Suami Untuk Mak: Drama Komedi Yang Bias
MEDIUS • Film • Resensi
Suami Untuk Mak: Drama Komedi Yang Bias
Ius Artanto • Rabu, 20 September 2017 08:38 WIB
Suami Untuk Mak merupakan  film yang menyodorkan elemen komedi dan kesedihan dalam kemasan tema drama rumah tangga. Hadirnya duet Rano Karno dan Lydia Kandou, tak bisa ditepis justru menjadi magnet. Tentunya hal tersebut, bukan bermaksud  mengabaikan peran berkualitas  lainnya. Dengan memajang sejumlah bintang senior legendaris plus jebolan ajang Stand Up Comedy – yang belakangan masif mengisi layar bioskop Indonesia – film Suami Untuk Mak justru terjebak dalam durasi mellow  berkepanjangan. Akhirnya, film ini menjadi drama komedi yang bias.
 
Film berdurasi sekitar 98 menit merupakan produksi CMI Pictures dan Monty Tiwa Production serta disutradarai Yoshua Rocky, berkisah kehidupan seorang ibu  bernama Sarah (Lidya Kandou) yang telah menikah sebanyak lima kali. Namun, kelima suaminya  telah meninggal dunia akibat kejadian tertentu.  Dari hasil perkawinannya dengan Sarah,  masing-masing memberinya seorang putra. Uniknya, kelima suami Sarah berasal dari suka atau etinis yang berbeda (Tionghoa, Betawi, Sunda, Bajo, dan Jawa). Maka tak heran, jika kelima anak Sarah, wajahnya tak saling mirip.  
 
Beranjak dari kondisi tersebut, film ini cukup memberi celah lebar untuk memicu komedi situasi, yang tentunya mampu mengundang tawa penonton. Penulis skenario yang terdiri dari Vera Zanobia, Ikhsan, dan Tim CMI mengolah cerita dan karakter peran yang tentunya bisa mengocok perut. Sejumlah karakter peran pengundang kelakar antara lain  Edric Tjandra sebagai Kokoh, Cemen memerankan Adul, Billy Syahputra (Billy), Raim Laode  menjadi Gilbert, dan Taufiq Saini (Bontot), cukup representatif, jenaka, dan memikat.
 
Selain itu, kehadiran Dodit Mulyanto sebagai cameo  – alumni Stand Up Comedy melalui ajang kompetisi televisi -  pun masih sanggup memecah tawa.  Kehadiran  bintang senior dan cukup dikenal yang tampil sejenak (cameo); Ari Wibowo, Surti Karno, Cut Memey, Bedu, dan lainnya, juga memiliki daya pesonanya tersendiri.
 
Status Sarah yang telah menjanda sekian lama, yang akhirnya mendapat perhatian sangat besar dari anak-anaknya. Intinya, Kokoh, Adul, Billy, Gilbert, dan Bontot sangat sayang terhadap Maknya. Maka itu, mereka ingin memberi kado istimewa di hari ulang tahun kepada Maknya, yaitu seorang suami. 
 
Tingkah polah mereka dalam upaya mencari suami untuk Mak tersayang, yang akhirnya menyulut senyum dan tawa. Namun, pertengahan narasi hampir menjelang akhir,  durasi cerita mellow justru mendapat porsi yang panjang. Ini yang mengakitbatkan film Suami Untuk Mak menjadi drama komedi yang bias. 
 
Meski begitu, pada dasarnya, film ini juga menyuguhkan suatu pesan yang patut direnungkan, yakni, takdir. Sebab, hidup ini bukanlah suatu accidental. Tapi suatu rencana dari Sang Maha Pencipta, yang kerap tak terduga bagi kehidupan manusia. Pertemuan Sarah (Lidya Kandou) dan Amran (Rano Karno) dalam beberapa peristiwa adalah takdir. Bukan kebetulan. Pun kandasnya cinta antara Billy dengan  Nina (Susan Sameh) merupakan takdir.  Selain itu, film ini juga menyisipkan pesan tentang keberagaman dan perlunya saling menghargai perbedaan, kasih sayang terhadap orangtua, walau dikemas dalam bungkus komedi.
 
Sedangkan lagu-lagu yang menghias di beberapa scene, antara lain, Cinta Diam Diam  disuarakan oleh 3 Composer (ciptaan Tengku Shafick), You Got Me (Carlisle Blackwater dan Acha Ivana (ciptaan  Carlisle Blackwater dan Acha Ivana), Telah Berubah dilantunkan The Mirza (ciptaan Tengku Shafick), Aku dan Cinta dinyanyikan Dian Laode dan Hana Afifah (ciptaan Sally Effendi),  dapat menjadi penguat bagi kisah visualnya. Bagi penonton yang menggemari genre komedi yang dibalut kesedihan, film ini dapat menjadi pilihan yang tetap menghibur, sambil mengunyah popcorn dan beberapa teguk minuman.


(Ius Artanto/IM)
MUSTPEAK