Bohemian Rhapsody: Kisah Sukses dan Tragis Freddie Mercury
MEDIUS • Film • Resensi
Bohemian Rhapsody: Kisah Sukses dan Tragis Freddie Mercury
Ius Artanto • Minggu, 28 Oktober 2018 10:52 WIB
Film Bohemian Rhapsody diangkat dari kisah nyata. Berkisah tentang perjalanan grup band legendaris, Queen, termasuk kehidupan pribadi Freddie Mercury. Terkait dengan itu, film ini bergulir dengan plot yang kronologis. Mulai dari awal terbentuknya grup band hingga kisah di balik kesuksesan lagu-lagu yang mereka ciptakan. Menariknya, ada beberapa rahasia dan misteri yang  dikuak dalam film ini. Selain lagu-lagu hits yang terdengar sepanjang film, pun Bohemian Rhapsody  menyuguhkan sesuatu yang inspiratif, jenaka, sekaligus tragis.
 
Kerap para penikmat musik dunia mengindentikkan grup band Queen dengan sang vokalisnya, Freddie Mercury. Pasalnya, ikon grup band Queen memang ada pada timbre vokal dan gaya khas Freddie yang flamboyan, nyeleneh, dan anomali. Bahkan, yang menciptakan nama dan logo Queen  itu adalah Freddie. Ini tak mengherankan. Sebab, Freddie adalah sarjana desain grafis. Maka tak disangkal, jika Queen sangat lekat dengan sosok Freddie Mercury. Dan itu tidak salah.  
 
Namun, seandainya sudah menyaksikan film Bohemian Rhapsody, maka anggapan itu pun perlahan sirna. Sebab, jika mencoba jeli menyimak secara detail tentang sound gitar milik Brian May, dentuman bass dari John Deacon, serta gebukkan drum dari Roger Taylor  yang telah mewarnai sejumlah karya hits-nya, semua pun setuju ketika talenta-telenta yang dimilki mereka melebur dan menyatu dalam sejumlah lagu hits-nya.
 
Dan patut dicermati, tak hanya berkiprah di industri musik para personal Queen saling kompak. Demikian pula untuk masalah pribadi. Mereka pun memiliki rasa empati yang tinggi, ketika Freddie menyatakn dirinya telah mengidap penyakit HIV/AIDS. Reaksi Brian May, Roger Taylor, dan John Deacon justru memberi semangat dan tidak menjauh dari Freddie. Mereka tetap saling menjaga. Bagi mereka, Queen bukan sekadar  wadah berkreasi di musik, tapi juga sebuah keluarga.
 
Dikisahkan pada 1970 di London, Freddie Mercury (Rami Melek) yang awalnya bernama Farrokh Bulsara merupakan penggemar dari grup band Smile yang terdiri dari  Brian May (gitar) Roger Taylor (drum), dan Tim Staffell (vokal dan  bass). Namun, karena sesuatu hal, band ini mengalami kisruh. Staffell meninggalkan Smile.
 
Pada suatu hari, saat Freddie  sepulang kerja dari bandara Heathrow, ia menyempatkan diri untuk  menonton penampilan Smile. Usai Smile pentas, Freddie bertekad untuk menemui mereka di belakng panggung. Namun, tanpa disangka, Freddie mendapati Brian May (Gwilym Lee) dan Roger Taylor (Ben Hardy) sedang meratapi nasib Smile, yang baru saja ditinggal sang vokalisnya. Pada kesempatan itu pula, Feddie tidak menyia-nyiakan dan mencoba menawarkan diri untuk menjadi vokalis pengganti. Tanpa banyak alasan,  akhirnya Brian dan Roger setuju menerima Freddie sebagai vokalis, setelah mendengar timbre vokal Freddie yang tinggi, apik, dan khas. Sejalan waktu bergulir, mereka pun sepakat mengganti nama Smile menjadi Queen, yang disertai kehadiran pencabik bass bernama John Deacon (Joseph Mazzello).
 
Melalui nama Queen meluncurlah single keduanya pada tahun 1975 berjudul Killer Queen, yang berhasil menembus tangga lagu Amerika di posisi ke-12 dan UK dalam urutan ke-2 (16 November 1974). Suatu single hits yang membuka jalan bagi kesuksesan Queen pada langkah selanjutnya di Amerika. Maka, pada tahun 1976, Queen kembali berkibar dengan lagu masterpiece-nya, Bohemian Rhapsody. Single ini menjadi fenomnal lantaran mendonbrak segala aturan atau pakem yang berlaku di industri musik. Mulai dari durasi lagu yang panjang, gaya paduan rock dan choir yang njlimet hingga lirik lagu yang panjang dan tak lazim.
 
Segala kritik dan kecaman terhadap lagu Bohemian Rhasody pun menyerang bertubi-tubi dari berbagai media cetak. Namun, semua itu tidak mempan. Bohemian Rhapsody tetap mampu berjaya di tangga lagu radio dengan menduduki posisi ke-9 dalam chart Amerika.  Dan tanpa bisa dibendung, selanjutnya Queen pada tahun 1980 menggebrak kembali melalui single berjudul Crazy Little Thing Called Love dan Another One Bites The Dust yang berhasil menembus tangga lagu pertama di Amerika selama 4 pekan dan 3 pekan. Akhirnya setelah single-single tersebut sukses, Queen memulai tour panjangnya ke berbagai negara sejak tahun 1975 hingga 1980-an akhir.
 
Film yang disutradarai Bryan Singer dan screenplay ditulis Anthony McCarten ini merupakan film biopic yang tersentral kepada sosok Freddie Mercury. Konsukuensinya, kisah yang menyangkut segala kehidupan rahasia Freddie pun diungkap. Meski begitu, film ini secara bijak mampu menyikapi segala kekeliruan dan kekhilafan Freddie - sebagai artis  terkenal dan kaya raya - yang rentan dengan pengaruh buruk di sekelilingnya. Film ini pun memiliki magnet yang kuat, tanpa bisa diabaikan karena peran barisan produser yang terdiri dari Brian May, Roger Taylor, Robert De Niro, Bryan Singer, Jim Beach, dan lain-lain.
Menariknya lagi,  plot dan alur cerita film Bohemian Rhapsody ditutup dengan tampilnya grup band Queen dalam konser amal dan akbar  bertitel Live Aid pada 13 Juli 1985, yang bertujuan untuk penggalangan dana bagi penanggulangan kelaparan di Ethopia, yang digagas oleh Bob Geldof (The Boomtown Rats) dan James Midge Ure (Ultravox). Dalam penampilannya kali ini, walau Freddie sedang sakit parah, namun Queen mampu tampil prima dan membuktikan kehebatannya sebagai band papan atas melalui lagu Bohemian Rhapsody, Radio Gaga, We Will Rock You, We Are The Champions, dan Love of My Life. Dari konser amal ini, Freddie bersama Queen mampu menghipnotis penonton yang bejibun di stadion Wembley, London. Dan sejarah musik pun mencatat  bahwa Queen sebagai grup band satu-satunya yang mampu menjadi magnet yang ampuh bagi penonton dalam konser Live Aid.


(Ius Artanto/IM)
MUSTPEAK