Chasing the Dragon : Dendam yang Harus Dibalas
MEDIUS • Film • Resensi
Chasing the Dragon : Dendam yang Harus Dibalas
Ius Artanto • Jumat, 10 November 2017 19:40 WIB
Kisah kehidupan dan sepak terjang dunia hitam antara penegak hukum dengan gangsters kerap diangkat ke layar lebar. Tak terkecuali sinema laga Mandarin (Cina, Hong Kong, Taiwan), yang memiliki  genre kung fu, wuxia pian, gambling, crime, dan triad, mencoba menguak peristiwa dan fenomena tersebut. Melalui genre crime/triad, film Chasing the Dragon (Chui Lung/2017) menyuguhkan kisah sepak-terjang geng triad di Hong Kong yang menguasai bisnis narkoba pada era kolonialisme Inggris pada dekade 1960-an dan 1970-an.
 
Berbeda dengan gangster atau mafia Italia, Yakuza, dan Kartel Columbia, geng Triad (Hong Kong) kerap terlibat bisnis judi atau kasino, perdagangan narkoba, serta perkelahian yang sengit. Artinya, bisa satu lawan satu, satu lawan banyak orang, satu orang tanpa senjata harus menghadapi lawan dengan jumlah yang dilengkapi senjata tumpul dan tajam.
 
Bagi yang terbiasa menyaksikan genre sinema laga Mandarin, perkelahian macam itu sudah lazim. Bisa ambil contoh; The Big Boss (Bruce Lee/1971), Fist of Fury (Bruce Lee/1972), Boxer From Shantung (Chen Kuan Tai/1972), Shaolin Avengers (Fu Sheng/1976), Project A (Jackie Chan/1983), In the Line of Duty (Chyntia Khan/1989), Kung Fu Master (Jet Li/1991), Young and Dangerous (Ekin Cheng/1996), Legendary Assassin (Wu Jing/2008), dan lain-lain.
 
Film Chasing the Drogon juga menyajikan perkelahian gaya tersebut. Namun, dalam kisah Chasing the Dragon,  ketika para triad  bertarung, tak hanya mengandalkan tinju dan tendangan, tapi juga senjata tumpul, senjata tajam, pun senjata api. Pada dasarnya semuanya itu dilakukan, tak lain hanya mempertahankan wilayah kekuasaan, bahkan tak jarang pula demi melampiaskan sebuah dendam yang tak kunjung padam.
 
Pasca meredupnya genre kung fu dan wuxia pian pada pertengahan 1980-an, yang dicirikan pada era Dinasti Ming (1368 – 1644) dan Ching (1644 – 1911), akhirnya tema film tentang kehidupan polisi dan triad  menjadi booming pada 1980-an hingga 1990-an -  yang kemudian tetap mencuatkan dan mengharumkan kembali nama-nama aktor dan aktrisnya – menggeser segala film bergaya kung fu klasik dan kisah toko legendaris (Hung Hsi Kuan, Fang Shiyu, Yim Wing-chun, Huo Yuanjia, Wong Kei-ying, Wong Fei-hung, Zhang Sanfeng,  dan Yip Man)  
 
Para aktor dan aktris yang dimaksudkan adalah, Jackie Chan, Chow Yun Fa, Ti Lung,  Wang Lung Wei (Johnny Wang), Hung Ching Pao (Samo Hung), Liu Te Hua (Andy Lau), Jen Ta Hua (Simon Yam), Liu Shiu Shien (Danny Lee), Yen Chi Tan (Donnie Yen), Wan Che Liang  (Alex Man), Cynthia Rothrock, Cynthia Khan, dan Michelle Yeoh.  Namun, sejalan bergulir waktu, dari sederet nama tersebut yang masih eksis di industri film hingga kini adalah, Jackie Chan, Andy Lau, Donnie Yen, dan Samo Hung.  
 
Mencoba membuka filmografi sinema Mandarin, sudah cukup banyak genre crime, gambling, triad  telah dibuat.  Salah satu yang menarik disimak adalah, Chasing the Dragon, yang dibintangi Andy Lau dan Donnie Yen. Pasalnya, dalam film ini, mereka berdua pertama kali tampil bersama. Andy Lau berperan sebagai seorang polsi atau detektif bernama Lee Rock. Sedangkan Donnie Yes melakonkan tokoh Limpy Ho yang menjadi anggota geng triad.
 
