Selalu Ada (Tiada) Hoax Di Antara Kita
MEDIUS • Siber Media
Selalu Ada (Tiada) Hoax Di Antara Kita
A. Yudo • Jumat, 03 Februari 2017 08:37 WIB
Teknologi digital telah merambah multi bidang; finansial, media massa, transportasi, hingga berbagai bentuk pelayanan publik. Pararel dengan itu,  pesatnya kemajuan teknologi komunikasi dan informasi digital – khususnya munculnya konvergensi media yang bermetamorforsis, termasuk media sosial -  yang semakin masif dan canggih terkadang tak diimbangi cara menyikapi suatu teks; tulisan, gambar, foto, video,  secara santun, bijak, dan benar.
 
Mencermati sejumlah teks yang bisa ditemukan di media siber atau media sosial, memang kerap  membaur dengan opini subyektif, tendensius, tidak netral, serta cenderung fitnah. Bahkan teks dapat menstimuli kebencian, hasutan, provokatif, sehingga tak lagi disadari sebagai suatu bahaya yang laten, pun tanpa disadari bahwa itu adalah hoax.
 
Di ranah media siber, hoax bak virus yang menjangkiti sebagian besar para penggunanya. Bermula dari para pembuat (seolah) berita, opini, data, foto, dan gambar yang mengandung hoax dalam prosesnya men-share melalui media sosial tersedia. Tanpa kendala dan kesulitan, para penyebar hoax –  sadar maupun tanpa sadar – mulai menggunakan  jemari gaya copy paste untuk menyebarkan teks hoax yang telah diterimanya melalui ponselnya. Lalu tiba gilirannya, teks hoax semakin meluas menjangkau ruang-ruang individu maupun komunitas lewat  facebook, twitter, whats app, line, youtube, path, dan instagram.
Teks yang diproduksi dan disebar, pada dasarnya terkait dengan isu atau peristiwa aktual. Media mainstream (surat kabar, radio, televisi) memuat, menyiarkan, dan menayangkan berita aktual sebagaimana adanya. Meski, kerap pula - berita dalam konteks analisis wacana dan kajian komunikasi - bukan sesuatu yang steril dari rekayasa, kontruksi, dan agenda setting. News room juga berperan dalam mengkonstrusi berita yang akan disajikan.
 
Peristiwa atau isu aktual yang akhirnya menjadi teks yang hoax, ketika adanya kontestasi Pemilihan Kepala Daerah (Pilkada) dan Pemilihan Gubernur (Pilgub), misalnya. Berita, foto, gambar  yang termuat tentang Pilkada maupun Pilgub di media mainstream, tiba gilirannya diproduksi dengan sesuatu yang bohong, palsu, tipu, kemudian disebar. Ada beberapa portal berita yang seolah kredibel, tapi faktanya didominasi teks yang hoax. Dari sini para pengguna media siber mulai melakukan aksi copy paste, yang kemudian di-share melalui media sosial tanpa disadari apakah berita itu bohong atau tidak. Utamanya, yang menjadi keyakinan bagi netizen, bahwa ada berita yang penting perlu diketahui masyarakat walau itu kenyataannya berita bohong (hoax).  
 
Implikasi hoax sebagai kebutuhan bagi pengguna media siber dalam mengkonsumsi informasi atau berita dianggap wajar dan galib. Masyarakat media siber telah terbiasa dengan segala teks yang cenderung hoax, sehingga sulit membedakan mana yang benar dan mana yang bohong. Ada sebagian pihak masyarakat yang resah dan muak dengan  sejumlah teks yang hoax. Maka itu, upaya pemerintah melalui instansi kepolisian mencari solusi dan tindakan preventif terhadap masifnya berita atau teks hoax. Bahkan pemerintah, melalui depkominfo, akan segera membekukan beberapa sosial media yang dianggap mengancam keamanan NKRI.
 
Secara etimologi, kata hoax diyakini telah ada sejak ratusan tahun silam, sekitar 1620-an. Dalam dictionary.com   diuraikan secara spekulatif oleh John Tillotson (1630 – 1694), asal kata hoax bermula dari kata hocus dari mantra hocus pocus, yang kerap disebut penyihir, seperti ucapan “sim salabim” atau “abrakadabra”. Namun, mantra hocus pocus aslinya berasal dari bahasa Latin, hoc est corpus yang berarti “ini adalah tubuhku”, yang diduga diambil dari liturgi Misa Gereja Latin.
 
