The Hitman’s Bodyguard : Perisai Demi Sang Saksi
MEDIUS • Film • Resensi
The Hitman’s Bodyguard : Perisai Demi Sang Saksi
Ius Artanto • Kamis, 03 Agustus 2017 17:51 WIB
Kisah tentang seorang bodyguard diangkat ke  film, memang belum banyak. Masih bisa dihitung dengan jari. Pada 1992 lewat film  The Bodyguard, Kevin Costner berperan sebagai Frank Farmer – mantan anggota agen Secret Service AS era Presiden Ronald Reagan– menjadi bodyguard bagi Rachel Marron (Whitney Houston).
 
Hampir serupa dengan The Bodyguard – meski ada perbedaan menyolok dalam kemasan unsur hiburannya- film The Hitman’s Bodyguard  (2017) dibintangi Ryan Reynolds sebagai Michael Bryce (bodyguard ), yang ditugasi Amelia Roussel (Elodie Yung) untuk melindungi keselamatan Darius Kincaid (Samuel L. Jackson).  Kincaid adalah saksi kunci atas Vladislav Dukhovich (Gary Oldman) - mantan presiden pecahan Negara Uni Sovyet yang diktator dan pembantai bagi rakyatnya -  menunggu proses pengadilan yang akan berlangsung. Hanya Kincaid  yang memiliki alat bukti seangkaian pembunuhan yang dilakukan Dukhovich berupa foto-foto.
 
Mencoba memutar waktu puluhan tahun silam, adegan pembuktian mengenai foto-foto kekejaman yang dilakukan seorang terdakwa, juga pernah  divisualisasikan dalam film Music Box (1989) dibintangi Jessica Lange memerankan Attorney Ann Talbot, seorang pengacara pembela bagi  ayahnya yang dituduh telah  melakukan pembunuhan keji di masa lalu.
 
Kembali ke The Hitman’s Bodyguard. Persidangan bagi Dukhovich  terus berlanjut. Dukhovich dipastikan akan bebas, jika saksi kunci tak bisa dihadirkan di ruang sidang. Hakim memberi batas waktu empat jam untuk menghadirkan saksi Kincaid. Sebuah tugas maha berat bagi Bryce dalam melindungi nyawa Kincaid, mengingat anak buah Dukhovich terus memburu dan ingin membunuh mereka, sejak perjalanan dari London menuju Amsterdam.
 
Dengan segala daya upaya dan perjuangan yang maha dahsyat, akhirnya Bryce mampu menghadirkan Kincaid ke ruang sidang. Meski pada jelang akhir sidang, terjadi kericuhan dan insiden. Bryce rela menjadi perisai demi keselamatn nyawa Kincaid, akibat tembakan Dukhovich yang memanfaatkan situasi genting. Adegan ini pun mengingatkan aksi Farmer  melindungi Marron dalam film The Bodyguard.
 
Film berdurasi sekitar 2 jam disutradarai Patrick Hughes dan skenario ditulis Tom O’Connor ini, sarat dengan adegan yang menegangkan bahkan  menebarkan kelucuan yang pecah dan kisah romantis anomali. Dalam gaya flashback keromantisan ala Kincaid dengan istrinya, Sonia (Salma Hayek), divisualkan melalui sisipan bernuansa 1980-an berkat lagu Hello (Lionel Richie/1983) dan I Want to Know What  Love Is (Foreigner/1984), Pun kekakuan cinta Bryce dengan Amelia, yang kerap diolok Kincaid selama petualangannya menuju Amsterdam.
 
Selain baku tembak, ledakan bom, kebut-kebutan kendaraan, dan adegan kelahi yang tak dijumpai dalam film serupa, film ini pun mencoba melengkapinya dengan humor  gap generation khas gaya  Ryan Renolds dan Samuel L. Jackson. Inilah kekuatan peran mereka dalam meramu kelakar saling ejek, yang tak berkesudahan, tapi mampu memicu derai tawa.  Jika begitu, tak berlebihan, film ini sebagai tontonan sambil mengunyah pop corn sungguh menghibur.


(Ius Artanto/IM)
MUSTPEAK