Bagi Andy memerankan tokoh polisi atau detektif, bukan hal baru. Apalagi tokoh Lee Rock, yang pernah diperaninya lewat film Lee Rock (1991) dan Lee Rock II (1991). Pun Donnie Yen dalam melakonkan karakter seorang anggota triad. Film sepanjang 128 menit yang disutradai Jason Kwan dan Jing Wong ini, tokoh Limpy Ho juga pernah diangkat dalam film To Be Number One (1991), yang diperankan Ray Lui.
 
Chasing the Dragon selain menyuguhkan adegan kelahi yang menakjubkan, kehadiran Chen Hui Ming (Michael Chan) - sebagai aktor senior Hong Kong yang juga pernah tampil dalam film laga Indonesia  – tampil cameo  memerankan pentolan gangster yang berpengaruh.
 
Kronologisnya, pada 1963, seorang imigran ilegal dari Cina Daratan (China Mainland) bernama Limpy Ho (Donnie Yen) masuk ke Hong Kong saat adanya kolonisasi Inggris. Di tengah kondisi yang serba susah untuk mendapatkan uang, pada akhirnya Ho terseret dalam dunia hitam, triad. Ia menjadi jagoan pandai bertarung sekaligus sebagai pengedar narkoba. Berbekal ilmu beladiri kung fu yang dikuasai, Ho semakin melambung namanya di kalangan triad, dan memiliki banyak uang dari bisnis haramnya. Hal tersebut bisa terjadi karena jasa dan bantuan Kepala Sersan Detektif, Lee Rock (Andy Lau).
 
Meski begitu, perjuangan dan persahabatan antara Ho dan Lee Rock bukanlah sesuatu yang mudah. Banyak pihak yang ingin membunuh mereka, termasuk Chubby (Ben Ng) yang sejak awal sudah menaruh dendam terhadap Ho.
 
Dalam suatu peristiwa Ho akhirnya bisa ditaklukan oleh anak buah Chubby yang jumlahnya sangat banyak. Parahnya, kaki kanan Ho berhasil dipatahkan hingga menjadi pincang oleh Chubby. Ini yang menyebabkan ia harus memakai tongkat penyanggah, yang akhirnya namanya dikenal dengan Ng Sik-ho atau Crippled Ho. Namun, semangatnya untuk membalas dendam tak kunjung padam, termasuk kepada polisi Inggris bernama Ernest Hunt (Bryan Larkin), yang telah menganiaya adiknya hingga mengalami luka yang sangat parah. Sementara, istri dan anak Ho, telah meninggal dunia ketika akan menyebrangi lautan dari Cina Daratan ke Hong Kong akibat ditenggalamkan oleh seseorang.
 
Lalu, praktik suap yang dilakukan para triad terus berkembang di kalangan oknum polisi. Namun, praktik tersebut tak mungkin diteruskan, sejak dibentuknya Komisi Independen Anti Korupsi atau Independent Commission Against Corruption (ICAC) oleh penegak hukum pada 1974. Tentu hal ini berdampak terhadap semua sendi-sendi bisnis ilegal yang dilakukan triad dan oknum polisi. Meski demikian, Ho tetap harus menyelesaikan semua urusannya, yang terkait dengan istri, anak, adik, saudara, dan teman-temannya yang telah tewas dan terluka parah.
 
Lazimnya film-film Mandarin bergenre kung fu, wuxia, crime,gambling, selalu ada motif balas dendam. Apalagi para topkoh protagonis dan antagonisnya cenderung memiliki kesadisan dalam melampiaskan dendamnya. Tampaknya, balas dendam tak pernah lenyap dari tema sinema laga Mandarin. Seolah memaafkan sepertinya bukan sesuatu yang dianggap baik dan benar sebagai sikap terpuji. Entahlah.      


(Ius Artanto/IM)
MUSTPEAK
Rabu, 09 Oktober 2019 20:52 WIB
MISTERIUS • Cerita
Popie S. Hanjani
Rabu, 02 Oktober 2019 18:28 WIB
MEDIUS • Film • Resensi
Ius Artanto
Selasa, 17 September 2019 17:26 WIB
MEDIUS • Film • Resensi
Ius Artanto