Deadpool 2: Dark Humor Ala Superhero
MEDIUS • Film • Resensi
Deadpool 2: Dark Humor Ala Superhero
Ius Artanto • Kamis, 17 Mei 2018 10:12 WIB
Tanpa topeng, dia bukanlah superhero berwajah tampan. Bahkan hidupnya kerap diwarnai berbagai peristiwa tragis. Meski begitu, ia tak pernah gentar untuk membasmi kejahatan. Tanpa mengabaikan sisi jiwa kepahlawanannya, ia adalah seorang yang humoris, romantis, melankolis, pun sadistis. Lho kok? Tapi begitulah karakter Deadpool alias Wade Wilson dari koleksi superhero komik milik Marvel.
 
Sukses film Deadpool versi perdana yang dirilis pada 2016, giliran Marvel Entertainment menyambung sukses merilis versi sequel film Deadpool 2 yang beredar serentak pada 15 Mei 2018 di Indonesia. Aktor Ryan Reynolds masih dipercaya untuk memerankan karakter Deadpool yang kocak dan konyol ini. Jika dicermati lebih detil, Reynolds makin melebur dan melekat dalam karakter Deadpool. Ia mampu menghidupkan tokoh komik berkostum warna merah dan hitam ini dengan prima. Baik sebagai Wade Wilson maupun sebagai Deadpool.
 
Dikisahkan, diberbagai belahan bumi telah terjadi banyak kejahatan. Tanpa membuang waktu dan menyia-nyiakan kesempatan, akhirnya Deadpool siap memburu dan membasmi bentuk kejahatan yang sangat terorganisir tersebut. Tak peduli entah itu Mafia, Yakuza, atau Triad, semua akan  dilenyapkan sampai ke akar-akarnya.
 
Akibat dari aksi heronya itu, sekelompok mafia datang menyerbu ke rumah Wade untuk membalas dendam. Tanpa diduga oleh mereka, justru para penjahat itu yang mati terbunuh. Suasana rumah  menjadi aman dari ancaman pembunuhan. Namun selang beberapa waktu, kekasihnya, Vanessa (Morena Baccarin), ditemukan tewas tertembak oleh salah satu mafia yang lolos. Meski akhirnya si penembak itu juga tewas di tangan Wade.  
 
Sejak kematian Vanessa, Wade pun sangat sedih dan frustasi atas kematian Vanessa. Untuk itu, Wade berusaha untuk mengakhiri hidupnya saja. Berbagai cara telah dilakukan agar dirinya bisa mati dan kemudian bertemu Vanessa di alam baka. Tapi ia tidak mati-mati, walau tubuhnya terbelah atau hancur. Bahkan ia bisa hidup kembali seperti semula.
 
Berpijak dari kondisi hati dan pikiran Wade yang serba tak keruan, Colossus mencoba menolong dan menyarankan untuk ikuit gabung dalam X-Men yang dipimpin Chales Xavier. Namun, Wade menolak. Ia tetap ingin mati.
 
Sementara pada suatu ketika,  ada seorang bocah mutan bernama Russell (Julian Dennison) yang memiliki kekuatan yang sangat luar biasa dengan cara menyemburkan api dari tangannya. Khawatir akan kekuatan super tersebut dapat membahayakan dan mencelakakan banyak orang, maka Deadpool dengan keberanian yang persuasifnya datang mencegah ulah Russell.
 
Kekuatan bocah itu akhirnya yang mengundang rasa dendam bagi Cable (Josh Brolin), manusia mutan futuristik,  lantaran anak dan istrinya tewas terbakar hangus. Menyadari akan sebab kematian istri dan anaknya, maka Cable mencari keberadaan Russell, yang diduga sebagai pelaku pembunuhan. Namun dalam suatu kesempatan, Wade mengingatkan kepada Cable bahwa Russell bukanlah pembunuhnya. Melainkan orang lain yang memiliki kekuatan yang mirip dengan Russell.
 
Lazimnya film superhero yang padat dipenuhi adegan kelahi, ledakan, baku tembak, demikian pun Deadpool 2. Namun perbedaannya, Deadpool 2 berhasil mengemasnya dalam lelucon yang cenderung konyol.       
 
Film bertutur naratif dan komikal berdurasi 119 menit ini, disutradarai oleh David Leitch dan skenariuo ditulis oleh Rhett Reese, Paul Wernick, dan Ryan Reynolds ini, dimuati komedi yang absurd dan dark humor. Nampaknya genre komedi tersebut menjadi unsur daya tarik   Deadpool 2 untuk meraup kuantitas penonton bejibun. Meski terkesan sadistis, film ini tetap dimaklumi, mengingat semua yang terjadi itu bukankah sebuah dunia realitas. TapI dunia  virtual yang khayali.
 
Lepas dari itu, Deadpool 2 masih tetap menyuguhkan beberapa  secuil memori melalui lagu berjudul All Out of Love (Air Supply/Lost in Love/1980), Tomorrow (Alicia Morton/Ost Annie/1999) dan lagu Take On Me versi un-plugged yang versi aslinya dinyanyikan A-ha pada 1985. Sedang lagu Papa, Can You Hear Me? (Yentl/1984) dalam film Deadpool 2 dinyanyikan Wade dengan suara yang parau, sehingga menimbulkan kelucuan. Selain itu, jika memiliki referensi cukup banyak tentang film, sejumlah dialog yang dikutip dengan cara mengolok-olok  dan satire dari film-film yang telah beredar, pun dapat memicu kelucuan.


(Ius Artanto/IM)
MUSTPEAK