Mamma Mia! Here We Go Again: Mari Bernyanyi dan Bernostalgia!
MEDIUS • Film • Resensi
Mamma Mia! Here We Go Again: Mari Bernyanyi dan Bernostalgia!
Ius Artanto • Jumat, 20 Juli 2018 14:14 WIB
Film berformat drama musikal telah banyak digarap. Mulai dari Singin in The Rain (1952), Sound of Music (1965), Grease (1978), Evita (1996), Moulin Rouge (2001), Mamma Mia The Movie (2008), Les Miserables (2012), La La Land (2016), Beauty and the Beast (2017), The Greatest Showman (2017), dan Mamma Mia! Here We Go Again (2018). Dan, tanpa bermaksud muluk, dari sederet film drama musikal tersebut, hanya sequel film Mamma Mia yang menyajikan kisahnya berdasarkan lagu-lagunya milik grup musik asal Swedia, ABBA. Maka tak heran, jika film Mamma Mia! Here We Go Again menjadi pentas drama musikal dengan nuansa nostalgia  era 1970-an dan 1980-an.
 
Dalam logika industri, film Mamma Mia! Here We Go Again (2018) mencoba menyambung sukses pendahulunya, Mamma Mia The Movie (2008). Masih dengan  sederet repertoar andalan dari grup ABBA yang sempat popular pada era 1970-an dan 1980-an, film bergulir dengan taburan lagu-lagu hits.  Melalui format drama komedi musikal, film Mamma Mia! Here we Go Again penuh kemeriahan dengan nuansa biru yang apik. Dan uniknya, film yang tetap menggunakan judul dari  sebuah lagu milik grup asal Swedia ini, menyodorkan kisah yang mengharukan sekaligus membahagiakan yang diramu dalam alur tumpang-tindih yang maju-mundur.  Selain itu - film yang terinspirasi dari drama musikal Broadway pada 1997 -  Mamma Mia! Here We Go Again bukan sekadar sequel penyambung sukses.  Pun ternyata mampu menyodorkan suatu prequel yang holistik. Kisah masa lalu Donna muda (Lily James) berkelindan dengan masa kini Sophie (Amanda Seyfried).
 
Kisah berawal, ketika Sophie  putri Donna Sheridan (Meryl Streep) – dalam sequel ini dikabarkan Donna tua telah meninggal dunia -  berencana untuk mengadakan suatu acara pembukaan untuk hotel Bella Donna, yang semula adalah sebuah villa. Villa tersebut merupakan warisan dari ibunya yang terletak di pulau Kalokairi, Yunani. Di pulau ini, Sophie tinggal bersama ayahnya, Sam Carmichael (Pierce Brosnan).
 
Untuk memeriahkan acara pembukaan itu, Sophie  mengundang  Tanya (Christine Baranski) dan Rosie (Julie Walters) yang merupakan sahabat karib ibunya.  Selain itu, Sophie juga menginginkan kehadiran Bill Austin (Stellan Skarsgard) dan Harry Bright (Collin Firth) yang sekaligus juga ayah Sophie.  Sedangkan suaminya, Sky (Dominic Cooper),  pun diharapkan hadir. Apalagi Sophie juga tengah mengandung bayi. Kemeriahan pesta pembukaan hotel yang akan berlangsung pun, dipersiapakan Sophie dan ayahnya dengan sebaik mungkin.    
 
Namun, tetiba kisah kemudian berpindah secara kilas balik pada tahun 1979, saat Donna Sheridan muda (Lily James) lulus dari studinya. Berpijak dari titik ini, kisah petualangan Donna pun bermula, ketika ia menghadapi kehidupannya yang cenderung anomali.  Pada bagian ini, film menjadi prequel yang memperkuat pemahaman penonton terhadap segala yang terkait dengan Donna, termasuk sosok Tanya muda dan Rosie muda yang masing-masing diperankan Jessica Keenan Wynn dan Alexa Davies.
 
Sekadar saran, sebelum menyaksikan film Mamma Mia! Here We Go Again, ada baiknya terlebih dahulu sudah menonton Mamma Mia The Movie (2008). Sebab kehadiran Sam Carmichael, Bill Austin , dan Harry Bright pada versi awal, semuanya akan menjadi jelas tentang segala yang terkait dengan sosok Sophie dan Donna. Detailnya, dalam Mamma Mia! Here We Go Again,  Sam Carmichael (Jeremy Irvine), Bill Austin (Josh Dylan), dan Harry Bright (Hugh Skinner)  masih dalam berusia muda saat bertemu dan berkencan dengan Donna muda, yang kemudian menjadi hamil cukup menjelaskan keberadaan mereka. Artinya, setelah sekian tahun berlalu, Donna melahirkan seorang putri bernama Sophie. Dan uniknya, Sam, Bill, dan Harry tetap bersikeras bahwa, masing-masing mengklaim sebagai ayah Sophie.
 
Film berdurasi 114 menit yang skenario dan disutradarai oleh Ol Parker ini, telah menyodorkan kepingan-kepingan kisah  yang pada akhirnya membentuk mozaik yang dapat dipahami. Tak hanya itu. Pada bagian jelang akhir, kemunculan artis legenadaris Cher sebagai Ruby Sheridan, ibu kandung Donna, cukup memberi daya kejut yang memikat. Menariknya lagi, di usianya yang tak lagi muda, Cher masih terlihat cantik menawan dan modis dengan rambut blondinya. Selain itu, sosok Andy Garcia sebagai Fernando yang menjadi manajer hotel Bella Donna, pun memberi kesan tersendiri.
 
Demikian pula dengan kehadiran Meryl Streep pada bagian paling akhir - berperan sebagai Donna Sheridan tua sejak versi awal - kemunculannya sangat ditunggu penonton. Film semakin meriah tentunya, berkat sajian koreagrafi dan sejumlah lagu yang masif menghiasi sepanjang film. Maka itu, terdengarlah lagu-lagu Dancing Queen, Mamma Mia, I Have a Dream, Fernando, One of Us, Waterloo, Knowing Me Knowing You, Super Trouper, dan banyak lagi, yang dinyanyikan oleh para aktris dan aktornya dalam gaya senandung seperti lazimnya sebuah pentas opera. Tak berlebihan, jika film ini sangat menghibur dan menyulut penonton untuk bernyanyi dan bergoyang. Meskipun itu hanya sekadar menggerakkan kaki untuk  mengikuti ketukkan irama musiknya.


(Ius Artanto/IM)
MUSTPEAK