The Library of Humor Studies: Literasi Bagi Pelaku dan Penikmat Humor
KOLEKSIUS • Humor
The Library of Humor Studies: Literasi Bagi Pelaku dan Penikmat Humor
Ius Artanto • Jumat, 27 Oktober 2017 12:37 WIB
Komedian kerap dianggap seorang yang jenius. Pernyataan ini tak harus dianggap lebay. Sebab, membuat orang tertawa lepas itu tak gampang. Apalagi membuatnya tertawa sampai terbahak-bahak tanpa beban, itu jauh lebih sulit. Misalnya saja, saat bos kita melontarkan jokes atau anekdot, walau tidak lucu, kita pun berusaha tertawa lepas supaya bos menjadi senang. Begitupun sebaliknya. Saat kita melontarkan anekdot kepada bos, tapi ternyata mimik bos  flat saja, tanpa ekspresi. Jangankan tertawa, senyum pun tidak. Itulah sulitnya membuat seseorang  bisa tertawa dengan bebas lepas tanpa beban.
 
Setidaknya ilustrasi di atas ingin menjelaskan bahwa, berhumor atau melawak itu, tidaklah semudah dan selucu pejabat yang pura-pura sakit, ketika kasusnya telah ditangani KPK. Pada dasarnya, berhumor membutuhkan wawasan, pengetahuan, kepekaan, dan literasi yang kuat. Hal ini pula yang di-share Mi’ing alias Dedy Gumelar pada acara diskusi yang diberi titel Humor Masa Kini Vs Humor Masa Gitu, yang diselenggarakan ihik3 (Institut Humor Indonesia Kini) dalam peluncuran The Library of Humor Studies (Perpustakaan Humor), pada beberapa waktu lalu,  Rabu, 11 Oktober 2017, di gedung ke kini Ruang Bersama, Cikini, Jakarta.
 
Dalam kesempatan itu, selain Mi’ing yang mewakili praktisi komedi, hadir pula narasumber; Seno Gumira Ajidarma (penulis humor), Maman Suherman (penggiat humor) , Novrita Widiyastuti (Chief  Executive Officer ihik3, Yasser Fikry (Chief Creative Officer ihik3), dan Dina Tuasuun (Penulis dan Pendongeng). Sedangkan Danny Septriadi  - salah satu penggagas berdirinya ihik3 – bertindak selaku moderator cukup mampu mengatur lalu-lintas “obrolan komedi” yang serius sekaligus santai.
 
Masing-masing narasumber melontarkan ide, gagasan, pemikiran, seputar humor. Seno Gumira menyodorkan tentang kepekaan humor dan fenomena humor dalam setiap periode zaman. Maman menyampaikan tentang pentingnya literasi atau iqra dalam praktik humor. Dina mengaku pentingnya humor bagi anak-anak. Novrita, yang juga berprofesi dosen, mengulas mengenai humor ala generasi milenial. Sedangkan Yasser memberi contoh, pentingnya entitas humor dalam aktivitas komunikasi, seperti dalam memberi materi  kuliah bagi mahasiswa. Selain giat di radio dan ihik3, Yasser pun seorang dosen.
 
Sekadar catatan,  ihik3 dimaksudkan ketika seseorang melihat logo ihik3 tersebut harus dibaca tiga kali; ihik ihik ihik, yang berkonotasi tertawa kecil karena sesuatu yang lucu atau menggelikan. Ihik3 didirikan oleh 3 komisioner, yakni, Danny Septriadi, Darminto M. Sudarmo, dan Seno Gumira Ajidarma. Ketiganya secara kebetulan – walaupun segalanya tidak ada yang kebetulan..hehehe – memiliki perhatian yang sama terhadap humor. Sejalan perkembangannya, datang bergabung Novrita dan Yasser untuk memperkuat.    
 
Pada intinya, berhumor juga membutuhkan literasi atau keterbacaan yang kuat. Teremasuk melek buku, informasi, dan internet.Tanpa itu, pada zaman era digital ini, humor hanya lelucon yang repetitif. Materi humor hanya sebuah komoditi yang dipoles dengan versi yang berbeda. Bahkan humor telah bermertamorfosis dalam beragam gaya melalui media sosial; meme, vlog, status di fb, dan lain-lain.
Hadirnya Perpustakan Humor – yang merupakan perpustakaan humor pertama dan masih satu-satunya di Indonesia - sebetulnya suatu gagasan lama dan kehadirannya dimaksudkan sebagai literasi bagi para pelaku, peneliti, dan penikmat komedi di Indonesia. Seperti tertuang dalam Kata Pengantar buku diskusinya dinyatakan, melalui perpustakaan ini, ihik3 berharap akan muncul virus-virus kebahagiaan lewat penelitian humor, pelatihan humor bagi awam, sehat dengan humor, diskusi humor, dan lain-lain.
 
Untuk mewujudkan harapan tersebut, maka ihik3 memiliki sejumlah buku humor atau komedi yang terpajang di lemari kantor Ihik3. Ada sekitar 400 judul buku tahap awal dari kekira 1200 buku koleksi pribadi.  
 
Mencermati hal di atas, usah kernyit dahi lalu curiga dengan menyatakan pertanyaan: kenapa sih berhumor aja pake disulit-sulitin?  Pake diilmiahkan kayak di dunia kampus aja...
 
Stop, tunggu dulu. Literasi bukanlah satu-satunya menu pokok untuk memperkaya vitamin humor. Ada menu lain yang dari dulu menjadi vitamin humor, yakni, mengamati dan mendengarkan. Tanpa pengamatan dan mendengarkan, seorang komedian tak akan langgeng melucu. Sebab, sumber humor yang paling inspiratif adalah kejadian dan pengalaman dari orang-orang di sekitar dan semesta yang menstimuli kesadaran kita. Para comic atau komika – sebutan untuk komedian di stand up comedy - bisa melucu karena pengalaman atau kejadian yang ada disekitarnya. Seolah terkesan gampang, tapi sesungguhnya sulit. Coba hitung sudah berapa comic yang sudah tidak lucu dan tidak lagi manggung atau close mic? Pasti jumlahnya cukup banyak. Begitupun pelawak. Sudah berapa banyak yang sudah tidak  muncul di televisi? Meski, komedian yang tidak muncul di televisi, bukan berarti dia adalah komedian yang tidak lucu. Bijaknya, itu semua karena perubahan zaman dan selera konsumen humor yang berubah. Setiap hiburan memiliki fluktuasinya. Baik dunia film, musik, juga komedi. Selalu ada trend-nya. Sekali lagi, melucu atau melawak itu memang tidaklah mudah.
 
Walau peran media televisi maupun radio tidak bisa diabaikan. Sebab, ada pula komedian yang sudah tidak lucu, tapi karena ia tampil di televisi atau radio, seolah dia lucu. Padahal tidak. Siapapun – termasuk produser dan program director televisi dan radio- tidak akan bisa mendeteksi tingkat ketertawaan pemirsa televisi atau pendengar radio di rumah, pun audien yang mobile. Gitu lho, sebab ngga bisa gini lho.


(Ius Artanto/IM)
MUSTPEAK
Rabu, 09 Oktober 2019 20:52 WIB
MISTERIUS • Cerita
Popie S. Hanjani
Rabu, 02 Oktober 2019 18:28 WIB
MEDIUS • Film • Resensi
Ius Artanto
Selasa, 17 September 2019 17:26 WIB
MEDIUS • Film • Resensi
Ius Artanto