Jurassic World: Fallen Kingdom, Hadirnya Monster Predator
MEDIUS • Film • Resensi
Jurassic World: Fallen Kingdom, Hadirnya Monster Predator
Ius Artanto • Rabu, 06 Juni 2018 10:11 WIB
Ada letusan gunung berapi yang maha  dahsyat. Ada pula monster predator yang ganas siap melumat siapa saja. Semua itu menjadi racikan magis dari film Jurassic World: Fallen Kingdom. Apalagi beragam spesies sejumlah hewan purba pun muncul mengejutkan. Penasaran?
 
Semenjak meraup laba besar secara finasial melalui  film Jurassic Park pada 1993 yang disutradai Steven Spielberg berdasarkan novel Michael Crichton (1990), para kreator film Jurassic terus berupaya melanggengkan sukses. Maka, secara kronologis, muncul film Jurassic Park: The Lost World (1997/Steven Spielberg),  Jurassic Park III (2001/Joe Johnston), Jurassic World (2015/Colin Trevorrow), dan Jurrassic World: Fallen Kingdom (2018/J.A. Bayona). Meski begitu,  sequel Jurassic bukan melalui soal kuantitas, tapi lebih dari itu.  Memang bukan perkara mudah tatkala harus menyajikan hewan-hewan purba yang pernah ada pada jutaan tahun silam untuk dihidupkan kembali.
 
Tanpa mengabaikan proses alamiah dan logika kehidupan, dalam  Jurassic Park seri perdana telah dikisahkan proses yang memungkinkan terjadinya sejumlah hewan purba untuk hidup kembali. Pararel dengan itu, film Jurassic World: Fallen Kingdom pun menuju ke arah itu. Melalui rekayasa genetika akhirnya jumlah satwa era paleotikum ini pun semakin bertambah dan beragam spesiesnya.
 
Tentunya tanpa konflik, film Jurassic  Park/World yang telah berusia 25 tahun ini, sulit menjadi magis tontonan yang ajeg dan langgeng, seperti serial Star Wars atau Indiana Jones. Untuk itu hadirnya para karakter protagonis dan antagonis tetap menjadi racikan mujarab untuk meraih kuantitas penonton. Dan pada akhirnya,  sejumlah beragam karakter tersebut saling berbenturan dengan motivasi dan tujuannya masing-masing.  Ada kelompok yang selalu peduli terhadap para satwa liar agar terhindar dari kepunahan. Di sisi lain, ada pula kubu yang tamak dan kejam demi meraup kocek tebal keuntungan dalam praktik jual-beli hewan-hewan purba tersebut. Namun, jelang ending tetap klise. Para antogonis bernasib tragis. Tubuhnya dimamah dan dilumat monster predator hasil rekayasa genetika dan  T-Rex. 
 
Sejalan dengan racikannya itu, maka Jurassic World: Fallen Kingdom masih memiliki gregetnya sebagai film bergenre adventure dan science-fiction. Letusan gunung berapi yang maha dahsyat dengan pijar-pijar lahar panasnya, bukan sekadar sisipan sebagai salah satu entitas magis dalam film ini. Setidaknya, sukses genre disaster sanggup dicangkokkan  menjadi tensi ketegangan yang memikat.
 
Film berdurasi 128 menit yang disutradarai J.A. Bayona dan skenario ditulis Collin Trevorrow serta Derek Connolly  ini, diawali dengan terjadinya insiden yang tragis di perairan Isla Noubar, yang tak jauh dari sebelah barat Costa Rica.  Kejadiannya, dua orang tewas dicaplok predator raksasa yang berada di lautan. Tujuan mereka ke sana tak lain berburu sejumlah hewan purba untuk diperdagangan, serta dicabut giginya untuk pengembangbiakan.
 
Adalah Owen (Chris Pratt) dan Claire (Bryce Dallas Howard) kembali ke Isla Noubar untuk menyelamatkan sejumlah hewan purba dari ancaman potensi gunung berapi, yang akan memusnahan seluruh satwa. Niat mereka untuk menyelamatkan ternyata dbayangi oleh para sekelompok yang berniat jahat untuk menjual para satwa itu melalui pelelangan. Salah satu yang berminat untuk membeli seekor hewan purba itu seorang pengusaha asal Indonesia. Untuk menggagalkan penjualan satwa-satwa purba itu, maka Owen dan Claire harus berupaya keras untuk menggagalkannya. 
 
Secara keseluruhan, film ini mampu menghibur sekaligus menegangkan. Dan yang patut diacungi jempol, visual effect dan special effect-nya semakin sempurna sehingga  memunculkan decak kagum penonton. Pasalnya, semua hewan-hewan purba yang muncul benar-benar seperrti hidup kembali tanpa terkesan buatan. Begitulah.


(Ius Artanto/IM)
MUSTPEAK