awakens (2015), dan Mission Impossible: Fall Out (2018) mengemas Overlord menjadi film perang yang absurd.  
 
Dikisahkan sejumlah prajurit tentara Amerika Serikat - pada masa jendral Eisenhower  panglima tertinggi tentara sekutu di Eropa - diterjunkan di Normandia, wilayah Prancis. Mereka mengemban misi dalam pemerintahan Presiden AS Franklin Delano Roosevelt untuk meledakkan menara radio milik Nazi. Dari ketinggian pesawat yang membawanya, mereka semua terjun satu per satu dengan menggunakan parasut dalam kegelapan malam. Namun malang, kehadiran mereka diketahui tentara Nazi. Beberapa di antaranya mati tertembak, akan tetapi  ada pula yang selamat. Mereka adalah pasukan tentara para penerjuan Amerika Serikat, yang terdiri dari, Boyce (Jovan Adepo), Ford (Wyatt Russell), Tibbet (John Magaro), Chase (Ian De Caestecker), dan Rosenfeld (Dominic Applewhite).   
 
Saat mereka usai terjuan payung, mereka kemudian menyelinap ke dalam hutan. Namun tanpa disangka, mereka  akhirnya bertemu seorang wanita muda dan cantik berkebangsaan Prancis bernama Chloe (Mathilde Oliver). Dalam kesempatan ini, Chloe kemudian ditunjuk oleh Ford  menjadi penunjuk jalan bagi pasukannya agar selamat dari kepungan tentara Nazi. Setiba di rumah Chloe, mereka pun bersembunyi untuk tetap waspada dan berjaga-jaga seandainya para tentara Nazi itu mengunjungi rumah Chloe.
Lalu pada suatu malam, komandan dari tentara Nazi bernama Wafner (Pilou Asbek) mendatangi kediaman Chloe untuk melampiaskan nafsu birahinya. Tentu Wafner tak pernah menyangka, jika di dalam rumah Chloe telah bersembunyi pasukan tentara Amerika.
 
Selebihnya, cerita bergulir dengan terjadinya pertarungan, penyiksaan, baku tembak antara beberapa gelintir tentara Amerika dengan pasukan tentara Nazi. Klimaknya, tanpa diduga oleh para tentara Amerika, ternyata Nazi memiliki sebuah laboratoriun rekayasa genetika yang sangat membahayakan. Manusia menjadi uji coba untuk menciptakan manusia super. Akibat rekayasa genetika tersebut, manusia menjadi kuat dan tidak mudah mati karena telah diproses dan disuntikkan serum kekebalan, yang akhirnya menjadi mahkluk aneh menyerupai zombie.     


(Ius Artanto/IM)
MUSTPEAK