Skyscraper: Kekuatan Cinta Seorang Ayah
MEDIUS • Film • Resensi
Skyscraper: Kekuatan Cinta Seorang Ayah
Ius Artanto • Sabtu, 14 Juli 2018 10:18 WIB
Film berkisah tentang kebakaran dan terjebak dalam suatu gedung bertingkat, sudah cukup banyak dibuat melalui layar lebar. Mulai dari The Towering Inferno (1974), Dia Hard (1988), The Tower (2013), No Escape (2015), hingga Skyscraper (2018). Lazimnya, kebakaran bisa terjadi lantaran adanya sabotase atau aksi kriminal. Meski begitu, ada pula akibat musibah. Namun, terlepas dari itu, biasanya film-film jenis ini, termasuk film yang mampu menyedot penonton bejibun.
 
Demikian pula dengan Skyscraper, yang sanggup menjaga tensi ketegangan dalam durasinya, ketika Will Sawyer (Dwayne Johnson) – mantan anggota FBI dan tentara veteran perang -  berusaha menyelamatkan keluarganya dari kobaran api di lantai 220. Nampaknya film ini, tak sekadar mengandalkan otot kawat balung wesi milik Dwayne Johnson yang memang mampu menjadi magnet. Tapi juga adegan menegangkan dan unsur visual effect-nya yang memukau ternyata dapat sebagai daya tariknya.
 
Dalam kamera Hollywood, sosok ayah yang menolong putrinya dari ancaman bahaya, ada beberapa filmnya menarik untuk disimak. Mulai dari Taken (Liam Neeson/2008), 3 Days to Kill (Kevin Costner/2014), dan No Escape (Owen Wilson/2015), dan Skyscreper (2018). Dan tentunya aksi heroik dari sang ayah – biasanya tokoh protagonis yang cinta keluarga - dalam menyelamatkan putrinya menjadi tontonan menarik untuk ditonjolkan. Dan biasanya, tokoh antagonisnya berwajah garang dan kejam. Racikan yang kontradiktif ini kerap menghiasi film bergenre laga dan kriminal.   
 
Kisah dibuka, ketika Will Sawyer (Dwayne Johnson) mengalami peristiwa tragis, saat ia mencoba menyelamatkan suatu insiden yang dialami oleh sebuah keluarga yang terdiri dari  ayah, anak gadis, dan istri. Namun, malang tak bisa ditolak, dalam misi penyelamatan tersebut, ia harus kehilangan kaki kirinya akibat ledakan bom yang dilakukan oleh sang ayah yang terganggu kondisi psikisnya.
 
Lantas beberapa tahun kemudian, setelah pulih dan sembuh, Will menemukan kehidupan dan pekerjaan barunya. Ia diundang ke Hong Kong oleh Zhao Min Zhi (Chin Han) – pengusaha dan pemilik gedung pencakar langit berlantai 220 - untuk diminta melihat gedung The Pearl.
 
The Pearl memiliki lantai bagian bawah yang merupakan pusat perbelanjaan. Sedangkan bagian lantai lainnya dijadikan sebagai hunian. Sebelum dibuka untuk umum, Will ditugaskan untuk mencermati dan menganalisa sistem keamanan The Pearl.  Gedung yang memiliki bentuk unik menjulang tinggi ini, memang dirancang dengan pengamanan yang super canggih dan serba otomatis.  Tentunya dengan investasi semacam ini, Zhao Min Zhi akan meraup keuntungan besar mengingat The Pearl merupakan gedung yang memiliki sejumlah keunggulan.
 
Namun, keuntungan yang akan diraih Zhao, ternyata tidak segera terwujud. Pasalnya, gerombolan penjahat yang diotaki  Kores Botha (Rolland Moller), memiliki dendam kepada Zhao akibat peristiwa masa lalunya. Botha berniat membakar The Paerl. Namun celakanya, Sarah (Neve Campbell). istri dan kedua anak Will tengah berada di salah satu lantai gedung tersebut.
 
Maka itu, tanpa memperdulikan nyawanya, Will harus menolong keluarganya yang terjebak dan terancam keselamatannya di The Pearl. Mudah ditebak, akhirnya segala aksi dan ketegangan terus menghias dalam proses penyelamatan Will terhadap keluarganya. Meski demikian, Skyscraper tetap menjadi tontonan yang menghibur dan menggugah.


(Ius Artanto/IM)
MUSTPEAK