Marlina, Si Pembunuh Dalam Empat Babak: Janda Di Tengah Dominasi Maskulin
MEDIUS • Film • Resensi
Marlina, Si Pembunuh Dalam Empat Babak: Janda Di Tengah Dominasi Maskulin
Ius Artanto • Kamis, 16 November 2017 10:04 WIB
Libido lelaki dalam melampiaskan hasrat seksualnya yang disertai paksaan atau perkosaan terhadap perempuan, baik perawan maupun janda, kerap dianggap wajar di dunia maskulin yang dibingkai budaya patriarki. Padahal, di lubuk hati terdalam seorang perempuan yang menjadi korban perkosaan atau  kekerasan seksual, terdapat jeritan luka batin kesedihan yang teramat pedih dan menyakitkan. Bahkan luka batin itu, terus menghantui pikiran dalam kurun waktu yang panjang. Ini yang kerap diabaikan. Setidaknya, film Marlina, Si Pembunuh dalam Empat Babak mencoba menggugah rasa kemanusiaan kita.
 
Tanpa terjebak dalam spirit feminisme dan kesadisan, film berdurasi 93 menit ini, justru menyodorkan kesadaran kemanusiaan kita tentang pentingnya suatu harga diri, keadilan, dan perjuangan untuk membela diri. Inilah kisah yang ingin disampaikan Marlina, Si Pembunuh dalam Empat Babak garapan sutradara Mouly Surya dan skenario  oleh Mouly Surya, Rama Adi, dan Garin Nugroho.
 
Film dibuka dengan  menyuguhkan  panorama keindahan padang sabana, Sumba, Nusa Tenggara Timur, serta musik dan senandung apik yang menghias dalam setiap babaknya. Bukit tandus, kuda, busana tradisional, truk, parang, setidaknya merangkum budaya, adat, dan kebiasaan dalam tatanan lokalnya. Kegiatan menunggang kuda pun mengingatkan kita akan film Surat Untuk Bidadari (1994) yang digarap Garin Nugroho.
 
Dikisahkan pada suatu malam, Marlina (Marsha Timothy) - janda cantik ditinggal mati suami -  yang menghuni sebuah gubuk di padang sabana, Sumba, didatangi lelaki bernama Markus (Egi Fedly) ditemani Frans (Yoga Pratama) –  gerombolan perampok terdiri dari 7 lelaki – yang  berdalih ingin menagih utang suami Marlina. Maka itu, ia mengambil seluruh ternak yang ada di pekarangan,  terdiri dari 10 ekor kambing, 10 ekor babi, dan 7 ekor ayam. Tanpa persetujuan Marlina, Markus pun akan menyetubuhi Marlina. Pun enam teman lainnya. Sementara Frans diperintahkan pergi oleh Markus untuk membawa ternak rampokan dengan menggunakan truk.
 
“Malam ini,” kata Markus. “Kau adalah perempuan yang paling beruntung,” lanjut Markus. Lalu timpal Marlina, “Saya adalah perempuan paling sial sesudah malam ini.”
 
Meski begitu, Marlina terus berpikir, bagaimana caranya selamat menghadapi situasi yang pelik ini.
Tak lama berselang, datang menyusul empat lelaki masuk ke dalam gubuk Marlina. Mereka juga memiliki niat yang sama, yakni, menggauli Marlina. Namun sebelum empat lelaki tersebut melampiaskan nafsu bejatnya, mereka telah mati akibat menyantap sup yang telah dicampur racun yang dimasak Marlina atas pesanan Markus.
 
Kini, tinggal Markus telah menunggu di kamar. Di dalam kamar, Marlina tak kuasa melawan kuatnya cengkraman Markus. Akhirnya,  Markus berhasil menggauli. Namun, saat Markus  menikmati gairahnya, tiba-tiba kepala Markus ditebas parang oleh Marlina. Kepala itu  menggelinding dan tergeletak di pojok dinding. Suatu ketragisan yang pernah divisualkan Kill Bill : Volume 2 (2004) karya Quentin Tarantino.    
Meski terkesan sadis, tapi itu harga yang harus dibayar sang pelampias libido rendahan. Marlina harus membela  diri. Ia sendirian di gubuk itu bersama jenazah suaminya yang terbungkus kain, yang diletakkan di sudut ruang karena tak cukup biaya penguburan.
 
Setelah kejadian, Marlina membungkus kepala Markus dan menentengnya untuk dibawa ke kantor polisi, menyelesaikan kasusnya. Supaya bisa tiba di kantor polisi, Marlina harus menunggu truk yang akan mengantar ke tujuan. Di tengah perjalanan truk berhenti sejenak, karena ada insiden kecil. Frans bersama seorang kawannya,  ingin membunuh Marlina. Namun, Marlina sudah lebih dulu bersembunyi di balik bukit. Saat dirasa situasi sudah aman, Marlina keluar dari persembunyiannya, lalu menneruskan perjalanannya dengan menunggang kuda yang kebetulan ada di sekitar situ. Setiba di kantor polisi, ternyata segalanya tak sesuai harapan. Pasalnya, prosedur dan proses penyelesaian atas kasusnya perlu waktu lama. Akhirnya ia kembali menenteng kepala Markus dengan menunggang kuda kembali.
Sementara, dalam perjalanan mencari Marlina, Frans bertemu Novi (Dea Panendra), kawan Marlina,  yang sedang hamil tua. Novi pun mendapat perlakuan kasar dari Frans. Novi mengadukan nasibnya kepada Umbu, suaminya. Tapi harapannya kandas. Suaminya malah menuduh Novi selingkuh.  Maka dari itu, bayi yang dikandung menjadi sungsang. Bagi masyarakat setempat, perempuan yang mengandung bayi sungsang dipercaya selingkuh.
 
Film yang telah menarik perhatian publik sinema di ajang festival internasional; Sitges International Fantastic Film Festival, Busan International Film Festival, Vancouver International Film Festival, serta memicu decak kagum penonton di Quinzaine des realisateurs (Director’s Fortnight) dalam Cannes Film Festival 2017 ini, pada babak akhir, Frans dan Novi telah menunggu kehadiran Marlina di gubuk. Frans ingin kepala Markus disatukan dengan badannya. Marlina pun telah sampai di gubuknya, dan menyerahkan kepala Markus kepada Frans, sehingga tubuh Markus kembali utuh. Sesaat kemudian, seperti kawan-kawan lainnya yang telah tewas, Frans pun berniat memperkosa Marlina. Menyadari akan kejadian yang menimpa Marlina, Novi yang sedari tadi menahan rasa sakit akibat bayi sungsang yang dikandungnya, justru memberanikan diri menggedor pintu kamar, lalu berhasil masuk dan memenggal kepala Frans hingga putus.
 
Perlakukan semena-mena dari budaya patriarki terhadap perempuan yang cenderung kerap dianggap kaum lemah, seolah menyadarkan kita, bahwa korban pemerkosaan terpaksa membunuh karena lelaki telah memperlakuan perempuan secara biadab. Perempuan berhak membela dirinya dengan segala upayanya. Sebab tanpa itu, dunia seakan membiarkan, bahwa pemerkosaan sebagai suatu ynng sudah dianggap lazim dan wajar. Tanpa perlu menyebut data statistik yang akurat, lewat berbagai pemberitaan media, faktanya, banyak ditemukan kasus korban kekerasaan seksual dan perkosaan yang dialami perempuan.  Ironisnya, pelakuanya justru kerap terhindar dan terbebas dari jeratan hukum. 


(Ius Artanto/IM)
MUSTPEAK