Istilah hocus pocus pernah pula menjadi judul film (1993) yang diproduksi Walt Disney dibintangi Bette Midler, Sarah Jessica Parker, dan Kathy Najimy, yang berlatar kejadian pada malam Halloween, 31 Oktober 1693. Begitulah bahasa tidak lepas dari metaphora. Seperti pendapat ahli bahasa asal Belgia, Paul de Man, semua bahasa adalah metaphora.
 
Demikian juga hoax, suatu  kata yang telah mengalami methapora sebelumnya. Alexander Boese dalam situs Museum of Hoaxes  mendokumentasikan, hoax pertama yang dipublikasikan adalah almanak palsu, yang diciptakan Isaac Bickerstaff alias Jonathan Swift (1667 – 1745) pada Februari 1708. Kala itu, ia memprediksikan kematian astrolog, John Partridge.  Untuk meyakinkan publik,  Swift  membuat obituari palsu mengenai Partridge, serta ramalan  hari kematiannya pada 29 Maret 1708. Tujuan Swift membuat hal tersebut, tidak lain hanya untuk mempermalukan Partridge di depan publik. Sejak itu, Partridge pun berhenti memproduksi almanak astrologi hingga 6 tahun setelah hoax beredar.
 
Tak hanya itu kisah tentang hoax. Bahkan pada awal 1958 di Michigan, Amerika Serikat, sempat terjadi kehebohan lantaran kemunculan manusia kecil yang aneh berwarna biru, yang dilengkapi  lampu berkedip di atas kepalanya. Manusia biru itu kerap melintas lalu menghilang dengan cepat di jalan-jalan perdesaan. Masyarakat menilai itu semacam mahkluk dari luar ruang angkasa. Penyelidikan yang dilakukan polisi pun  berakhir, ketika tiga pemuda bernama Jerry Sprague, Don Weiss, dan LeRoy Schultz, telah mengaku. Perbuatan mereka ternyata terinspirasi dari lagu hits Little Blue Man (1958), yang dinyanyikan Betty Johnson.
 
Pada konteks media siber, kata hoax dapat dimaknai sebagai  teks yang digunakan sebagai pemberitaan palsu atau upaya menipu yang disebarkan melalui siber media kepada pembaca untuk mempercayai segala sesuatunya. Dalam penelusuran historis filmis, kata hoax berasal dari sebuah  film based on true story  produksi Amerika berjudul The Hoax (2006). Film ini  dibintangi Richard Gere yang berperan sebagai Irving Clifford, novelis yang mencoba membuat buku otobiografi palsu tentang kisah Howard Hughes. Tentang Howard Hughes, kisahnya  pernah diangkat ke layar lebar oleh sutradara Martin Scorsese  berjudul The Aviator (2004), dibintangi Leonardo DiCaprio sebagai Howard Hughes. Dalam film ini, Hughes dikisahkan sebagai seorang eksentrik sebagai pengusaha pesawat terbang. Film ini didasarkan dari kisah kehidupan Howard Hughes dalam buku The Secret Life (1993) karya Charles Higman.
Terkait dengan skandal buku otobiografi palsu yang ditulis Irving Clifford, The Hoax dianggap sebagai film yang banyak mengandung kebohongan. Tak heran kemudian banyak kalangan, terutama para netter  menggunakan kata hoax sebagai penggambaran  tentang sesuatu yang mengandung kebohongan. Tak perlu waktu lama, percepatan media siber dalam menyebarkan istilah hoax pada akhirnya banyak digunakan oleh berbagai negara. Namun, dalam buku  Lynda Walsh berjudul Sins Against Science: The Scientific Media Hoaxes of Poe, Twain, and Others (2006),  dituliskan, kata hoax merupakan istilah bahasa Inggris, yang telah dikenal di Amerika pada rentang tahun 1830 – 1880, saat terjadi penemuan-penemuan ilmiah dan teknologi sebagai sesuatu yang hoax.
 
