Loving Pablo: Matinya Sang Gembong Narkoba
MEDIUS • Film • Resensi
Loving Pablo: Matinya Sang Gembong Narkoba
Ius Artanto • Senin, 16 Juli 2018 12:26 WIB
Pada dekade 1980-an hingga awal 1990-an, tetiba nama Pablo Escobar meroket sebagai gembong sindikat peredaran kokain. Ia merupakan penjahat yang paling dicari oleh pemerintah Amerika Serikat pada era Presiden Ronald Reagan. Melalui film berjudul Loving Pablo, kisah kehidupannya diungkap secara detail. Bagi rakyat Kolumbia, Pablo Escobar adalah seorang pahlawan dan dermawan yang peduli akan nasib rakyat miskin. Namun, bagi para penegak hukum, dia merupakan sosok yang paling membahayakan. Melalui kartel Medelin, gurita bisnis narkobanya menguasai 80 persen pasar Amerika Serikat.
 
Film sepanjang 123 menit yang berdasarkan buku Loving Pablo Hating Escobar yang ditulis Virginia Vallejo – jurnalis yang memiliki hubungan cinta terlarang dengan Pablo Escobar - cukup representatif  dalam menguak tabir perjalanan hidup gembong narkoba di Kolombia, Pablo Escobar. Mulai dari hubungan asmaranya pada 1981 hingga kematiannya pada 1993. Meski, tak bisa diabaikan, untuk melengkapi pemahaman mengenai seluk-beluk bisnis kokain di Kolumbia, bisa pula menyaksikan film Sicario: Days of  Soldado (2018) dan American Made (2017). Dua film tersebut memiliki mata rantai dengan segala yang terkait dengan tokoh Pablo Escobar.
 
Film yang diberi judul Loving Pablo (2017) disutradarai dan skenarionya ditulis oleh Fernando Leon de Aranoa, mulai beredar di seluruh dunia pada 15 Juni 2018. Loving Pablo pertama kali diputar pada September 2017 dalam Venice International Film Fetival, di Italia. Sedangkan di Indonesia, film ini dirilis dan diputar secara serentak di bioskop  pada 18 Juli 2018.
 
Dikisahkan pada awal 1980-an, Pablo Escobar (Javier Barden) telah merintis bisnis kokain dan memiliki sejumlah anak buah yang setia melindunginya. Dari hasil keuntungan bisnis haramnya itu, Pablo berusaha menutupinya dengan berbagai kegiatan sosial dan aksi filantropinya. Maka tak heran, jika masyarakat Kolombia menganggap Pablo sebagai pahlawan tokoh yang dermawan terhadap nasib rakyat miskin.
 
Meski begitu, istrinya yang bernama Maria Victoria Henao (JuliethRestrepo) malah sangat terganggu dengan segala sepak terjang bisnis Pablo. Maria tidak ingin dua anaknya akan mendapat masalah dengan pilihan bisnis Pablo, yang semakin membahayakan bagi keluarganya.  
 
Sementara, Virginia Vallejo (Penelope Cruz) sebagai jurnalis yang memiliki kesempatan untuk mewawancarai Pablo, justru memicu timbulnya panah asmara di kemudian hari. Pablo semakin tertarik dengan kecantikan Virginia. Demikian pula Virginia, pun akhirnya jatuh cinta dengan lelaki berkumis dan berperut buncit ini.  Walau Pablo kerap terlihat menjalin hubungan asmara dengan para wanita, namun ia sungguh mencinta dan melindungi keluarganya. Ia sangat mencintai istri dan dua anaknya.
 
Sejalan waktu, kekuasaan Pablo di Kolombia semakin kuat. Ia tercatat pernah menjadi anggota senat Kolombia untuk menggagalkan kebijakan ekstradisi kerja sama antara pemerintah Kolombia dengan Amerika Serikat.
 
Dalam menjalankan bisnis dan karir politiknya, ia merasa mulai terhambat untuk melakukan upaya dan ambisinya. Maka itu, ia menyuruh anak buahnya untuk memburu dan membunuh orang-orang penting tersebut yang telah menghambat setiap langkahnya. Dari serangkaian kejadian tersebut, Pablo akhirnya menjadi buron dan lalu menyerahkan diri. Di dalam penjara, Pablo  justru mendapat fasilitas setaraf hotel berbintang. Meski begitu, ia tidak betah tinggal di penjara. Ia ingin kembali berbisnis kokain. Ia kemudian melarikan diri dari penjara. Tapi sayang, situasi sudah berubah. Banyak anak buahnya justru telah meninggalkan dirinya, kemudian  bergabung  dan mendapat pembebasan dari pemerintah Kolombia.
 
Pasalnya, polisi tidak ada komproni lagi terhadap Pablo. Polisi akan memburu Pablo, baik hidup atau mati.  Maka itu, Pablo terus bersembunyi dan melarikan diri dari suatu tempat ke tempat lainnya.  Namun, akhirnya persembunyiannya berhasil ditemukan. Ia dijebak  saat ia sedang berkomunikasi dengan putrinya melalui saluran telepon, sehingga keberadaannya dapat terlacak. Dan akhirnya pada 3 Desember 1993, Pablo Escobar berhasil ditembak mati oleh sekompok aparat. Ia meninggal dunia di atas genteng rumah, saat ia mau melarikan diri.


(Ius Artanto/IM)
MUSTPEAK