Beyond Skyline : Daya Tarik Martial Arts Alien Vs Manusia
MEDIUS • Film • Resensi
Beyond Skyline : Daya Tarik Martial Arts Alien Vs Manusia
Ius Artanto • Kamis, 02 November 2017 19:35 WIB
Satu lagi film tentang invasi mahkluk alien ke bumi, telah edar akhir Oktober 2017. Meski tak ada hal baru yang ditawarkan. Namun, adegan martial arts dan lokasi ajang perkelahian  yang divisualisasikan cukup indah dan menarik. Pertarungan alien versus manusia, tak dipungkiri, ternyata menjadi daya pikat paling ditunggu penonton.
 
Bagi yang pernah menyaksikan film Skyline (2010), film Beyond Skyline (2017) secara tema dan unsur effect, tentu bukanlah sesuatu  yang baru. Sebab, perusahaan industri film yang juga menangani special effect, Hydraulx, juga terlibat dalam dua film tersebut. Maka tak heran, jika kedua film tersebut menjadi sangat mirip seolah seperti sequel.
 
Masih terkait urusan effect, sejak film Alien (1979) yang dibintangi Sigourney Weaver dirilis, wujud mahklluk alien seolah menjadi protype atau purwarupa yang ajeg. Selain itu - film Alien yang telah memiliki sequel; Aliens/1986 dan Alien: Covenant/2017 - proses kelahiran para mahkluk alien melalui penetasan telur pun menjadi acuan bagi produksi film-film sejenis selanjutnya. Sedangkan bentuk pesawat raksasa  milik Alien yang menyerupai piring terbang, dipastikan menimbulkan decak kagumnya, ketika kita menonton film Independence Day (2016) pun menjadi bentuk baku bagi pesawat mahkluk luar angkasa. Selebihnya, elemen War of the Worlds (2005), Edge of Tomorrow (2014), Iron Man (2008), pun menyusup dalam film Beyond Skyline.
 
Meski begitu, setidaknya, Beyond Skyline yang disutradarai Liam O’Donnell bisa menjadi alternatif tontonan, mengingat adegan martial arts-nya tak akan bisa dijumpai di genre science-fiction atau sejenisnya. Seperti diungkap sutradanya, berkat koreagrafi perkelahian Iko dan Yayan, film Beyond Skyline menjadi sangat berbeda. Apalagi adegan kelahinya dilakukan di persawahan juga di sekitar area candi Prambanan.
 
Bagi penonton non Indonesia, tentu ada rasa penasaran ketika melihat keindahan Candi Prambanan menjadi latar perkelahian antara manusia melawan para alien. Dipastikan, penonton akan mencari tahu, di manakah lokasi candi Prambanan itu? Ini yang disengaja dibuat oleh  sutradara dan produser, Matthew E. Chausse, menyembunyikan lokasi persisnya candi Prambanan, agar penonton mancanegara penasaran mencari tahu lokasi sebenarnya. Suatu promosi yang jitu.
 
Secara kisah, Beyond Skyline bercerita tentang adanya penyerangan para alien ke bumi di berbagai negara. Mereka singgah ke bumi untuk mencari otak manusia, yang digunakan untuk cloning bagi mahkluk-mahkluk alien yang siap memusnahkan kehidupan di bumi. Intinya, raga atau tubuh alien merupakan hasil produksi telur yang menetas dan terus berkelanjutan. Selanjutnya bagian kepalanya diganti oleh otak manusia untuk kemudian menyerang bumi.
 
Upaya mereka untuk terus memburu otak manusia, mendapat resistensi dari sekelompok pemberani yang berjuang tanpa lelah untuk melawan dan membunuh para alien. Kelompok pemberani tersebut terdiri dari, detektif Mark (Frank Grillo), petugas kereta api bernama Audrey (Bojana Novakovic), pria tuna netra Sarge (Antonio Fargas), pemberontak bawa tanah Sua (Iko Uwais), serta kepala polisi (Yayan Ruhian). Mereka sepakat untuk melenyapkan para alien yang telah menguasai wilayah bumi.
 
Perjuangan dan pengorbanan mereka tak sia-sia. Para alien dapat dibasmi. Sebelum segala pertempuran usai, perkelahian antara Mark, Sua, Kepala Polisi dengan para alien menjadi bagian scene yang paling ditunggu. Betapa tidak. Berbekal pisau alien, belati, dan parang yang digunakan Franks Grillo, Iko, dan Yayan mampu menampilkan adegan kelahi yang seru, memikat, dan indah. Tampaknya, itulah keunggulan film Beyond Skyline.   


(Ius Artanto/IM)
MUSTPEAK