Lepas dari konteks etimologi, yang jelas kata hoax sudah menjadi kata popular untuk menggambarkan segala yang bohong atau palsu, khususnya, dalam teks media siber. Hoax bukan saja sekadar tulisan berbentuk berita atau opini, tapi juga mencakup data, foto, gambar, film, dan video.
 
Secara definitif, teks merupakan seperangkat tanda yang ditransmisikan dari seorang pengirim kepada seorang penerima melalui medium tertentu dan dengan kode-kode tertentu (Budiman, 1999). Sedangkan menurut McKee (2001), dalam Ida Rahma (2014), teks adalah semua yang tertulis, gambar, film, video, foto, desain grafis, lirik lagu, dan lain-lain yang menghasilkan makna.
 
Melalui medium teks dapat terbaca, bahkan melalui media siber teks dapat di-share atau disebarkan. Banyak penyebutan yang bisa disematkan untuk media siber (cyber media) dalam literatur akademis, misalnya media online, digital media, media virtual, e-media, network media, media baru, dan media web. Penyebutan ini merujuk pada karakteristik maupun hal teknis seperti teknologi itu sendiri. Namun pada intinya beragam penyebutan itu memiliki muara yang sama, yakni merujuk pada perangkat media baik itu perangkat keras (hardware) maupun perangkat lunak (software) (Rully Nasrullah, 2014).
 
Mencoba memahami makna denotatif maupun konotatif dari kata hoax, tentu memiliki perbedaan yang tajam jika dibandingkan dengan pengertian berita (news). Menurut Erie C. Hopwood, berita adalah news is the first report of significant event which have interest for the public (Miller, 1957). Sedangkan pendapat lain, berita dapat dimaknai sebagai keterangan mengenai peristiwa atau isi pernyataan manusia (Hoeta Soehoet, 2003). Melengkapi pendapat tentang berita, Jakob Oetama (1987), berpendapat, berita itu bukan fakta, berita itu laporan tentang fakta.
 
Timbul pertanyaan, mengapa berita hoax bisa muncul dan memiliki kredibilitas bagi pembacanya? Tentu segala sesuatunya bukan serta merta. Ada proses yang melatari, ketika seseorang mempercayai suatu teks hoax.
 
Dalam Tribunnews, dituliskan, ada alasan seseorang percaya dengan hoax, yaitu, keterbatasan informasi. Kita percaya berita hoax bukan karena kita mudah dibohongi. Tapi karena keterbatasan arus informasi yang datang.
 
Direktur Institute of Cultural Capital di University of  Liverpool, Simeon Yates, melalui tulisannya di world.edu, Fake News-Why People Believe It and What Can Be Done to Counter It, menyatakan, ada fenomena bubbles atau gelembung dalam penggunaan media sosial. Artinya, user media sosial cenderung berinteraksi dengan orang yang memiliki ketertarikkan yang sama dengan diri sendiri. Ditinjau dari studi kelas sosial, gelembung media sosial tersebut mencerminkan gelembung offline sehari-hari.
Dapat disimpulkan merujuk dari definisi di atas, berita pada dasarnya dituliskan dari kejadian atau peristiwa yang faktual. Sedangkan hoax bukan didasarkan peristiwa faktual. Dalam media siber terdapat beragam jenisnya. Ada situs, e-mail, blog, wiki, media sosial, dan lain-lain. Dari beragam jenis tersebut, berita hoax kerap menyusup di blog dan media sosial.
 
Pustaka:
A.M. Hoeta Soehoet, Dasar-Dasar Jurnalistik, 2003, Yayasan Kampus Tercinta IISIP, Jakarta.
Douglass Wood Miller, The News Slant and  the Reporter, dalam  George Fox Mott,  et. al, New Survey of Journalism,  1957, Barnes & Noble, Inc., USA,
Ida Rahma, Metode Penelitian Studi Media dan Kajian Budaya, 2014, Prenada Media, Jakarta.
Jakob,Oetama, Reportase Komprehensif  dalam Jakob Oetama, Perspektif Pers Indonesia, , 1987, LP3ES, Jakarta.
Kris Budiman, Kosa Kata Semiotik, 2003,
Rully Nasrullah, Siber Media, 2014, Premedia, Jakarta.


(A. Yudo/IM)
MUSTPEAK