Wish Upon : Kotak Astakona Pencabut Nyawa
MEDIUS • Film • Resensi
Wish Upon : Kotak Astakona Pencabut Nyawa
Ius Artanto • Jumat, 04 Agustus 2017 18:07 WIB
Berhati-hatilah dengan setiap keinginan terkabul. Karena tanpa disadari, justru itu membawa malapetaka bagi orang lain, bahkan diri sendiri. Demikianlah pesan film Wish Upon, yang mampu menebar tensi ketegangan dalam rentang waktu durasi 90 menit.
 
Film bergenre suspense thriller berdasar skenario Barbara Marshall, sejak awal telah menyodorkan misteri dan ketegangan. Kisah bermula, ketika seorang ibu nampak membawa sebuah benda terbungkus kain lalu membuangnya ke tong sampah. Pada waktu bersamaan, anak perempuannya yang masih bocah bernama Clare Shannon (Raegan Revord), terlihat sedang asyik bersepeda bersama anjing kesayangan, mengelilingi sekitar rumahnya. Tak lama berselang, ketika Clare kembali ke rumah, ia mendapati ibunya bunuh diri di kamarnya. Clare pun menjerit histeris.
 
Dua belas tahun kemudian,  Clare (Joey King) telah menjadi gadis cantik dan berstatus pelajar SMA. Setiap ke sekolah, Clare selalu bersepeda. Clare memang dikenal sebagai siswi yang miskin. Ayahnya adalah pemulung. Maka tak heran, Clare kerap di-bully oleh teman-temannya yang kaya, terutama oleh Darcy Chapman (Josephine Langford)
 
Pada suatu ketika, Clare sudah tidak tahan dan hilang kesabarannya dengan perlakuan kasar Darcy. Ia harus melawannya sehingga terjadi perkelahian yang sengit. Namun, hal ini justru semakin menyudutkan dirinya, tatkala beritanya tersebar di media sosial. Clare semakin diperolok.
 
Dengan segala kekesalan dan kekecewaan yang menumpuk dan memuncak, Clare teringat dengan kotak astakona beraksara kanji Cina, pemberian ayahnya yang disimpan di kamarnya. Ayah Clare menemukan kotak tersebut di tong sampah. Setiba di kamar, Clare pun mulai tergoda untuk mengungkapkan keinginannya. Ia ingin membalas dendam dan mendapati kesempurnaan hidup. Tanpa disadari Clare, setiap  permintaan yang terkabul akan merenggut satu nyawa sebagai korban, termasuk anjing setianya. Limit permintaan Clare berlaku sampai tujuh kali.  Dari sinilah visualisasi repetitif ketegangan terus menggedor.
 
Sutradara John R. Leonetti – yang pernah menggarap Annabelle  (2016) merupakan spin-off  film The Conjuring - nampaknya piawai dalam menyusun “puzzle  scene” menjadi suatu misteri ketegangan  menyulut rasa penasaran. Meski  bagi penonton yang memiliki ingatan  ajeg tentang film The Conjuring, Annabelle, Before I Fall, tentunya Wish Upon tak lebih dari sekadar scene yang berulang. Lepas dari itu, usah khawatir, wajah cantik dan akting memikat dari Joey King ternyata cukup mampu menjadi bonus tontonan. Pun kontradiksi antara kaya dan miskin yang cenderung klise, toh tetap menjadi magnet yang kuat.


(Ius Artanto/IM)
MUSTPEAK